Nestapa Bekerja sebagai "Orang Luar" di Perusahaan Keluarga

Endah Wijayanti26 Apr 2019, 13:33 WIB
Diperbarui 26 Apr 2019, 13:33 WIB
nestapa

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: Aiva Kiosco - Jakarta Utara

Hai, nama aku Aiva dan bila bicara mengenai pekerjaan sekarang aku bekerja di salah satu perusahaan swasta di bilangan Jakarta Utara. Perusahaan tempat aku bekerja bergerak di bidang impor dan aku bekerja di bagian Administrasi Impor. Kalau aku flashback ke sebelas tahun yang lalu, sebagai anak yang hanya lulusan dari Sekolah Menengah Kejuruan di salah satu kota di Jawa Tengah. Rasanya sulit menggapai pekerjaan yang sekarang ini aku jalani dan bisa dibilang ini adalah pekerjaan impian aku. Namun, aku tak tahu bila ternyata di balik pekerjaan impian aku ini, ada nestapa yang harus aku hadapi.

Aku mulai bekerja di tempat kerjaku yang sekarang ini dari bulan Desember 2012, artinya sudah enam tahun lebih aku bekerja di tempat kerjaku ini. Baik manis maupun pahitnya dalam bekerja sudah kutelan. Namun di tahun ke-5 aku bekerja di tempat kerjaku, aku sudah mulai merasakan kejenuhan, bukan kejenuhan karena pekerjaan aku monoton. Bukan juga karena bos aku yang menekan aku, karena bosku cukup baik. Tapi kejenuhan aku itu muncul karena perlakuan karyawan-karyawan lain di tempatku bekerja. Tidak semua karyawan di tempatku bekerja menyebalkan, ada sebagian kecil yang mungkin bisa dibilang senasib denganku.

Tempatku bekerja memang sebuah perusahaan keluarga, ada yang paham maksud aku tentang perusahaan keluarga? Oh iya sebelum kulanjutkan, perlu dicatat bahwa aku bukanlah salah satu keluarga dari pemilik perusahaan tempatku bekerja ini alias orang luar. Mungkin itu yang membuatku lebih sering terkena masalah dan kerap kali menjadikan aku kambing hitam padahal kan aku tidak hitam (hahaha, intermezzo).

 

Banyak Sekali Masalah

Ilustrasi bekerja
Ilustrasi. Sumber foto: unsplash.com/Tyler Franta.

Banyak sekali masalah yang aku hadapi di tempat kerjaku ini, mulai dari masalah pekerjaan sampai masalah pribadi yang jadi bahan pergunjingan karyawan-karyawan yang kurang kerjaan di tempat kerjaku. Semuanya tercatat jelas di pikira ku, yang membuatku akhirnya tak tahan dan mulai bersikap dingin pada karyawan-karyawan yang sering menggunjingkan hal yang sebenarnya tak perlu dibicarakan di tempat kerja.

Awalnya aku adalah karyawan yang ramah, ceria, dan tak segan menawarkan bantuan kepada karyawan lain walaupun aku sendiri sedang banyak kerjaan. Dimulai dari salah satu karyawan yang merupakan adik ipar bosku yang membahas nama anakku. Katanya nama kok dibuat dari singkatan nama Papa Mamanya, nggak jelas banget. Hello... itu kan anak aku, yah terserah aku dong mau kasih nama apa, bukan urusan dia juga kan.

Banyak juga masalah yang adik ipar bosku ini ciptakan yang cukup mengurus tenaga dan emosiku. Tapi tetap aku berusaha agar pekerjaanku tidak terganggu olehnya. Lain lagi dengan seniorku (masuk kerja duluan 2 bulan dibanding aku), sungguh amat sangat sulit bekerja dalam satu tim dengan dia. Karena sifatnya yang selalu menilai orang negatif (kecuali dirinya sendiri) dan sikapnya yang tidak ramah dengan orang lain termasuk aku.

Bahkan terhadap bos pun sikapnya buruk, tapi entah kenapa bos masih memperkerjakannya. Padahal kerjanya berantakan, bila ada sesuatu yang baik dia selalu mengaku kalau dia yang mengerjakan dan bila ada sesuatu yang buruk, pasti kalian bisa menebak siapa yang akan disalahkan? Yup benar sekali, aku lah orang yang akan selalu disalahkan.

Berusaha Bertahan

Bekerja
Bekerja/unsplash

Ada pula Manajer HRD ku yang amat sangat ajaib, karena bila aku atau karyawan yang senasib denganku mengajukan cuti dia akan menanyakan hal yang sangat mendetail. Atau bila sakit dan tidak masuk bekerja, dia akan mengatakan sudah banyak uang ya makanya tidak masuk padahal alasannya sudah jelas dan ada surat dokternya. Atau bila sedang bekerja kemudian minta izin pulang cepat karena ada keluarga sakit, dia mengatakan lain kali ke dokternya malam saja atau dia bisa saja mengatakan hal-hal yang tidak patut dikatakan.

Pernah sekali waktu aku berbicara jujur kepada bosku mengenai semua yang kualami dalam pekerjaan ini, tapi beliau hanya mengatakan kalau aku harus sabar dan tetap berpikir positif. Sering pula aku bercerita kepada suamiku mengenai nestapa yang kualami selama bekerja, dan dia selalu mengatakan belajarlah bersabar dan inilah tantangan bekerja dalam perusahaan keluarga. Jujur awalnya aku memang tidak ikhlas, tapi kemudian aku mulai berpikir jernih dan kembali ingat bahwa aku memang mencintai pekerjaan yang aku jalani sekarang dan pekerjaan ini memang impian ku.

Walaupun orang-orang di sekitarku selalu membuat masalah-masalah baru untuk terus menerpaku, namun akan kubuktikan kepada mereka semua kalau aku mampu melewatinya karena ini memang pekerjaan yang amat sangat kucintai dan kuimpikan.

Lanjutkan Membaca ↓