Mencari Pekerjaan sebagai Fresh Graduate Ternyata Tak Seindah Bayangan

Endah Wijayanti30 Apr 2019, 15:51 WIB
pekerjaan toxic

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: Asafin Napitupulu - Sidoarjo

Januari 2018 adalah akhir perjalan saya sebagai mahasiswa teknik di salah satu perguruan tinggi negeri yang cukup mempunyai nama di tempat kelahiran saya Sumatera Utara. Ketika lulus dari perguruan tinggi tentu ekspektasi tentang lingkungan pekerjaan nantinya seperti anak-anak yang sedang membayangkan menjadi princess di negeri dongeng. Tentunya punya pekerjaan bagus, gaji minimal delapan digit, istirahat makan siang bisa nge-mall, nongkrong di coffee shop dan kembali ke kantor dengan cup Starbuck and having a relationship with the young rich manager seperti di drama-drama Korea. Oh satu lagi tinggal di apartemen bagus dengan fasilitas aduhai, ya setelah bertahun-tahun menjadi anak kost dengan kondisi akhir bulan tragis, kira-kira begitulah impian semua freshgraduate dan sebagai seorang perempuan pendamba prince charming seperti itu menurut saya benar-benar mimpi.

Realita ternyata jauh dari ekspektasi. Setelah hampir dua bulan tidak memiliki pekerjaan tetap, terlalu selektif untuk pilih-pilih pekerjaan. Ternyata dunia freshgraduate adalah dunia yang kompetitif di mana harus berjuang melawan 150 ribu lulusan tiap tahunnya untuk mendapatkan satu posisi di perusahaan bonafide. Saya tetap mengajar sebagai guru les untuk anak SMA dan SMP mulai dari sains, matematika bahasa Inggris mandarin sampai bahasa Jerman. Freelancer Drafter, proyek-proyek senior dan aksi dana untuk organisasi yang saya ikuti di sela-sela mencari pekerjaan tetap. Ibarat gayung tak bersambut, saya melalui banyak kegagalan dan penolakan, bahkan CV sampai berbulan-bulan yang tak tentu bagaimana nasibnya. Pada akhirnya saya diterima di sebuah kantor kontraktor swasta kecil dengan proyek di luar provinsi yang masih jarang penduduk bahkan sinyal yang mati-mati.

Alhasil setelah berbulan-bulan bekerja lebih dari delapan jam setiap hari dengan beban pekerjaan yang semakin berat, satu pe rsatu rekan memilih untuk resign, sepertinya gaji besar dan fasilitas mumpuni tidak dapat membuat freshgraduate terlepas dari bayang-bayang pekerjaan impian ala drama-drama Korea. Akhirnya saya pun dihadapkan dengan pilihan untuk ikut resign atau bertahan sebagai satu-satunya perempuan di lingkungan kerja saya yang jauh dari keluarga dan kondisi lapangan yang semakin berat. Saat itu tekad tak ingin menyerah berbanding tebalik dengan keadaan psikologis yang insecure, walaupun bos saya menjamin keselamatan saya tapi siapa yang bisa tahu apa yang akan terjadi hari esok.

 

Memilih Resign dan Mendapat Pekerjaan Baru

duduk berhadapan
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/@mimithian

Setelah hampir lima bulan mengabdi saya pun memutuskan untuk resign tanpa memiliki rencana cadangan, begitulah depresi merenggut kehidupan perantau. Butuh dua bulan agar saya bisa mendapat pekerjaan di pulau seberang. Dengan bantuan kenalan saudara, sekarang saya bisa bekerja di perusahaan swasta besar walau pekerjaan ini beda jalur dengan jurusan kuliah saya, prioritas saya adalah menopang keuangan keluarga saya dengan mama dan namboru (tante di suku Batak) menyekolahkan tiga adik saya yang kuliah dan satu masih SMA.

Ternyata pengalaman kerja saya tidak memberikan dampak apa-apa untuk lamaran pekerjaan saya, saya sempat putus asa melihat teman-teman saya satu per satu memiliki pekerjaan impian mereka. Namun ada satu hal yang saya sadari ternyata di pekerjaan baru saya ini saya bisa lebih banyak bercermin dan menemukan jati diri yang saya abaikan selama bertahun-tahun, saya kembali menemukan tujuan hidup saya, saya tahu apa kegemaran saya dan mengenal Tuhan lebih dekat lagi. Hal-hal ini membantu menyembuhkan depresi saya.

Saya menikmati pekerjaan yang lebih ringan dengan keluarga yang men-support kejiwaan saya walau sekali lagi hanya saya perempuan di lokasi kerja saya. Saya juga memiliki waktu luang untuk melakukan hobi saya menulis dan menggambar, membagikan karya di instagram dan pemikiran saya di blog pribadi, terkadang saya mengesub short video di YouTube tambahan uang tabungan untuk bisa melanjutkan sekolah di luar negeri.

Selama lebih dari setahun berjuang untuk pekerjaan impian dan berburu beasiswa, saya banyak sekali bersyukur untuk setiap kegagalan. Bagi saya kegagalan adalah alasan lain untuk lebih banyak berkarya dan menginspirasi orang lain. Walaupun saya masih berjuang dengan mimpi-mimpi saya dan upaya men-support adik-adik saya. Saya bertekad untuk menghapus kata menyerah dari hidup saya, saya yakin dengan konsistensi dan berserah kepada Tuhan perjuangan saya nggak akan sia-sia. Ayo Jangan menyerah, mari berjuang bersama-sama.

Lanjutkan Membaca ↓