Karier yang Awalnya Dibenci Terkadang Justru yang Paling Cocok dengan Diri Kita

Endah Wijayanti02 Mei 2019, 08:39 WIB
glass ceiling

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: Mellina Sudirman - Jakarta Timur

Perjalanan Karierku, Menemukan Jati Diri Melalui Cinta

Mengawali karier di dunia IT (Information and Technology) bukanlah hal yang selama ini berada di benakku meskipun aku seorang lulusan ahli madya komputer. Sangat aneh bukan? Ya itulah diriku terdahulu yang menginginkan untuk bekerja di luar jalur latar belakang pendidikanku.

Setelah lulus kuliah, hal yang lumrah dilakukan bagi kebanyakan freshgraduate termasuk diriku yaitu melamar pekerjaan. Aku yang hanya berasal dari suatu desa di wilayah Sumatera Utara wajar saja jika sangat menginginkan untuk bisa bekerja di suatu kota besar dan Medan lah yang menjadi tujuanku pada saat itu. Alasanku memilih kota Medan dikarenakan di kota itulah aku mengenyam pendidikan tinggi sehingga aku sudah terbiasa dengan keadaan di kota tersebut.

Sebenarnya aku tak perlu repot-repot melamar pekerjaan. Beberapa hari setelah menyelesaikan sidang tugas akhirku, tante (adik ibu) yang berada di Jakarta menelepon ibuku dan menanyakan kabar dan pendidikanku. Dia menawariku untuk bekerja di perusahaan milik suaminya. Perusahaan itu tergolong sejenis software house dan hanya menerima para lulusan IT. Mereka sedang membutuhkan seorang programmer pada saat itu. Hal yang ada di benakku saat itu hanyalah berhenti bergelut di bidang IT, terutama programming. Aku sangat akrab terhadap image dunia IT terkhusus programming yang mana harus mampu bekerja under pressure, deadline, dan stres yang bertubi-tubi. Hal inilah yang membuatku ingin menghindar dari dunia itu dan memilih menolak mentah-mentah tawaran tersebut.

Tepat setelah kampus mengeluarkan surat kelulusan sementara, aku pun mulai aktif melamar pekerjaan, baik itu secara online maupun langsung mengantar surat lamaran. Di sinilah cikal bakal bagiku untuk hijrah ke kota yang jauh lebih baik dimulai. Seminggu setelah surat lulus sementara keluar, tepatnya dua minggu sebelum hari wisuda, diriku mendapati suatu kejadian yang kurang menyenangkan.

Aku dan temanku mengalami kecelakaan di suatu jalan protokol di kota Medan. Kejadian ini bermula saat kami sedang terburu-buru mengantar surat lamaran pekerjaan dikarenakan waktu sudah sangat sore dan khawatir bahwa kantor yang akan kami datangi sudah tutup. Temanku pun lalu mengendarai sepeda motor yang kami naiki dengan sengaja ngebut dan menerobos lampu merah, hingga pada akhirnya mobil yang datang dari arah samping menabrak kami. Pada saat itu temanku mengalami amnesia kecil, sementara diriku terluka di kaki.

Dari kecelakaan yang aku alami sebelumnya, aku memutuskan untuk tidak memberitahu orangtuaku hingga aku kembali ke kampung halaman beberapa hari setelah kejadian tersebut. Setibanya di sana, orangtuaku terkejut melihat keadaan ku yang cukup terluka di bagian kaki dan membuat diriku kesulitan untuk berjalan. Kejadian ini membuat trauma dan khawatir yang mendalam bagi orangtuaku setelah mendengar mengapa kecelakaan itu bisa terjadi.

 

 

Memutuskan ke Jakarta

menjadi psikolog
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Setelah perayaan wisuda berlangsung dan keadaanku mulai memulih, ibuku memaksaku untuk menerima tawaran pekerjaan dari tante di Jakarta. Ia berpikiran bahwa aku akan lebih aman jika bekerja di sana dikarenakan ada jauh lebih banyak keluarga yang kami miliki di kota tersebut. Ya lebih tepatnya ada tiga saudara kandung ibuku yang menetap di Jakarta dan semuanya sudah memiliki keluarga. Dengan terpaksa aku pun menerima tawaran itu dan bersedih hati karena harus kembali bergelut di bidang IT dan sangat jauh dari orangtua.

Awal mula diriku bekerja di perusahaan milik suami tante ini, perasaan campur aduk dan kesal luar biasa yang aku dapatkan. Aku menyesali setiap keadaan mengapa aku harus bekerja di bidang ini, menjadi programmer pula, sesuatu yang sangat aku benci dan tak pernah terpikirkan olehku. Ditambah lagi dengan project yang langsung kuterima di kantor pada saat itu, membuat sistem analisis pengguna layanan telekomunikasi. Sebenarnya project tersebut ditugaskan kepada dua orang, yaitu aku dan seorang programmer lainnya yang juga merupakan karyawan baru. Rasa pesimis pun muncul, aku hanyalah lulusan baru yang belum berpengalaman. Lalu bagaimana aku bisa segera menyelesaikannya, tanyaku selalu di dalam benakku.

Tepat 3 hari aku bekerja, partner-ku dalam menyelesaikan project pun mengundurkan diri dari perusahaan. Tepat di hari itu juga kekhawatiranku semakin bertambah, bagaimana ini, bagaimana aku bisa menyelesaikannya dengan segera dan ditambah lagi project ini pasti akan dilimpahkan khusus untukku sendiri. Namun Tuhan berkata lain, pengunduran diri itulah yang membuat diriku dapat menemukan cinta dan karierku yang sesungguhnya. Sang project manager memberikan partner pengganti untukku, seorang programmer yang berpengalaman dan telah bekerja di sini sejak beberapa bulan sebelum kehadiran diriku di perusahaan tersebut.

Beberapa hari setelah bekerjasama dengan programmer handal tersebut, aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda begitu juga dengan dirinya. Hal yang lumrah dikenal bagi banyak kawula muda sebagai jatuh cinta, lebih tepatnya cinta lokasi. Dan kini menjalin hubungan dan berniat melanjutkannya ke arah yang lebih serius.

 

Jatuh Cinta

iri karier
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Semakin sering aku bekerja dan berdiskusi dengannya, maka semakin ia mengerti tentang keadaan diriku. Ia melihat diriku sangat mahir untuk menganalisis suatu hal terutama sistem yang sedang kami kembangkan. Ia juga kerap kali membantuku dalam hal programming dan hanya melimpahkan sedikit tugas padaku yaitu untuk menganalisis sistem tersebut ke depannya akan bagaimana. Setelah aku menganalisisnya barulah ia mengimplementasikannya ke dalam bahasa pemrograman. Hingga pada akhirnya ia memberi tahu kepada sang project manager bahwa tugasku dalam project tersebut yaitu analisis sistem. Sejak saat itulah statusku sebagai programmer di perusahaan berubah menjadi seorang system analyst.

Seiring berjalannya waktu, aku semakin mantap mengenal dan memahami bahwa takdir Tuhan untuk mempekerjakanku di bidang IT dan pemikiran yang dianggap oleh pasanganku selama ini memang benar. Minat dan bakatku selama ini memang di IT tapi bukan sebagai seorang programmer, melainkan system analyst. Sejak saat itu aku tak pernah lagi mengeluhkan karierku di dunia IT dan tak pernah lagi membencinya. Mengapa aku harus membenci karierku saat aku bisa mengetahui kebenarannya bahwa aku memang seharusnya berada di dunia itu dan juga mencintai seseorang dari dunia IT tersebut, yang mana kelak akan menjadi pasangan hidupku. Aku sangat mencintai karierku sebagai orang IT setelah menemukan cinta dari orang IT juga yang kini telah menyadarkanku bahwa membenci sesuatu secara berlebihan tidaklah baik.

 

Lanjutkan Membaca ↓