Taklukkan Semua Batu Loncatan, maka Karier Terbaik Bisa Didapatkan

Endah Wijayanti29 Apr 2019, 10:47 WIB
guru di sby

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: Novita Prima - Surabaya

“Cita-citanya ingin jadi apa?”

"Nggak tahu, Bu.”

“Lho kok!?”

“Mau jadi orang yang berguna saja, Bu.”

Begitulah selalu jawaban yang terlontar dari mulut saya saat ibu guru di sekolah bertanya perihal cita-cita di masa depan. Klise memang jawaban tersebut, rata-rata anak sekolah akan menjawab demikian untuk cari aman dan berhentilah pertanyaan. Sampai saat memasuki bangku kuliah pun saya belum tahu nanti mau jadi apa, saya tidak punya cita-cita. Tujuan hidup paling dekat pada waktu itu adalah segera mendapat pekerjaan pada tahun kedua perkuliahan atau tepatnya pada semester ketiga. Ibu saya sudah berpesan sebelumnya bahwa beliau hanya bisa memodali saya untuk masuk kuliah dan membiayainya sampai semester dua saja.

Singkat cerita, saya berhasil mendapat pekerjaan tepat sebelum masuk semester tiga, saat libur semester sebuah perusahaan jasa di bidang ekspedisi menerima saya bekerja sebagai staf administrasi. Setelah itu otomatis dua status saya sandang sekaligus: sebagai mahasiswi dan karyawati.

Pagi hingga sore hari saya habiskan di kantor ekspedisi, membuat surat jalan untuk berbagai paket yang akan dikirimkan, membuat manifes harian, menyiapkan berkas-berkas lain yang diperlukan untuk keperluan penerbangan paket barang, seringkali saya juga ikut membantu para kurir dan karyawan serabutan mempersiapkan paket untuk kemudian diangkut ke dalam mobil box ekspedisi. Sore hingga malam hari, saya menenggelamkan diri pada kegiatan perkuliahan.

Genap setahun menjadi staf administrasi di kantor ekspedisi, saya mengundurkan diri karena mendapat pekerjaan dengan gaji lebih tinggi. Selama 3,5 tahun kuliah sambil bekerja, sudah lima kali kantor tempat kerja saya berganti. Mulai dari kantor ekspedisi, distributor perlengkapan IT, perusahaan perakitan kendaraan, politeknik kesehatan, hingga yang terakhir adalah perusahaan suku cadang kendaraan bermotor. Pada semua tempat itu, posisi saya adalah sama, sebagai staf administrasi.

Berpindah-pindahnya saya dari satu kantor ke kantor lain semata-mata menyesuaikan dengan kebutuhan hidup dan biaya perkuliahan, saat saya rasa gaji tidak mencukupi, saya langsung gerak cepat untuk mencari pekerjaan dengan standar gaji yang lebih tinggi. Tak dapat dipungkiri, saat itu kerja semata-mata hanya untuk memenuhi biaya hidup dan perkuliahan saja. Setiap pekerjaan memang saya lakoni dengan sepenuh hati dan dedikasi tinggi, tentu saja karena saya tidak ingin hasil yang rata-rata, namun entah mengapa sebaik apapun pekerjaan telah terselesaikan, jauh di lubuk hati saya tak merasakan ada getaran kepuasan maupun kebahagiaan karena telah menuntaskan pekerjaan. Datar. Semuanya biasa saja. 

 

 

 

 

Mengajar

guru di pulau
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Sebelum memasuki masa akhir perkuliahan, seluruh mahasiswa dan mahasiswi di Fakultas Bahasa dan Sains wajib menyelesaikan Program Praktik Lapangan (PPL) di sekolah yang telah ditunjuk oleh masing-masing jurusan. Saya ditempatkan di sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) swasta di Surabaya Selatan.

Awal mengajar perasaan gugup, deg-degan, dan bingung nanti mau ngomongin apa di depan kelas bercampur jadi satu. Rancangan Persiapan Pembelajaran (RPP) memang telah saya buat, di sana tertulis dengan rinci kegiatan dan materi pembelajaran seperti apa yang akan berlangsung saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), bahkan sebelum mengikuti PPL ini, saya dan teman-teman lainnya harus lulus kelas simulasi atau micro teaching terlebih dahulu. Hal yang tampak mudah jika dibayangkan saja, namun tidak begitu nyatanya.

Empat puluhan pasang mata murid ditambah sepasang mata milik guru pamong yang mengobservasi KBM sukses makin membuat nervous saja, but the show must go on. Segugup apapun saya ketika itu, saya harus mampu menaklukkannya. Dengan kepercayaan diri yang saya penuhkan dan berusaha untuk bersikap sewajarnya serta tak lupa pula untuk meninggalkan kesan sebaik-baiknya pada murid serta guru pamong, akhirnya saya mampu untuk melewati kelas pertama saya. Kelas-kelas selanjutnya saya lewati dengan tantangan yang berbeda, namun jauh lebih mudah berbekal pengalaman sebelumnya.

Dari sekadar kewajiban untuk mengikuti PPL, lambat laun ada rasa yang berbeda ketika saya melakoni pekerjaan ini. Saya rasa saya telah jatuh hati pada profesi guru. Ada rasa yang indah ketika mendengar anak-anak saling bertukar cerita. Terbesit bahagia juga menyaksikan mereka tertawa bersama. Haru sekaligus bangga bila di antara mereka ada yang berkarya dan mencetak prestasi. Terkadang saya tergelak melihat polah mereka. Setiap hari selalu ada cerita. Setiap kesempatan selalu ada tantangan yang berbuah kebanggaan dan kebahagiaan.

Kurang dari satu tahun setelah saya melewati masa PPL, saya memutuskan untuk resign dari posisi staf administrasi di perusahaan terakhir tempat saya bekerja. Alasan utama resign adalah karena saya ingin mencurahkan segenap waktu saya dan lebih berkonsentrasi dalam pengerjaan skripsi.

Menekuni Dunia Pendidikan

anak didik
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Setelah resign saya memilih untuk menjadi guru les privat, alasanya karena saya tetap butuh biaya untuk menyelesaikan perkuliahan dan persiapan untuk wisuda nanti. Dengan menjalani profesi sebagai guru les privat, saya akan lebih mudah membagi waktu bekerja dengan jadwal bimbingan skripsi. Paling tidak seminggu tiga kali saya megajar les privat. Door to door, saya mendatangi setiap rumah orang tua yang memanfaatkan jasa saya untuk mengajar les privat anak-anak mereka.

Jika dibandingkan dengan penghasilan terakhir saat saya bekerja kantoran, hasil yang saya dapatkan dari mengajar les privat masih jauh di bawahnya. Wajar saja karena saya memang baru memulai di bidang ini, murid saya pun baru dua orang saja kala itu. Saya tetap bersyukur berapapun yang saya dapatkan dari mengajar privat, ini adalah hasil dari keputusan yang saya buat sebelumnya. Bagaimanapun juga saya harus bertanggungjawab sepenuhnya atas keputusan yang saya buat.

Konsekuensi dari semua itu adalah saya harus kehilangan hampir dari separuh pendapatan saya dari pekerjaan sebelumnya, namun saya punya banyak waktu untuk menyelesaikan segala kewajiban saya sebagai mahasiswi, dan tentu saja setelah sekian waktu berlalu, ada rasa indah yang menggelayut di dada semakin lama semakin bertambah. Saya mencintai profesi ini.

Atas saran dari ibu, sekitar tiga bulan setelah yudisium saya melamar kerja di sebuah lembaga kursus bahasa di Surabaya, lembaga kursus bahasa ini cukup mentereng mengingat lokasinya yang berada di dalam sebuah gedung perkantoran ternama di Surabaya Selatan. Setelah melalui serangkaian tes dan wawancara, akhirnya saya diterima bekerja.

Kelas pertama yang saya ajar adalah kelas anak-anak dengan rentang usia 10 – 12 tahun, kelas dimulai saat sore hari. Sebagian besar kelas yang saya ajar di sini memang dimulai sore dan berakhir hingga malam hari, mengingat pagi hingga sore hari adalah waktu anak-anak menghabiskan waktu di sekolah dan para pekerja sedang berada pada working hours mereka. Kelas terakhir di kursus kami usai pada pukul sembilan malam.

Di luar dugaan saya, karier saya melaju cepat di sini. Pimpinan saya memberikan banyak kesempatan untuk berkembang. Saya yang semula hanya mengajar di kelas Basic English for Kids, lambat laun diberikan tanggung jawab lebih untuk mengajar kelas yang bervariasi; mengajar kelas remaja, anak kuliahan, hingga para pekerja.

Saya pun berkesempatan untuk mengajar program In House Training (IHT). Melalui program IHT, kursus tempat saya bekerja menugaskan guru-gurunya untuk mengajar di perusahaan atau lembaga yang membutuhkan training khusus untuk pegawainya dalam bidang bahasa. Mulai dari perusahaan swasta hingga milik pemerintah juga rumah sakit hingga stasiun televisi lokal pernah memakai jasa IHT dari kursus kami.

Menemukan Karier yang Dicintai

kepribadian
ilustrasi.Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash

Di sela kegiatan mengajar saya di kursus bahasa, saya juga mengajar di sebuah Sekolah Dasar swasta di daerah Surabaya Utara sebagai guru inval, selama satu semester saya mengajar di sana. Seminggu dua kali saya mengajar di sekolah tersebut. Sebagai seorang guru tentu saja saya menginginkan dapat mengajar di sebuah institusi formal, yaitu sekolah. Di kursus bahasa memang saya dapat mengajar seperti layaknya di sekolah, ditambah lagi saya dapat berinteraksi dengan cakupan murid yang bervariasi, namun keinginan untuk berkarier di sekolah sudah tak terbendung lagi. Saya pun memutuskan untuk melamar kerja di sekolah.

Surat lamaran yang saya kirimkan ke beberapa sekolah berbuah panggilan tes dan wawancara kerja. Juli 2009, saya mulai mengajar di sebuah sekolah nasional plus di daerah Surabaya Timur. Awal mengajar di sekolah ini, bukan kesulitan dengan murid-murid yang saya alami, seringkali saya bentrok pemikiran dengan sistem pengajaran yang diterapkan di sini.

Ada beberapa hal administratif kelas yang menurut saya sangat jauh berbeda dengan yang saya pelajari di bangku kuliah, begitu pun juga dengan yang pernah saya praktikkan dan terapakan saat PPL dan mengajar di Sekolah Dasar di daerah Surabaya Utara. Pernah beberapa kali saya mengajukan beberapa contoh perangkat administratif kelas pada pimpinan saya dan menjelaskan apa yang selama ini menjadi pedoman saya dalam menyusunnya, tapi beliau tetap keukeuh dengan versinya. Bukan untuk mencari siapa benar dan siapa yang salah, pada saat itu saya hanya ingin memaparkan bahwa yang saya lakukan juga punya dasar dan dapat dipertanggungjawabkan. Baiklah, mungkin ini sebagian dari shock culture yang saya alami karena masih dalam masa transisi.

Setelah tahun pertama yang penuh dengan penyesuaian juga perjuangan untuk memahami visi dan misi yang diemban sekolah baru ini, tahun-tahun berikutnya saya lalui dengan dedikasi tinggi pada pekerjaan ini. Seringkali murid saya bertanya apa yang membuat saya betah mengajar meskipun dihadapkan pada banyak tantangan, misalnya menghadapi murid-murid yang bandelnya gak ketulungan (itu kata mereka). Saya selalu menjawab bahwa cinta lah yang membawa saya setiap hari tetap ada di hadapan mereka. Selama Tuhan masih memberikan kehidupan, saya akan selalu ada mendampingi dan mendidik generasi negeri ini untuk menjadi manusia berguna dan bermanfaat untuk sesama.

 

 

Lanjutkan Membaca ↓