Jatuh Bangun Jadi Kutu Loncat demi Karier yang Lebih Baik

Endah Wijayanti24 Apr 2019, 10:30 WIB
kutu loncat

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: A - Kota W

Kutu loncat identik dengan seseorang yang suka berpindah pekerjaan dalam waktu singkat. Saya termasuk dari sekian banyak kutu loncat di dunia.

Bagaimana tidak. Selama berkarier, saya sering berpindah-pindah perusahaan. Karier pertama setelah lulus kuliah adalah sebagai jurnalis di salah satu perusahaan media massa besar di Jawa Timur. Saya sangat bangga karena ini adalah pekerjaan impian.

Sayangnya, hanya sembilan bulan saya bertahan di sana. Karena tidak terima dengan perkataan bos, saya resign tanpa memiliki pekerjaan.

Alhasil selama tujuh bulan saya menganggur. Namun, dengan bekal ilmu meliput dan menulis di perusahaan sebelumnya, saya melamar menjadi wartawan freelance di sebuah majalah rohani. Walaupun hasilnya tidak banyak, tetapi bisa memberi pemasukan.

Karena orang tua menginginkan saya kembali bekerja di perusahaan bukan sebagai freelancer, saya pun kembali mengirim puluhan surat lamaran. Saya mencoba melamar di hotel, media cetak, dan perusahaan lain. Saya menerima beberapa panggilan kerja. Ada juga tawaran dari saudara untuk menjadi administrasi di klinik milik kenalannya. Namun karena saya kekeuh masih ingin berkarier sebagai wartawan, saya menolak.

Saya kemudian bekerja di sebuah media cetak di Yogyakarta atas tawaran dari seorang kenalan. Walaupun gaji tak sebesar sebelumnya, saya bahagia karena suasana kerja yang nyaman. Namun yang menjadi halangan adalah saya tidak mengendarai sepeda motor. Angkutan umum pun terbatas. Saat itu belum ada ojek online.

Selain itu, ternyata perusahaan ini dibuat untuk “mengancam” perusahaan yang sudah ada sebelumnya untuk kembali dengan manajemen yang membawahi perusahaan tempat saya berakarier. Akhirnya kedua perusahaan pun merger, dan ada rasionalisasi karyawan.

Saya termasuk salah satu karyawan yang akan dirasionalisasi. Muak dengan sistem perusahaan dan keinginan untuk berkembang membuat saya memutuskan untuk resign.

Karier selanjutnya masih sebagai jurnalis media cetak. Kali ini di perusahaan media cetak besar di Jakarta. Namun karena saya tidak bisa memenuhi tuntutan kerja, kontrak saya tidak diperpanjang.

 

Mencoba Sesuatu yang Lain

jenuh kerja
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Saat itu, saya ingin mencoba sesuatu yang lain, yaitu bekerja kantoran setelah sekian lama bekerja di lapangan. Puluhan surat lamaran kerja saya kirimkan. Ada beberapa panggilan, tetapi tidak ada yang nyantol. Walaupun saya punya bekal ilmu meliput dan menulis dari pekerjaan sebelumnya, tetapi saat itu saya benar-benar tidak ingin menggunakan kemampuan saya sebagai freelancer. Saya ingin bekerja kantoran.

Selama setahun menganggur, saya bukan hanya jenuh dan putus asa. Saya juga sering ribut dengan orang tua yang menginginkan saya bekerja tanpa pilih-pilih. Kunjungan saudara dari luar kota membawa angin segar. Saya ditawari bekerja di toko miliknya di kota besar di Jawa Tengah. Saya mengiyakan walaupun gaji yang diberikan jauh dari ekspektasi.

Bekerja di toko membuat saya berpikir bahwa sebagai lulusan sarjana tidak seharusnya saya bekerja di toko. Pertemuan dengan seorang teman masa kuliah membuka pemikiran bahwa seorang sarjana tidak harus bekerja di perusahaan besar. Teman saya juga bekerja di sebuah toko milik pamannya.

Walaupun begitu saya merasa tidak betah bekerja di toko milik saudara itu. Bos yang banyak maunya, pekerjaan di luar job desc, gaji yang tidak mencukupi, dan tidak adanya teman di perusahaan membuat saya kesepian. Teman-teman kos punya kesibukan sendiri, sementara saya belum menemukan komunitas yang cocok. Hal itu membuat saya mudah sakit. Sementara, bos tidak pernah memberi biaya pengobatan tetapi justru marah-marah saat saya sakit.

Selama bekerja di sanalah saya kembali menemukan bahwa passion saya adalah menulis. Saya keluar dan kembali bekerja di sebuah toko di kota saya sambal menulis freelance untuk media rohani. Pekerjaan yang padat, melelahkan, dan tanpa hari libur di toko itu membuat saya tidak punya waktu luang untuk menulis. Saya pun keluar dari pekerjaan itu.

Kembali ada seorang teman orang tua yang menawari saya bekerja di hotel miliknya. Saya bekerja sebagai front office (FO). Awalnya semua membahagiakan, tetapi entah mengapa rekan-rekan di FO seolah tidak menganggap saya ada. Bahkan ada seorang rekan, sebut saja T yang sering memarahi saya di depan tamu, dan tidak mengizinkan saya menggunakan komputer kantor. Saya juga pernah tidak boleh menulis bill di depan tamu. Mungkin karena saya anak titipan bos mereka berpikir bahwa saya adalah mata-mata, sehingga mereka mem-bully saya.

 

Berganti Pekerjaan

pengalaman kerja
Suka duka membangun karier./Copyright shutterstock.com

Stres bekerja membuat saya melakukan kesalahan. Bos memindahkan saya bekerja di divisi restoran. Pekerjaan yang berat membuat saya kembali resign. Saya yakin dengan kemampuan menulis saya bisa memperoleh penghasilan.

Sambil menulis, saya juga berkarier sebagi penyiar radio, sesuatu yang saya takuti selama ini. Kini sudah empat tahun saya berkarier sebagai penyiar radio. Pekerjaan ini membuat saya nyaman, tak banyak tekanan.

Walaupun tidak banyak tekanan, tetap ada saja kendala. Karena saya berkarier di radio komunitas tanpa pemasukan dari iklan, ada kalanya saya harus libur cukup lama bila radio mengalami gangguan dan harus diperbaiki. Runtuhnya media cetak juga membuat saya kehilangan lahan menulis. Saya pun mencoba menulis di media online. Itu artinya saya harus belajar kaidah-kaidah menulis di media online.

Kini saya kembali belajar ilmu baru yang tidak pernah saya kenal sebelumnya. Berawal dari ikan-ikan peliharaan yang berkembang biak, saya belajar beternak ikan hias. Mentornya adalah kekasih yang sudah menguasai ilmu breeding ikan hias.

Dari pengalaman jatuh bangun berkarier, saya belajar bahwa kita bisa kapan saja kehilangan karier entah karena kesalahan sendiri ataupun karena jatuhnya perusahaan. Yang terpenting kita terus meng-upgrade ilmu dan kemampuan serta terbuka dengan ilmu apapun sekalipun tidak sesuai dengan keinginan kita. Karena bisa jadi hal yang tidak kita sukai justru menjadi rezeki bagi kita.

 

Lanjutkan Membaca ↓