Jawablah Keraguan Orang Lain dengan Bukti Tindakan Nyata Kita

Endah Wijayanti02 Mei 2019, 10:45 WIB
tips perempuan karier

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: Nur Khoiro Umatin - Bojonegoro

Bekerja dan memperoleh penghasilan sendiri merupakan impian bagiku sejak kecil. Meskipun terlahir sebagai wanita saya memiliki keinginan untuk bekerja. Alhamdulillah, Tuhan mengabulkan keingin dan cita-cita saya. Pada saat ujian saya harus menyingkirkan puluhan peserta dan saya memperoleh nilai tertinggi dan dinyatakan lulus. Jabatan yang saya pegang saat ini sebelumnya identik dengan kaum pria dan pekerjaan saat ini sangat berbeda dengan pekerjaan yang saya geluti beberapa tahun sebelumnya.

”Di mana bumi dipijak di situlah langit dijunjung,” itulah prinsip yang saya pegang. Di mana pun bekerja aku akan bekerja dengan sebaik-baiknya. Begitu juga ketika memegang jabatan yang sekarang. Saya berusaha melaksanakan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dengan sebaik-baiknya. Tugas pokok dan fungsi pekerjaan yang saat ini saya pegang salah satunya di bidang pertanahan. Saat saya dilantik, banyak orang yang meragukan kemampuan saya. Sangat wajar karena kebanyakan pekerjaan yang berkaitan dengan pertanahan dipegang oleh pria. Jumlah wanita yang memegang jabatan tersebut bisa dihitung dengan jari. Suara-suara nyinyir yang saya dengar justru membakar semangat saya untuk membuktikan bahwa saya mampu dan bisa.

Tampil beda dengan yang lain itulah yang ada dalam pikiranku. Jika banyak yang tidak secara maksimal melaksanakan tupoksi, saya harus melaksanakannya dengan baik. Jika ada penduduk yang mengajukan sertifikat atas tanah atau sawah, saya yang menangani. Mulai dari pemberkasan hingga pengukuran. Saat pengukuran saya harus ikut terjun ke lokasi. Saya harus memakai sepatu bot atau kadang terpaksa melepas sepatu karena lokasi yang tidak memungkinkan.

 

Membuktikan dengan Tindakan Nyata

perempuan milenal
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Kadang saya harus rela masuk ke sawah yang penuh air dan masuk ke rumpun bambu untuk mengetahui secara pasti batas tanah yang akan disertifikatkan. Tidak jarang pula saya harus menyeberang jembatan yang terbuat dari sebatang bambu. Sering juga saya harus berjalan berkilo-kilo meter menyusuri area persawahan jika lokasi sawah jauh dari permukiman. Semua itu terasa menyenangkan karena saya menikmati tugas tersebut. Kebanyakan tugas ini memang dilaksanakan oleh pria. Akan tetapi, keyakinan bahwa saya pasti bisa itulah pendorong bagi saya dalam melaksanakan tugas. Saya pun telah membuktikan kepada semua yang pernah meragukan bahwa saya tidak kalah dengan kaum pria dalam mengemban tugas dan tanggung jawab.

Jabatan atau tugas baru berarti tanggung jawab dan pengalaman baru. Prinsip itu pula yang mendorong saya untuk bekerja sebaik-baiknya. Sekarang tidak ada lagi yang meragukan kemampuan saya, meskipun secara kodrat saya adalah wanita. Saya telah membuktikan bahwa wanita bisa memiliki tanggung jawab dalam pekerjaan sebagaimana pria. Pandangan sinis warga yang dahulu kini berubah menjadi senyum manis. Kata-kata keraguan kini berubah menjadi dukungan. Meskipun saya bekerja tidak untuk dipuji, tetapi senyum tulus dari warga menjadi pengobat lelah yang kadang datang mendera. Dari sini saya belajar bahwa jawablah keraguan orang lain dengan tindakan nyata tidak hanya dengan kata-kata. Usaha dan kerja keras membuat saya bisa melewati berbagai halangan dan rintangan. Tidak ada sukses tanpa usaha.  Semoga Tuhan selalu melindungi setiap langkahku. Amin.

 

 

Lanjutkan Membaca ↓