Beban Pekerjaan Berlipat Ganda, Haruskah Mengundurkan Diri?

Endah Wijayanti02 Mei 2019, 09:59 WIB
Kerja

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: V - Pontianak

Tiga Beban Pekerjaan

 

Saya bekerja di bagian accounting di kantor cabang sebuah perusahaan nasional. Bagian yang saya tempati terdiri dari Finance AP, Collection dan Accounting. Semuanya berjalan lancar hingga akhirnya pada akhir tahun 2016, muncullah tantangan terbesar selama saya bekerja di kantor tersebut.

Bermula dari resign-nya rekan saya bagian Collection bertepatan dengan bagian Finance AP yang baru saja mengajukan cuti melahirkan selama tiga bulan. Awalnya pekerjaan Finance AP digantikan oleh saya setelah teman saya meninggalkan perusahaan. Saya tidak keberatan mengerjakan dua pekerjaan sekaligus. Namun pada awal tahun saya pun harus mengerjakan tambahan pekerjaan sebagai Collection dikarenakan resignnya anak baru yang tidak sanggup menahan tekanan pekerjaannya.

Hari pertama bekerja di tahun 2017, saya pun langsung saja diserahkan pekerjaan collection tersebut oleh kepala cabang saya. Saya kecewa dikarenakan beliau tidak memberikan solusi apapun dan melempar tanggung jawab ini ke pundak saya sendiri. Setelah keluar dari ruangan kepala cabang, saya dihubungi oleh Atasan bagian Collection dari kantor pusat, saya pun diminta untuk menggantikan sementara pekerjaan tersebut.  

Beliau meminta saya menggantikan sampai salah satu stafnya dikirim ke kantor cabang sementara waktu. Saya pun mengiyakan dengan perasaan tertekan dikarenakan saya merasa tidak sanggup dengan beban tiga pekerjaan sekaligus. Bagaimana mungkin saya dapat membagi waktu saya di mana semua pekerjaan diharuskan cepat diselesaikan.

Dengan perasaan tertekan, saya mencoba memulai pekerjaan Finance AP di mana harus segera saya kerjakan agar keuangan kantor tidak terganggu. Setelah selesai saya akan mengerjakan pekerjaan Collection. Saat kedua pekerjaan itu kelar, saya memulai pekerjaan Accounting di atas pukul 17.00.

 

Terpikir untuk Resign

Kerja
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Pada minggu pertama, saya masih dapat bertahan. Pada minggu kedua, saya merasa waktu saya masih tidaklah cukup, sehingga saya pun mengharuskan diri saya tiba sebelum pukul 07.00, memanfaatkan waktu istirahat dengan bekerja sambil menyantap makan siang, saya akan berhenti bekerja jika jam tanganku menunjukkan waktu pukul 20.00 karena jika lewat dari jam itu, jalanan di kantor saya sangat berbahaya untuk dilewati, saya mengambil lembur pada hari Sabtu dan Minggu.

Di minggu kedua ini, saya bertambah merasa kelelahan dikarenakan saya memaksakan diriku untuk membantu bisnis keluarga di bidang kue yang orderannya meningkat banyak mendekati hari raya imlek. Walaupun sebenarnya keluarga saya tidak mengizinkan saya membantu mereka karena tahu kondisi saya di kantor. Namun melihat wajah lelah anggota keluarga saya terutama Ibu, saya merasa harus membantu mereka.

Minggu ketiga,saya pun merasa kelelahan luar biasa hingga membuat saya stres. Saya pun mencoba menelepon rekan kerja saya yang sedang cuti melahirkan untuk masuk kerja. Saya tahu mungkin saya keterlaluan memintanya masuk setelah dia melahirkan satu bulan lebih. Namun stres yang saya alami membuat saya meneleponnya. Sebelum meneleponnya, saya tahu dia pasti menolak permintaan saya karena sebelumnya dia mengatakan bahwa dia pernah menolak permintaan atasan bagiannya dari kantor pusat untuk masuk kerja sementara waktu. Sebagai gantinya dia masuk, hak cuti melahirkan yang tersisa akan dapat diambil kembali setelah posisi bagian Collection telah terisi. Dan benar saja, permintaan saya ditolaknya, dia meminta maaf kepada saya dan memberi saya semangat serta menyarankan saya untuk mencoba cuek dengan kedua pekerjaan finance.

Setelah meneleponnya,sempat terpikir saya untuk resign karena sungguh saya merasa tidak mampu lagi. Saya tidak mendapatkan kejelasan kapan pengganti sementara dari kantor pusat akan datang. Saya juga teringat kembali dengan pembicaraan antara Finance AP dan Collection bahwa jika rekan saya di bagian Collection resign, maka rekan Finance AP pun akan resign. Awalnya mereka juga pernah meminta saya ikut mengundurkan diri, jujur waktu itu saya pun mengiyakan mereka karena saya memang ingin mencari pekerjaan dengan salary yang lebih baik dari kantor saya. Dan saya juga merasa kalau tidak ada mereka, memang bagian Finance mungkin tidak akan sehebat semasa mereka. Pekerjaan saya juga pasti akan mengalami kesulitan kedepannya, jadi lebih baik saya ikut mundur jika mereka mundur. Karena hal-hal itulah membuat saya terdorong untuk mengundurkan diri.

Mendapat Jawaban Terbaik

Kerja Lembur
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Setelah terpikir pemikiran mengundurkan diri, saya pun mencoba meminta pendapat adik saya dimana saya menilainya mampu memberikan jawaban atas pemikiran saya. Dia pun akhirnya menanyakan saya kembali hati saya berkata apa. Jika saya mengundurkan diri apakah hati saya bisa tenang, apakah saya mau menyerah hanya karena masalah ini. Dia pun meminta saya merenungkannya dan membawanya ke dalam doa.

Akhirnya memasuki minggu keempat, saya pun memutuskan untuk tetap bertahan. Karena saya tahu, hati saya tidak akan pernah tenang jika aku mengambil keputusan resign dan membiarkan bagian Finance dan Accounting kosong sehingga menyulitkan pekerjaan rekan-rekan divisi lainnya.  Hari kedua minggu keempat, saya mendengar akan datang staf pengganti dari kantor pusat dalam minggu tersebut. Mendengar itu, hati saya pun merasa tenang dan akhirnya beban saya akan berkurang satu.

Setelah kedatangan staff tersebut, bebanku berkurang walaupun terkadang staf tersebut merepotkan saya karena dia pun belum terlalu terbiasa dengan pekerjaan Collection. Beberapa minggu kemudian, rekan Finance AP pun masuk dan lowongan Collection pun terisi. Saya pun kembali ke pekerjaan saya semula. Walaupun setelah melewati semua itu, isu yang tersebar di antara kantor cabang bahwa yang mengerjakan pekerjaan Finance AP dan Collection sekaligus adalah staf yang dikirim ke kantor saya dari kantor pusat. Mendengar itu betapa kecewanya saya yang merasa kerja keras saya tidak dihargai.

Kekecewaan itu saya bawa dalam doa di mana saya berharap hati saya ikhlas menerima semua itu dan saya tetap bekerja sebaik mungkin. Beberapa bulan kemudian, rekan saya bagian Finance AP mengajukan resign, saya pun diajukan kenaikan pangkat sebagai kepala bagian Finance Accounting oleh Atasan Accounting di kantor pusat yang disetujui oleh Atasan Finance AP dan Collection serta Atasan Tertinggi di bagian Finance Accounting. Saya sungguh bersyukur bertahan di kegelapan pada masa itu sehingga saya dapat menikmati terang yang terindah dalam hidupku.

Lanjutkan Membaca ↓