Mencoba Realistis untuk Hidup yang Lebih Layak, meski Harus Meninggalkan Impian

Endah Wijayanti03 Mei 2019, 10:35 WIB
persewaan buku ayah

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: Ismi Fadillah - Jakarta

Bagi saya cita-cita adalah hal paling berharga yang dimiliki seorang manusia. Sebab, banyak orang yang tidak punya cita-cita hingga dewasa. Cita-cita bukan hanya sebagai tujuan hidup, tetapi juga bisa menuntun ke mana arah langkah saya dalam memilih jalur pendidikan serta karir. Oleh karena itu, saya merasa beruntung punya cita-cita.

Sejak kecil saya akrab dengan koran, majalah, tabloid, berita TV, dan radio. Saya senang menyerap pengetahuan baru dan meng-update diri dengan informasi terkini. Saya juga selalu kagum melihat pembawa berita atau reporter TV. Ya, cita-cita saya adalah menjadi seorang jurnalis.

Setelah lulus kuliah, tentunya incaran pekerjaan saya adalah menjadi seorang jurnalis. Saya melamar di sebuah salah satu stasiun televisi swasta berskala nasional. Proses lamaran yang saya ikuti adalah walk in interview dengan kandidat mencapai sekitar 1.300 orang. Setelah melewati tahap psikotes, interview HRD, tes kamera, dan interview user, saya berhasil menjadi 10 orang yang lulus dan resmi bergabung sebagai karyawan di sebuah perusahaan.

Alangkah bahagianya saya bisa memenuhi impian saya sedari kecil. Meliput peristiwa penting, bertemu tokoh-tokoh terkenal dan melaporkan berita secara live di televisi. Menjadi seorang reporter tidak hanya membuat saya semakin dikenal dan disegani orang sekitar, tetapi juga membuat hidup saya amat berharga karena bisa membagikan informasi akurat dan jujur adalah sebuah tugas mulia. 

 

 

Perjalanan Hingga Tahun Kedua

Hak Pekerja
Ilustrasi./copyright unsplash.com/@tranmautritam

Tahun pertama saya lewati dengan amat baik karena memang tujuan saya adalah mencari pengalaman. Lalu jiwa ambisius saya mengajak saya untuk mencari hal yang jauh lebih menantang seperti jenjang karir dan kenaikan gaji. Untuk jenjang karier, di perusahaan tempat saya bekerja jelas tidak bisa diharapkan karena saya melihat beberapa reporter dan juru kamera yang tidak pernah naik jabatan selama belasan tahun. Gaji apalagi. Gaji yang saya dapatkan sangat-sangat tidak layak jika dibandingkan dengan dedikasi sebagai seorang jurnalis. Bayangkan saja, sebagai anak rantau yang hidup sendiri di ibu kota, gaji saya habis hanya untuk biaya kos, transportasi, dan makan yang apa adanya. Itu pun sering kehabisan dan meminjam uang kepada kakak saya. Kalau tidak punya pacar, saya tidak bisa nonton ke bioskop karena uang saya tidak cukup untuk biaya hiburan.

Maklum saja, saya bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ayah saya saat itu sudah pensiun dan tidak berpenghasilan. Sehingga sejak saya bekerja, saya semestinya membantu orang tua untuk bayar listrik rumah dan keperluan rumah lainnya. Sedangkan rekan-rekan jurnalis yang masih bertahan di pekerjaannya, saya lihat masih disokong orang tua secara finansial karena mereka sudah bermobil sejak sebelum bekerja. Mereka juga tinggal bareng orang tua dan tidak perlu keluar biaya kos seperti saya.

Lewat tahun kedua saya mulai berpikir untuk pindah ke media lain dengan harapan gaji yang lebih layak. Saya pun menjalani beberapa interview dan sudah sampai tahap nego gaji di beberapa media besar. Tapi ternyata standar gaji untuk seorang jurnalis dengan pengalaman dua tahun memang tidak ada yang layak. Saya sangat sedih dan kecewa karena bagaimana bisa saya menjalani impian saya dengan kondisi finansial yang kacau seperti ini?

Merelakan Impian

tantangan dunia kerja
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/@ambarsimpang

Saya melihat beberapa pekerjaan yang menawarkan gaji yang layak bukanlah di bidang media. Setelah melalui pemikiran yang cukup panjang, akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan impian saya demi hidup yang lebih layak. Kini saya tidak berbeda dengan karyawan yang duduk di depan komputer dari pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore, di mana jenis pekerjaan seperti ini adalah yang paling saya hindari karena saya tipe orang yang suka bekerja di lapangan.

Sebelumnya saya berpikir bahwa orang yang paling bahagia adalah orang yang berhasil menggapai cita-citanya. Namun kenyataannya lain bagi saya. Saya justru dikecewakan oleh impian saya sendiri. Sedih, kecewa, terpukul, semua saya rasakan dan harus saya ikhlaskan. Di dunia dewasa saya belajar untuk realistis. Saya pun memilih uang dibandingkan impian.

Walau pekerjaan saya sekarang bukanlah pekerjaan impian, saya bersyukur kondisi keuangan saya jauh lebih baik dan tidak perlu meminjam uang lagi kepada kakak saya. Bahkan, kini saya total menjadi tulang punggung keluarga karena kakak saya kena PHK.

Melalui tulisan ini saya berharap agar kesejahteraan para jurnalis semakin baik. Sebab, jika gaji para jurnalis layak, tidak akan ada jurnalis-jurnalis curang yang menulis berita demi kepentingan tertentu.

Seorang sahabat yang juga bernasib sama seperti saya pernah mengungkapkan perasaannya saat meninggalkan dunia jurnalisme.

“I’ve demolished the bridges behind me. Then there is no choice but to move forward.”

Ya, sudah tidak ada lagi yang dapat mengembalikan saya ke dunia jurnalisme. Tapi ini adalah pilihan hidup. Saya harus bersyukur dan tetap move on. Passion saya dalam menulis tetap saya salurkan melalui blog pribadi dan beberapa project menulis.

“Money is not everything, but without money, everything is nothing.”

 

Lanjutkan Membaca ↓