"Salah Kamar" di Grup Kantor Membawa Petaka

Endah Wijayanti30 Apr 2019, 14:33 WIB
sebelum resign

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: N - Biak

Saya bekerja di suatu perusahaan swasta sebagai tenaga outsourcing atau lebih familiernya tenaga kontrak sejak tahun 2011 dan sudah 8 tahun saya bekerja. Kontrak kerja kami selama setahun sekali perpanjangan. Walaupun sebagai tenaga kontrak, tapi saya merasa nyaman bekerja di kantor tersebut. Semua pegawai yang ada sangat baik dan tidak membedakan, kekeluargaan kami sangat erat. Di kantor posisi saya sebagai sekretaris General Manager, dan selama bekerja saya sudah melayani enam General Manager.

Sampai pada General Manager terakhir yang keenam, beliau sangat menyukai musik dan motor. Bisa dibilang beliau sangat gaul, istilah kerennya. Awal beliau datang saya enjoy, karena beliau ramah dan easy going. Sekitar sebulan bekerja beliau mulai merekrut orang baru yang tanpa melalui tes sama sekali. Dan orang baru ini mendapatkan perlakuan istimewa dari beliau. Sampai sudah menjadi bahasan santer di kantor. Selain itu beliau hanya dekat dengan pegawai saja, karyawam kontrak seperti tidak dianggap. Dan hanya pegawai yang mau mengikuti kemauan beliau saja yang dianggap. Sampai muncul istilah “ABS“ di antara para pejabat di bawah beliau dan karyawan yang lain.

 

Salah Kirim Pesan

[Bintang] Ilustrasi ponsel
Ilustrasi.(Sumber Foto: Pexels)

Selang 4 bulan beliau kembali merekrut pegawai tanpa ada tes dan tanpa ada permintaan atau kekosongan posisi. Pegawai ini hanya dalam waktu 2 hari langsung sudah bekerja. Suasana di kantor semakin menjadi panas dan semakin tidak nyaman karena keputusan yang beliau ambil tersebut. Dan semakin jelas jurang perbedaan antara pegawai yang masuk dalam lingkaran beliau dan yang di luar lingkaran.

Sampai suatu kali saya dengan tidak sengaja "salah kamar" di grup kantor. Di mana saat itu saya sedang japri dengan teman kantor membahas General Manager ini. Saya buru-buru hapus, tetapi ada salah satu antek beliau yang sudah membaca dan melaporkan hal tersebut. Saat itu juga beliau membalas saya dengan kasar di grup. Karena saya tahu salah, saya segera meminta maaf tapi beliau sudah tidak mau menerima telepon saya.

Dengan penuh keberanian keesokan harinya, saya ke rumah beliau bersama dengan suami. Kami datang meminta maaf, tetapi beliau tidak mengizinkan kami masuk, hanya berdiri di halaman dan beliau mulai membentak-bentak, menunjuk-nunjuk, mengancam saya di depan suami. Kemudian kami disuruh pulang dan untuk dilanjutkan Senin saja.

Saat Senin saya ke kantor, teguran selamat pagi saya kepada beliau sudah tidak digubris. Saya duduk lama di ruangan dengan penuh ketakutan membayangkan bagaimana nasib saya. Kemudian saya dipanggil Manager Personalia, dan diberitahukan bahwa saya dikembalikan ke perusahaan yang menaungi saya.

Tampaknya Ini Memang yang Terbaik

Mengatasi Dilema, Wanita Karier vs Ibu Rumah Tangga (Peshkova/Shutterstock)
Ilustrasi./(Peshkova/Shutterstock)

Saya pulang dan besoknya saya ke perusahaan yang menaungi saya tersebut. Tetapi sampai di sana, saya diberitahukan bahwa sudah tidak bisa bekerja lagi alias diberhentikan karena General Manager tersebut sudah menelepon atasan saya untuk tidak boleh mempekerjakan saya lagi. Saya sangat terpukul dan sedih mendengarnya, kenapa hanya karena masalah sepele di mana saya sudah datang meminta maaf tetapi sampai tega memberhentikan saya.

Padahal saya bukan melakukan kesalahan yang merugikan perusahaan. Setelah itu saya baru tahu bahwa ada salah satu atas yang sudah menjelekan saya di depan beliau, dan teman yang japri dengan saya pun ikut menjelekkan saya untuk mencari keselamatan dirinya sendiri.

Delapan tahun saya bekerja di sana, tetapi itu sirna begitu saja tanpa ada pertimbangan dan kesempatan sedikit pun buat saya. Tapi saya selalu yakin dan percaya, Tuhan tidak pernah membiarkan kami dalam kesusahan di luar kemampuan kami, Tuhan selalu punya rencana yang indah. Dan saya harus memaafkan mereka semua agar Tuhan juga bisa memaafkan kesalahan saya. Karena itu saya selalu berdoa kepada Tuhan untuk memaafkan mereka karena mereka tidak tahu apa yang telah mereka lakukan. Saat ini saya sedang fokus untuk anak-anak di rumah, menjadi ibu rumah tangga, sambil berusaha mencari pekerjaan yang lebih baik lagi.

Lanjutkan Membaca ↓