Untuk Mendapat Pekerjaan Terbaik, Kadang Harus Melewati Lika-liku Panjang

Endah Wijayanti28 Apr 2019, 14:04 WIB
lika liku dokter

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: V - Jakarta

Saya adalah seorang pekerja di bidang kesehatan, boleh dibilang posisi dan karier yang saya tempuh dari mulai saya lulus kuliah kedokteran umum 11 tahun lalu hingga profesi terakhir saat ini tidak pernah sama sampai saat ini. Banyak drama, pasti. Banyak sinetron mengurai air mata, jelas. Banyak peran antagonis hilir mudik lalu lalang, tidak terbantahkan. Jelas semua ada dan lengkap seiring dengan perjalanan karier saya.

Alhamdulillah poin yang paling saya syukuri hingga saat ini adalah saya tidak pernah kesulitan dalam mencari pekerjaan. Saya termasuk orang yang tidak pilih-pilih dalam bidang kerja, bagi saya semua punya tantangan tersendiri dan dapat menjadi booster ilmu selain hanya ilmu medis saja.

Pekerjaan saya diawali dengan profesi dokter umum yang notabene karena baru lulus, belum ada pengalaman bekerja seperti yang umumnya terjadi mencari klinik-klinik swasta yang mau menerima dokter jaga 24 jam. Tentu dengan konsekuensi hanya mendapatkan honor harian sesuai kedatangan, jasa medis tiap kali pasien diperiksa, tanpa tunjangan dan asuransi perlindungan apapun untuk dokter. Pekerjaan ini saya jalani di 1-2 tahun awal paska kelulusan saya. Semakin banyak pasien, maka makin gembiralah kami walaupun jam kerja kami benar-benar jauh dari kenyamanan tempat tidur di malam hari.

Sampai pada akhirnya, suatu rumah sakit swasta memanggil saya untuk bekerja. Secara kebetulan rumah sakit ini berada sangat dekat dengan tempat tinggal saya, bisa berjalan kaki dari rumah.

Di rumah sakit ini saya bekerja selama 2 tahun kurang berawal dari dokter marketing. Ya, saya mencoba hal yang baru dalam ranah kesehatan. Menurut HRD dan direktur yang menginterview saya saat itu, mereka bilang saya cocok bekerja di area marketing bagian komunitas karena penampilan saya dan gaya bicara saya yang dianggap sesuai untuk bisa lebih menarik pelanggan untuk memilih rumah sakit ini. Bagi saya, hal itu menjadi sugesti tersendiri yang akhirnya saya mengiyakan tawaran tersebut.

Tidak sampai 4 bulan, HRD kembali memanggil saya dan menawarkan saya untuk pindah posisi menjadi dokter jaga ruangan, yang katanya saat itu sedang vacant. Saya pun langsung menerima posisi tersebut, tidak sampai 1 tahun, saya kembali saya ditawarkan menjadi dokter jaga IGD di rumah sakit tersebut, dan kesempatan ini juga saya langsung mengambilnya.

Semua pekerjaan di profesi ini saya kerjakan dengan semangat, dalam beberapa bulan saja saya masuk dalam posisi dokter umum dengan pasien terbanyak dan dinilai cukup berkontribusi dalam peningkatan volume pasien rumah sakit.

Mungkin keuntungannya salah satunya karena tempat tinggal saya cukup dekat, dan banyak kenalan dan tetangga yang berobat ke rumah sakit itu. Mungkin saja. Namun ada kalanya segala yang positif ini tidak selalu berpihak pada kami sebagai dokter di garda depan pelayanan.

Perubahan

ilustrasi dokter
ilustrasi.(Foto: Pexels.com/Raw Pixel)

Pergantian direktur medis membuat kami kocar-kacir karena perbedaan gaya kepemimpinan, serba pemaksaan tanpa paham bahwa kami bekerja sudah sangat kelelahan di IGD, meminta untuk terus menerus membujuk agar pasien mau dirawat, sekalipun minim indikasi, seketika kami tidak lagi merasa nyaman bekerja.

Anehnya, volume pasien bukannya semakin naik, malah justru berada di titik drop di rumah sakit ini. Terjadilah demonstrasi kami para dokter umum, namun sebaliknya bukan solusi baik yang kami dapatkan, tanpa pemberitahuan kami di nonaktifkan, dan dengan cepat sudah dihadirkan dokter pengganti kami yang diambil sementara dari rumah sakit cabang satunya yang masih satu grup.

Dampak ini berujung dengan penyelesaian ketidakadilan hingga ke Disnaker. Lama kelamaan dengan proses ini, kami lelah karena kami juga harus bekerja karena kami memiliki keluarga yang harus hidup dan berjalan.

Beruntungnya saya, masih dalam proses ini, saya mencari lowongan pekerjaan di tempat lain, dan tidak lama sudah bekerja kembali di rumah sakit swasta lainnya. Di rumah sakit ini saya bekerja sebagai manager marketing internal rumah sakit, belajar dari pengalaman pernah memegang marketing komunitas rumah sakit, saya mengembangkan ilmu saya kembali di area-area selain komunitas.

Bagian yang saya pegang meluas dan cukup menjadi hal baru yang sedikit tidak berhubungan dengan pasien. Di bagian ini saya memegang kegiatan pembuatan promosi rumah sakit, menjalin kerja sama dengan perusahaan yangberminat untuk memiliki klinik perusahaan, melakukan supervisi area admission dan customer service. Kalau boleh jujur, di awal saya blank dengan pekerjaan ini, apalagi dengan tanpa background pendidikan yang sesuai di bidang- bidang tersebut. Namun bagi saya, hidup harus tetap berjalan, perluasan ilmu harus tetap dituntut hingga paham bagaimana menjalani pekerjaan dengan baik. Saya belajar dari teman sekerja yang tidak seprofesi namun paham, saya juga surf melalui internet, dan saat itu menggunakan trial and error untuk produk dan konsep yang saya rencanakan.

Lain ladang, lain ilalang, ada juga drama yang terjadi di rumah sakit ini. Perseteruan antar direktur membuat keberpihakan konsep kerja menjadi ikut terbawa-bawa. Saya yang saat itu bekerja berada di bawah direktur umum, diminta untuk selalu melaporkan pekerjaan saya juga ke direktur bidang lain, dan persetujuan konsep yang tadinya vertikal hanya kepada atasan saya, menjadi dispute harus mendapatkan persetujuan 3 direksi lainnya, seklaipun perencanaan itu hanya promosi sederhana. Satu saja direksi tidak setuju, maka produk tidak boleh rilis. Hal ini sudah seperti menjadi titik puncak sentimen pribadi antar direksi, saya tidak merasa dihargai apapun ide dan konsep saya, maka saya putuskan untuk mundur dan tidak melanjutkan lagi bekerja di rumah sakit ini.

Tidak lama kemudian, saya ditawari oleh teman saya bahwa salah satu di rumah sakit swasta direkturnya membutuhkan manajer dalam persiapan akreditasi rumah sakit. Ternyata lucunya, direktur tersebut adalah adik sepupu dari mertua saya, akhirnya berbekal nama mertua saya, saya datang menghadap langsung ke bapak direktur itu, dan tanpa interview apapun, saya langsung diterima dan diminta mulai bekerja di minggu depannya.

Dalam beberapa hari selama masih belum bekerja, saya coba pelajari mengenai apa dan bagaimana akreditasi rumah sakit itu. Awalnya berat, karena bahasanya terlalu bahasa formal, legal atau apalah, yang tidak mudah dicerna begitu saja. Jauh sekali dari ilmu medis, jauh sekali dari ilmu melayani keluhan pelanggan ataupun produk promosi rumah sakit. Dan, benar saja di awal-awal masa kerja, saya seperti berada di hutan belantara dengan segala tata bahasa yang begitu formal, tugas utama saya kali ini adalah menjadi pabrik dalam urusan alur kerja di setiap bidang rumah sakit, menjadi polisi pada implementasi pekerjaan di semua bidang rumah sakit.

Cukup kompleks dan seperti berasa cepat tua karena hanya mengurus dokumen-dokumen krusial dalam upaya menjadi rumah sakit yang terstandar. Sampai akhirnya, sayapun malah tepacu untuk mengambil sekolah S2 manajemen. Dan dalam perjalanannya rumah sakitpun mendapat gelar predikat rumah sakit terakreditasi paripurna. Selesai pula tugas saya di tempat ini.

Mungkin rumah sakit ini walaupun hanya setahun lebih beberapa bulan saya di sini, bersyukur sekali ilmu yang saya dapat bagi saya super knowledge booster banget. Saya jadi paham mengenai banyak hal dalam manajerial di rumah sakit, bagaimana menjaga keselamatan pasien dan tetap memiliki mutu dalam pelayanan, sampai dengan mencari solusi dalam permasalahan tanpa menjatuhkan satu sama lain. Hal yang belum pernah saya dapatkan di rumah sakit sebelumnya adalah saya jadi tidak mudah emosi tiap kali mengalami ketidaksesuaian yang terjadi dalam pekerjaan saya.

Terus Belajar

pedalaman
Ilustrasi./Copryight shutterstock.com

Kemudian saya berpindah ke rumah sakit swasta lainnya, kali ini melalui proses dan tahapan wawancara normal, dan alhamdulillahnya saya juga langsung diterima. Uniknya di tempat ini, dengan background pekerjaan saya yang tidak pernah sama, mereka menawarkan saya opsi beberapa posisi.

Akhirnya untuk permulaan saya memilih sebagai manager pelayanan medis, yang kebetulan diperbolehkan juga untuk berpraktik di polikliniknya. Artinya saya bisa kembali menjalani profesi dokter dan dapat sekaligus bekerja di manajerialnya. Bekerja di rumah sakit ini, karena rumah sakit belum ada 1 tahun grand opening, manajemennya masih meraba-raba bagaimana menjalankan tata kelola yang ideal. Di sinilah saya merasa mendapat suatu kesempatan besar untuk dapat mengembangkan ide dan konsep manajerial yang terbaik, belajar dari pengalaman mengelola akreditasi rumah sakit sebelumnya.

Alhamdulillah semua hal perencanaan menuju rumah sakit yang ideal, pelan-pelan tercipta. Tim manajemen dan direksi sampai CEO korporat sangat luar biasa mengapresiasi perubahan ini. Setahun bekerja, sayapun diminta untuk menjadi Deputy GM (wakil direktur operasional) rumah sakit ini. Pasti sudah bisa menebak, ya saya langsung menyatakan bersedia. Di saat itu pun seiring dengan selesainya saya pendidikan S2 manajemen, saya melanjutkan mengambil S2 administrasi rumah sakit.

Kalau awal-awalnya saya menyukai otodidak, namun makin ke sini, makin pekerjaan saya menantang saya untuk lebih luas wawasan, maka saya tidak lagi hanya mau bergantung pada ilmu otodidak yang takut-takut ternyata bisa juga menyesatkan. Selama saya menjabat, bidang kerja saya semakin meluas, dan saya semakin fokus pada ilmu yang pernah saya dapat. Walaupun saya semakin paham juga, bahwa tidak akan ada yang ideal.

Apa yang bikin saya tidak nyaman di tempat ini. Lagi-lagi urusan dengan atasan. Kali ini saya tidak sepaham dengan atasan yang masih memegang blaming culture, turn over pegawai begitu tinggi tidak sampai satu tahun. Setiap kesalahan, selalu ada konsekuensinya, tanpa dinilai akar masalahnya apa dan bagaimana agar tidak terjadi lagi.

Masukan saya kepada GM, atasan saya, tidak terlalu penting didengar. Ujung-ujungnya keputusan otoriter mutlak di tangan dia. Saat melihat seperti ada kecemburuan atasan saya ini karena saya sering mendapat apresiasi baik dari CEO korporat. Entah atau mungkin takut posisinya terlibas oleh saya, namun saya sendiri bukan orang yang gila posisi tinggi.

Lika-liku Mendapat Pekerjaan Terbaik

[Bintang] Tarot Hari Ini: Tips untuk Kamu yang Ingin Resign
Ilustrasi. (Sumber foto: unsplash.com)

Sampai akhirnya suatu waktu, perusahaan multinasional yang menguasai segmentasi laboratorium terbesar se-Indonesia, mulai melirik saya. Beberapa kali mereka mengundang saya untuk diskusi, akhirnya mereka meminta saya untuk bekerja menjadi ekspertise regulasi klinis di perusahaan itu. Karena perusahaan ini akan mengembangkan bisnisnya tidak hanya di laboratorium saja, namun menjadi pelayanan kesehatan termodern dan terintegrasi yang non rumah sakit.

Awalnya saya sempat berpikir ulang, walaupun bidang yang saya semangat adalah hal ini, namun ini adalah ilmu baru lagi untuk saya. Selama ini saya bekerja di rumah sakit, dari bawah, dari hanya dokter garda depan, hingga di top level manajemen. Namun tempat ini menawarkan hal yang beda lagi. Pernah saya melontarkan kalimat ke HRD perusahaan ini, bahwa saya lebih menyukai belajar dulu sebelum saya membuat kekacauan di pekerjaan saya, HRD itu malah tertawa dan spontan bilang kalau saya justru cocok banget kerja di sini, karena tempat ini menjadi salah satu tempat belajar bagi banyak orang.

Akhirnya keputusan saya menerima untuk bekerja di perusahaan ini. Bersyukur sekali saya tempat ini menerima saya dengan sangat baik, saya memiliki atasan direksi yang sangat netral dan openminded terhadap hal-hal yang baru diketahui dan kemungkinan bisa dierapkan di perusahaan ini. Ada belasan jenjang karier di perusahaan ini, dan sangat menjanjikan dari segi secure-nya. Artinya banyak sekali karyawan yang betah kerja hingga ada yang sudah bekerja selama 27 tahun di tempat ini, wah bagi saya ini luar biasa.

Setelah beberapa kali pindah pekerjaan, tempat seperti inilah yang ingin saya nikmati dengan optimis hingga pensiun nanti, semoga.

Lanjutkan Membaca ↓