Beratnya Pekerjaan Tetap Dilakoni Selama Bisa Memberi Manfaat

Endah Wijayanti26 Apr 2019, 12:22 WIB
guru di pulau

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: Yosi Marantika - Batam

LASKAR GURU PULAU

Hati begitu riang dan bahagia ketika pagi ini membaca pengumuman di sebuah koran lokal. Tertera jelas namaku di sana. Begitu banyak rasa syukur kuucapkan. Akhirnya SK CPNS kuterima juga. Aku ditugaskan di SMPN 15 Batam. Tak kupikirkan di mana aku bertugas yang penting lulus dulu.

Setelah semua administrasi terselesaikan. Aku baru bertanya di manakah letak sekolah tempatku bertugas. Ternyata aku mendapatkan sekolah di hinterland. Ini berarti aku harus menyeberang lautan setiap hari.

Hari pertama bertugas. Kurasakan begitu berat perjalanan yang harus kulalui setiap hari. Berangkat dari rumah menuju ke pelantar memakan waktu sekitar 1 jam. Setelah sampai di pelantar aku harus naik pompong menyeberang laut sekitar 45 menit. Akhirnya sampailah ke tempat tujuan. Di sebuah pulau kecil mungkin hanya dihuni sekitar 60 kepala keluarga saja. Sesampai di pulau, bangunan sekalipun belum nampak. Aku harus berjalan kaki lagi sekitar 30 menit mendaki bukit di sekitar pantai untuk sampai ke sekolah. Ini perjalanan yang melelahkan.

Namanya Pulau Air Raja. Sebenarnya pemerintah sangat memerhatikan pendidikan di pulau ini. Terlihat dari bangunan sekolah yang sudah sangat layak. Perumahan guru pun disediakan. Di sinilah tumbuh rasa dilema. Apakah aku harus tinggal di perumahan guru tapi terpisah dari keluarga atau aku harus berkorban tenaga dan waktu pulang pergi setiap hari dengan jarak tempuh yang begitu jauh? Setelah berpikir lama akhirnya aku memutuskan untuk mengorbankan tenaga dan waktu. Karena aku seorang istri dan ibu tentu sangat dibutuhkan juga di rumah.

 

Berjuang demi Kebaikan

anak didik
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Waktu terus berlalu begitu banyak pengalaman yang aku dapatkan. Anak-anak di pulau kesadaran belajarnya masih sangat kurang. Sarana dan prasarana sangat terbatas. Tidak ada tempat les untuk menambah pengetahuan bahkan listrik saja belum masuk sehingga mereka selalu punya alasan untuk tidak mengerjakan tugas dari guru. Di malam hari sebagian anak membantu orang tua mencari cumi, udang, dan ikan sehingga ketika datang ke sekolah mereka malas belajar bahkan tertidur di dalam kelas. Inilah sebuah tantangan bagaimana menarik minat untuk belajar yang lebih serius lagi demi masa depan mereka. Karena pendidikan sangatlah penting.

Jika musim hujan kami akan basah kuyup sampai ke sekolah. Apalagi kalau lagi musim utara tiba. Gelombang begitu besar rasanya takut tak bisa diungkapkan. Saling bergenggam tangan dengan teman sejawat saling menguatkan agar ada rasa sedikit tenang dan berdoa agar diberi keselamatan sampai tujuan itu yang hanya bisa dilakukan.

Jika musim kering tiba. Lain lagi ceritanya. Kami para guru laskar pulau harus turun di tengah pantai. Sehingga rok atau celana basah semua. Karena air laut surut, pompong yang kami tumpangi tidak bisa bersandar di tepi pelantar.

Tahun berganti tahun. Tak terasa aku bertugas di sana telah memasuki tahun ke-7. Begitu banyak pengalaman yang kudapatkan mungkin tidak dialami oleh guru mainland. Ini akan menjadi kenangan dan cerita hidup yang tak tergantikan.

Lanjutkan Membaca ↓