Loyalitas Tanpa Batas, Tiada Hari Tanpa Kerja Keras

Endah Wijayanti30 Apr 2019, 11:45 WIB
kerja loyalitas

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: RD - Denpasar

Di tengah kesibukan saya membantu usaha katering orang tua dan merawat kedua orang tua yang jatuh sakit sembari juga tetap menjalankan katering agar tidak terputus bukanlah hal yang mudah. Sangat melelahkan sehingga saya melupakan sejenak tujuan utama orangtua yang mengharapkan anaknya setelah menyelesaikan kuliah segera mendapatkan pekerjaan yang bersih di kantoran. Memiliki karier dan bukan bekerja yang menguras fisik seperti usaha yang dijalankan orang tua saya.

Ayah selalu mengingatkan dengan pertanyaan, "Apakah kamu sudah melamar pekerjaan yang sesuai dengan jurusan kuliahmu?" Mendapatkan pertanyaan yang sama berulangkali membuat saya akhirnya berpikir dan menyiapkan ruang baru dalam diri agar bisa segera merealisasikannya. Mulailah saya memilih beberapa lowongan kerja yang ada di harian lokal.

Di awal mulai melamar pekerjaan, saya menetapkan beberapa kriteria dalam pemilihan pekerjaan yang akan saya lamar dengan pertimbangan agar rutinitas katering tetap bisa berjalan beriringan dengan pekerjaan kantoran saya. Pertama adalah memilih pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya tentunya, dan sudah pasti akan lebih mudah menyesuaikan kemampuan diri dalam menguasai pekerjaan tersebut dan juga sangatlah penting bekerja sesuai dengan passion. Saya lulusan Ekonomi dengan jurusan akuntansi tentunya memilih pekerjaan sebagai accounting ataupun bidang yang berhubungan dengan keuangan.

Kedua adalah memilih lowongan kerja yang memberikan kesempatan walk in interview selain saya bisa mengukur jauhnya lokasi kerja dengan tempat tinggal sehingga saya tidak kelelahan selama dalam perjalanan juga mengurangi tingkat stres dengan kemacetan yang sudah biasa terjadi di kota besar. Dengan demikian saat tiba di kantor dengan kondisi tetap segar memberikan efek ketajaman fokus untuk bekerja. Dan kebiasaan saya sih, suka ingin merasakan dulu feel-nya dari lokasi kerja tersebut dengan doa sejenak.

 

Pengalaman Bekerja

Kerja Lembur
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Pengalaman pertama bekerja di sebuah dealer sepeda motor, sudah mendapatkan sebuah pengalaman berharga bahwa terkadang apa yang sudah direncanakan tidak selamanya bisa sesuai dan berjalan mulus. Wow, ternyata tempat kerja cukup jauh, berbeda dengan tempat saat wawancara sekitar 25 km dari tempat tinggal, dengan waktu tempuh 60 menit. Hmmm lumayan namun tetap bersemangat memulainya berkenalan dengan beberapa rekan kerja baru dan orientasi pekerjaan yang dilamar.

Hari kedua dan seterusnya semakin mengenal berbagai karakter rekan kerja dan saya mulai juga belajar mengatur, mengontrol diri agar tidak ikut masuk dalam blok geng yang mereka ciptakan dan bisa memposisikan diri di sudut yang netral. Tidak butuh waktu lama dalam menyesuaikan diri maupun dalam orientasi tugas dari pekerjaan dan saya mampu menguasainya meskipun ada hal-hal baru yang harus saya pelajari. Berjalan hampir setahun mulailah timbul kepenatan dan juga kebosanan.

Sudah menguasai pekerjaan dengan baik dan mengerjakan hal yang monoton membuat saya merasa bosan menunggu waktu pulang. Mulailah kembali saya mencari lowongan kerja yang baru. Ingin mencapai yang lebih baik dan tentunya kembali pada kriteria awal mencari lokasi kerja yang lebih dekat dengan tempat tinggal. Me-review kembali dengan pengalaman bekerja yang pertama, adalah suatu nilai tambah buat pengalaman saya bekerja sebagai bekal memposisikan diri untuk naik satu tingkat. Dan saya memberanikan diri melamar sebagai accounting manager.

Pengalaman kedua sebagai accounting manager di sebuah sekolah swasta yang cukup punya nama tidak membuat saya berhenti belajar. Walaupun sudah punya nama namun ternyata belum memadai dalam hal teknologi di mana semua proses pelaporan masih manual. Hal ini membuat saya merasa tertantang untuk belajar terus dan mulai berpikir mengatur format alur kerja secara keseluruhan. Apalagi ditambah bulan demi bulan owner menambah tanggung jawab dengan usaha-usaha lainnya.

Saya pun menghibur diri, penambahan tugas yang diberikan tidak serta merta juga adanya penambahan reward seperti yang saya harapkan. Tetap berusaha berpikir positif sehingga tidak melemahkan performance. Poin plusnya dari loyalitas itu, saya mendapatkan pelajaran baru dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah terkait komplin orangtua murid. Menerima komplain serta menenangkan amarah mereka merupakan pelajaran baru yang belum pernah saya pelajari khusus.

Teknik yang tidak mudah dan merupakan seni juga agar bisa menguasai keadaan serta mampu menenangkan kemarahan orang lain. Karena diri kita sendiri pun harus lebih dahulu siap dan mampu mengontrol emosi diri agar konflik bisa selesai dengan baik. Win win solution. Tidak terasa sudah empat tahun melaluinya dan review kembali. Memikirkan masa depan yang lebih baik serta biaya kehidupan yang semakin tinggi membuat saya kembali ingin melompat mencari pekerjaan baru. Dan selanjutnya bertambah 2 kriteria lagi dalam standar saya mencari pekerjaan, melihat status perusahaan dan berani bernegosiasi gaji.

Menjalani Sejumlah Peran

Kerja Lembur
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Dalam proses pencarian perusahaan idaman yang sesuai dengan kriteria yang saya inginkan tidaklah berjalan mulus sekalipun saya sudah memiliki pengalaman kerja yang cukup lumayan lama. Beberapa perusahaan sempat menjadi batu loncatan agar tidak menganggur terlalu lama juga menjadi alasan saya berpindah-pindah kerja di beberapa usaha restoran dan pabrik styrofoam. Pengalaman bekerja di beberapa restoran yang tidak bertahan lama disebabkan kebangkrutan dan juga krisis ekonomi yang sempat melanda kota kami karena isu bom yang cukup merusak tatanan ekonomi kota kami yang memang bergantung kepada ekonomi pariwisata.

Kemudian pengalaman di pabrik styrofoam yang cuma bertahan 6 bulan pun menjadi pengalaman yang cukup mengesankan. Ya, cukup membuat saya stres dan otak berjalan terus menerus selama perjalanan pulang kerja maupun sesampai di rumah. Sibuk membaca ulang semua buku-buku yang terkait dengan proses produksi bahkan sampai terkadang saya mengabaikan telepon beberapa teman yang menghubungi saya. Benar-benar berusaha detil mengulang belajar karena sistem accounting pabrik agak berbeda dari pengalaman kerja sebelumnya.

Sistem produksi styrofoam yang memiliki keunikan tersendiri, menghitung jumlah produksi yang dihasilkan dengan pemakaian bahan tertentu dan juga menghitung penyusutan berat produk yang terjadi dalam tahap barang setengah jadi cukup menjadi pelajaran baru lagi untuk saya. Banyak belajar hal baru dan bisa menyesuaikan diri juga menambah tekanan dalam diri. Dan lucunya, ranah pribadi pun soal rasa ikut membumbui hari-hari kerja saya dimana semakin lama intens berinteraksi dengan seseorang menjadi bumerang buat diri kita sehingga terlibat dengan perasaan seseorang, rasa benih-benih cinta yang tidak berimbang sehingga bisa saja menimbulkan konflik baru. Ya, begitulah dunia kerja, ada saja ritme-ritme di luar yang diperkirakan. Pada akhirnya saya tidak betah juga bertahan meskipun owner sendiri secara khusus meminta saya tetap bertahan namun saya tetap ingin keluar dari arena tersebut.

Dan pengalaman yang lebih seru ketika saya menerima tawaran sebagai Finance Controller. Jabatan tertinggi di bawah General Manager. Ada proyek di mana saya mereview program accounting yang baru digunakan dan mengatur ulang penempatan karyawan atau lebih dikenal istilah reshuffle dalam departemen akunting yang saya pimpin. Dijanjikan kenaikan gaji sesuai dengan standar gaji yang saya minta membuat saya sangat bersemangat.

Kemudian saya mulai menata dan me-review tugas masing-masing divisi, memahami seluk beluk sistem dan internal kontrol keseluruhan sistem pelaporan membutuhkan waktu kerja yang lebih lama hingga larut malam di luar batas jam kerja normal selama 3 bulan sangatlah melelahkan bukan sekadar loyalitas tinggi namun berkomitmen bahwa saya mampu menyelesaikan proyek ini yang mendasari ketekunan saya menjalaninya. Dan saya tersenyum cukup puas, bahwa benar kerja keras tidak akan mengkhianati hasil.

Tibalah waktunya saya melaporkan hasil kerja selama 3 bulan dan menyiapkan semua kebutuhan presentasi. Walaupun sempat menjadi dilema saat betapa kagetnya saya menemukan kecurangan-kecurangan di hampir semua divisi dan ternyata mereka semua sudah menjadi persatuan yang terlilit begitu kuat sampai kepada departemen operasional. Dan yang membuat saya benar-benar lebih tercengang ketika menemukan general manager operasional ikut serta di dalam Proyek Besar ini sehingga mengamankan posisi mereka semua. Proyek besar yang saya maksud adalah jaringan korupsi yang terjadi di dalam perusahaan.

Waduh ini bukan main-main lagi yang membuat saya memikirkan cara yang tepat dan sangat berhati-hati melaporkan ini semua. Dan pada akhirnya saya beranikan presentasi kepada atasan saya langsung, general manager accounting bahwa adanya jaringan korupsi yang cukup kuat di semua lini. Dan hasilnya tidak seperti yang saya bayangkan bahwa proyek ini selesai sampai di sini namun menjadi semakin bertambah berat beban tugas saya karena dampaknya tahapan selanjutnya saya diminta harus mampu menyelesaikan dengan clear menjadi seorang judge bao yang harus memecat mereka semua.

Singkat cerita saya lah yang menyerah dan mengundurkan diri karena saya merasa tidak sanggup menjalankan tugas berat tersebut. Bagaimanapun saya merasa belum memiliki kemampuan dan hati nurani tidak akan sanggup melakukan hal tersebut mengingat beberapa dari karyawan tersebut sudah mengabdi belasan tahun, memiliki keluarga, dan banyak lagi alasan moral yang saya tidak bisa lakukan. Kandaslah harapan mendapatkan big reward yang saya impikan sebelumnya.

Saat ini saya sudah berada di lingkungan baru pada perusahaan di bisnis restoran franchise yang cukup terkenal yang memiliki jaringan Internasional. Jujur ini menjadi tumpuan terakhir, kenapa? Umur, pernikahan, dan memiliki beberapa anak merupakan situasional baru dari sebelumnya. Tanggung jawab saya terhadap ikatan perkawinan yang memiliki tugas-tugas baru yang mengharuskan saya bisa menjadi wanita tangguh, wanita yang multi talenta.

Loyalitas

pengalaman kerja
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Sebagai istri, sebagai ibu, sebagai masyarakat sosial, dan juga sebagai pekerja. Hm... banyak sekali peran yang harus saya jalani bukan? Agar semua bisa berjalan baik dan berimbang maka harus bisa berdamai dari konsekwensi yang dipilih. Jadi di sinilah, di tempat sekarang inilah saya terakhir berkarier. Jenis usaha restoran, jabatan masih tetap sama namun perbedaannya hanya pada struktur organisasinya di mana saya bertanggung jawab langsung kepada direktur.

Lebih dari 10 tahun mengabdi di perusahaan ini namun jabatan tidak kunjung jua bergerak, stuck, diam jalan di tempat padahal perusahaan sangat melaju berkembang begitu pesat. Merangkap 3 jabatan sekaligus di awal perusahaan berdiri menuntut saya menunjukkan kemampuan multi tasking sampai sampai waktu makan pun dilakukan sembari bekerja. Belum lagi berganti-ganti program accounting membuat saya harus menjalani kerja sampai larut malam terulang kembali.

Tidak hanya sampai di sana, pengingkaran terhadap kontrak kerjapun saya alami, direktur dengan entengnya berkata, “Kita ulang saja buat kontrak kerja baru dan yang lama kita sobek,“ menjadikan kedongkolan yang harus saya tahan meskipun jika bisa diibaratkan kondisi itu sebagai penyakit kronis, bukanlah menjadi alasan bagi saya ingin mencari pekerjaan yang baru.

Perjuangan saya mencari keadilan ke pusat akhirnya terbayar setelah melewati 3 tahun bekerja. Selanjutnya situasi kondisi berjalan normal kembali, nyaman, interaksi lingkungan sangat mendukung membuat saya sangat betah bekerja apalagi saya menjadi bagian dari awal proyek perusahaan ini berdiri. Sampai perusahaan terus berkembang pesat dan banyak tambahan departemen dan divisi untuk memenuhi kebutuhan perusahaan.

Seiring itu pula, mulailah timbul konflik-konflik baru dengan bertambahnya karyawan dengan berbagai karakter yang juga berperan dalam masalah terganjalnya kenaikan jabatan saya. Permainan kotor rekan kerja, fitnah maupun opini-opini yang diserap begitu saja tanpa disaring oleh pimpinan sehingga berimbas dengan keputusan direktur yang tidak logis menjadi keseharian yang harus dijalani.

Penjelasan panjang menjawab ketidakadilan yang dirasa bukanlah suatu solusi baik. Bahkan rutinitas kantor berdampak buruk mempengaruhi kejiwaan saya hingga pelampiasan kekesalan terbawa ke rumah dan anaklah yang menjadi korban. Dan sampai hari ini saya mengisahkan pengalaman ini, saya masih bekerja di sini. Berdamai dengan kondisi yang ada, tetap dengan senang hati menjalaninya, dan tetap bersemangat.

Loyalitas tanpa batas, ketulusan, dan keikhlasan lah yang menjadi kunci saya bisa tetap bekerja serta menjaga performance kerja tetap baik. Tentunya pencapaian tahap ini bukanlah perkara mudah saya bisa tempuh dan lalui, tanpa seseorang yang selalu menghibur, mendukung, dan meyakinkan di setiap langkah saya menjadi seorang Kartini sejati bagi keluarga, siapa itu? Adalah sangat mudah ditebak bahwa saya sangatlah bersyukur memiliki suami yang selalu setia menemani dan mendukung saya menjalani semua.

Lanjutkan Membaca ↓