Bekerja Disertai Niat Baik, Segala Kemudahan akan Kembali pada Kita

Endah Wijayanti02 Mei 2019, 13:43 WIB
menjadi guru di desa

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: Pratiwi Putri - Sampit

Tidak Ada Drama Pekerjaan yang Tidak Berlalu

Saya adalah seorang ibu rumah tangga yang bekerja. Meski anak masih satu tapi cukup banyak drama yang saya lewati setiap harinya. Pada awal menikah dan pindah ke luar pulau, saya mulai membantu mengajar di salah satu universitas swasta di tempat saya tinggal.

Semua berjalan baik, saya pun hamil dan melahirkan seorang anak perempuan. Ketika anak saya lahir, saya mendapatkan panggilan bekerja di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan sebagai seorang guru honor. Tawaran itu saya terima dengan asumsi saya akan mendapat pengalaman dan peluang yang baru karena orang tua saya menginginkan anaknya menjadi seorang Aparatul Sipil negara (ASN). Iya, keinginan klise orang tua. Dari sinilah semua drama ini dimulai.

Sebagai ibu baru banyak kebingungan yang saya alami. Tapi saya memang sudah bertekad bulat untuk memberikan ASI eksklusif dan MPASI homemade pada anak saya. Karena saya bekerja, saya harus pumping untuk memenuhi kebutuhan ASI si kecil. Karena saya tidak tinggal di kota besar, tempat kerja saya juga tidak menyediakan tempat untuk menyusui maupun pumping ASI, saya harus berpindah-pindah tempat untuk pumping. Terkadang di UKS, di ruang guru, bahkan bersembunyi di balik meja. Karena anak saya penting, tapi saya juga tidak boleh melalaikan kewajiban saya dalam bekerja.  

Susahnya adalah mertua saya malah menyarankan untuk diberi susu formula saja, alasannya simpel saja, karena “praktis”. Butuh beberapa bulan sampai mertua saya pada akhirnya sepakat dengan saya dalam masalah ini. Setelah semua perjuangan saya, ASI eksklusif sukses dan tugas saya sebagai seorang guru juga terlaksana dengan cukup baik. Si kecil mulai mengerti dan terkadang menangis ketika akan saya tinggal. Perasaan sedih dan bimbang seringkali menyapa. Tapi saya harus menguatkan diri demi masa depan bersama.

Drama yang lebih ekstrem ketika si kecil sudah umur satu tahun. Sudah bisa berjalan, ibu mertua saya pun mulai kewalahan menjaga si kecil. Baby’s Day Care tidak ada, mencari orang yang bisa membantu menjaga si kecil pun sulit.

Pekerjaan pun semakin hari semakin menggunung karena jadi guru bukan cuma perkara masuk kelas dan mengajar. Banyak yang harus kami siapkan, mulai dari membuat silabus, program tahunan, program semester, rencana pembelajaran, modul, soal latihan sampai soal ulangan harian. Belum lagi tugas tambahan menjadi wali kelas yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Presensi guru juga fingerprint, ditambah jadwal piket dan memberi kelas tambahan untuk persiapan ujian. Ketika sampai rumah, si kecil ingin ditemani bermain dengan segala tingkah manjanya. Sudah menjadi kewajiban saya untuk menjadi teman si kecil. Rasa lelah sering tidak saya rasakan lagi. 

 

CPNS

Zodiak Leo
Ilustrasi./copyright shutterstock

Tahun berganti, ada kabar penerimaan CPNS yang sudah sekian tahun dinanti. Tapi situasinya berbeda, dulu masih single. Orang tua pun mulai bersemangat menyarankan untuk ikut seleksi, apapun hasilnya nanti. Tapi dilema melanda, tidak ada formasi yang sesuai dengan latar pendidikan saya di kota tempat saya tinggal. Pilihannya hanya ada di kota sebelah yang jaraknya cukup jauh, bisa ditempuh dalam kurang lebih 3 jam.    

Setelah berdiskusi dengan suami dan juga orang tua akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar. Seleksi demi seleksi saya jalani, dan akhirnya saya menjadi salah satu yang lulus tes. Salah kami adalah kami tidak benar-benar memastikan letak sekolahnya. Setelah pengumuman kelulusan, saya meninjau lokasi dan dari sinilah drama baru dimulai.

Sekolah saya yang baru letaknya di desa. Di sana belum ada listrik dan susah untuk mendapatkan sinyal. Saya pun awalnya bimbang, haruskah saya melanjutkan menerika SK? Tetapi saya tidak pernah berdoa untuk diterima, saya selalu berdoa diberikan yang terbaik untuk saya dan keluarga. Pertama saya pindah ke rumah dinas, saya menangis. Bukan karena saya tidak bisa lepas dari internet ataupun listrik tapi karena anak saya waktu itu saya tinggalkan dengan neneknya.

Pendek kata saya pulang dan menjemput anak saya. Tinggal di desa bukan pilihan yang buruk. Meski sekolahnya masih Satu Atap (Satap) tetapi anak didik tetap sama. Mereka juga anak Indonesia yang berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Meski saya bertugas menjadi guru bahasa Inggris di Sekolah Menengah Pertama akan tetapi faktanya saya harus mengajar mata pelajaran lain juga. Bagaimana bisa? Mungkin bagi guru di kota, di sekolah favorit, masing-masing guru akan mengampu mata pelajaran sesuai latar pendidikannya saja. Akan tetapi bagi kami yang kebetulan di desa, kami harus bisa mengajar mata pelajaran lain. Adilkah? Ini bukan persoalan adil atau tidak, tapi jika bukan guru yang ada di sekolah, siapa lagi yang akan membimbing anak-anak belajar? Meski saya harus belajar terlebih dahulu, saya berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anak didik saya.

Apakah cukup sampai di situ drama bertugas di desa? Tentu saja tidak. Mengajar dua atau tiga mata pelajaran masih bisa diatasi. Yang lebih susah diatasi adalah mengubah budaya belajar disana. Saya yang terbiasa mengajar di kota dengan jam terbang yang seperti Garuda Indonesia tentu saja kaget dengan budaya di tempat kerja yang baru.

Bekerja dengan Niat Baik

guru di pulau
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Anak-anak terbiasa untuk pulang ketika tidak ada guru di sekolah, diberi tugas mereka lupa, jika kelas yang lain pulang maka kelas yang masih belajar akan mulai resah dan ingin pulang. Jadwal pulang sekolah pukul 13.20 tapi sebelum pukul 12 anak-anak sudah mulai gelisah ingin pulang. Hal itu sudah membudaya sehingga tidak bisa diubah dalam satu malam. Salahkah mereka? Sepenuhnya bukan salah anak-anak karena sudah terlalu lama mereka tidak mendapatkan jumlah guru yang layak sehingga sering mereka tidak belajar. Perlahan tapi pasti, saya yakin mereka akan berubah ke arah yang lebih baik dengan bimbingan para guru yang ada.  

Jika pagi sampai siang saya mengajar di SMP, sore hari waktunya anak-anak SD belajar mengaji. Melihat mereka antusias untuk belajar, saya bisa apa. Dengan berbekal kemampuan mengaji saya dari pondok dulu, saya berusaha mengajak mereka mengaji sebaik yang saya bisa. Jika ada orang lain yang mau mengajari mereka saya akan sangat bersyukur. Akan tetapi anak-anak bilang mereka sudah lama tidak mengaji, tidak ada yang mengajari mengaji. Bagaimana bisa saya menolak? Belajar mengaji bukan perkara mudah apalagi jika mereka berbicara dengan bahasa yang berbeda. Saya bersyukur anak yang cukup besar dan mengerti bahasa saya maupun bahasa asli daerah tersebut mau membantu menjadi perantara.

Drama belum berakhir, tinggal di perumahan dinas di desa harus siap dengan segala konsekuensinya. Anak-anak kecil yang ribut di siang hari sehingga saya sulit untuk tidur siang. Juga tamu dari orang tua siswa yang terkadang sampai malam bahkan ketika saya sudah mengantuk, dan saya yakin ekpresi mengantuk itu selalu kelihatan dari raut wajah saya. Akan tetapi saya menghargai perhatian dan kasih sayang warga untuk saya dan keluarga. Hampir setiap hari mereka memberikan saya ikan, sayur, bahkan beras.

Ya, menjadi guru di desa tidak cuma bekerja di sekolah tetapi juga harus bersosialisai dengan warga desa. Atasan saya bekerja di tempat yang lama pernah bilang, “Air laut boleh asin, tapi ikannya tidak lantas ikut asin. Ikannya tetap manis.” Di mana pun kita bekerja, jika kita berniat baik, kebaikan itu akan kembali pada kita dengan segala kemudahannya.

 

 

Lanjutkan Membaca ↓