Passion Kadang Bisa Ditemukan Justru saat Kenyataan Tak Sesuai Impian

Endah Wijayanti03 Mei 2019, 11:17 WIB
menemukan passion

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: Caroline - Jakarta

My Career Matters: Saat Impian Tak Sesuai Kenyataan Mengantarku Menemukan Passion

Ada rasa bahagia dan duka saat akan menyelesaikan bangku SMA, di waktu yang bersamaan, kepergian Ayah yang menjadi tulang punggung keluarga sangat meninggalkan duka yang mendalam bagi saya dan keluarga. Harapan untuk segera melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di universitas ternama di luar negeri tinggalah impian. Tetapi keadaan tidaklah menyurutkan niat saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Beberapa universitas di dalam negeri yang berkualitas menjadi tujuan saya untuk mengenyam pendidikan. Berbagai macam tes masuk perguruan tinggi saya jalani baik perguruan tinggi negeri maupun swasta. Hanya saja yang menjadi permasalahan ketika orang tua tidak menyetujui jurusan yang saya ambil karena pertimbangan biaya, lokasi kampus yang jauh dari rumah dan sebagainya. Impian saya menjadi arsitektur terkenal pun kandas dengan keadaan ekonomi yang tidak bisa dipaksakan. Akhirnya saya pasrah untuk kuliah di jurusan yang tidak pernah saya impikan atau bayangkan sebelumnya.

Keadaan ini tidak membuat saya patah semangat atau menangisi nasib. Justru hal ini mendorong saya untuk menyelesaikan pendidikan secepat mungkin. Singkat cerita, dengan nilai yang baik saya bisa menyelesaikan skripsi di tahun keempat saya kuliah. Lambat laun, saya menikmati dan menyukai jurusan Manajemen Perusahaan yang saya ambil dengan “terpaksa” ini. Walaupun awal perkuliahan tidaklah mudah bagi saya untuk menjalaninya, tetapi saya selalu berusaha untuk tidak menjadikan ini sebagai beban yang menghalangi saya untuk berhasil. Saat kuliah belum sepenuhnya selesai karena masih menunggu perbaikan nilai dan prosesi wisuda, saya sudah memberanikan diri melamar di beberapa perusahaan perusahaan yang menawarkan lowongan bagi fresh graduate.

Bahagia yang tak terkira akhirnya saya diterima bekerja di salah satu perusahaan logistik di Jakarta sebagai staf administrasi. Di perusahaan ini saya banyak belajar berbagai macam hal dunia pekerjaan. Beruntungnya saya memiliki pimpinan dan rekan rekan kerja yang selalu men-support saya walaupun masih baru di dunia kerja. Ditambah lagi saya masih harus bolak-balik kantor dan kampus untuk menyelesaikan kewajiban perbaikan nilai sebelum wisuda. Tentu saja hal ini mendorong saya untuk lebih memanfaatkan waktu dengan baik jika tidak pekerjaan dan kuliah saya akan menjadi berantakan dan tidak akan selesai tepat waktu. Kebaikan hati pimpinan saya yang sering kali memberikan izin saya untuk meninggalkan kantor beberapa jam tidak pernah saya sia-siakan. Sampai akhirnya waktu wisuda tiba dan saya masih melanjutkan karier di perusahaan yang sama. Pekerjaan yang diberikan tidak pernah saya abaikan, saya mencoba belajar dari rekan-rekan kerja yang lebih senior. 

Karier Berkembang

Semangat bekerja (Ilustrasi iStock)
(Ilustrasi iStock)

Jerih payah saya akhirnya berbuah manis, saya mulai dipercaya menjadi personal assistant atau sekretaris dari pimpinan perusahaan yang terkenal sangat perfeksionis dan disiplin. Benar saja, baru beberapa bulan bekerja seringkali saya harus mendengarkan perkataan berupa kritikan pedas dan to the point misalnya meminta saya membuat ulang laporan yang dinilainya tidak sesuai dengan yang dia inginkan. Awal mula menghadapi keadaan ini membuat saya ingin rasanya mengambil langkah seribu meninggalkan perusahaan (resign) tetapi lagi lagi keadaan ekonomi menjadi pertimbangan saya dan akhirnya mengurungkan niat untuk berhenti.

Seringkali saya menangis diam-diam melampiaskan kekesalan, kekecewaan dan perasaan tertekan. Lambat laun saya membiasakan diri untuk menerima setiap perkataannya dan menjadikan kritikan itu sebagai peluang membuktikan bahwa saya sudah bekerja keras sebaik mungkin dan tidak pernah menyerah. Selalu berusaha untuk menghindari kesalahan sekecil apapun, misalnya kesalahan dalam mengetik surat, kesalahan menyampaikan informasi dan sebagainya. Keadaan ini membuat saya menjadi orang yang berinisiatif untuk memikirkan dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya sesuai yang diinginkan oleh pimpinan.

Waktu berlalu, banyak pelajaran yang saya peroleh di sini. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan saya ke jenjang strata dua dengan persetujuan dan izin dari pimpinan. Di balik pribadinya yang perfeksionis, beliau juga sangat mendukung karyawannya untuk maju dan berkembang. Saya pastikan bahwa kuliah saya ini tidak akan mengganggu pekerjaan nantinya. Saya memilih untuk mengambil kuliah di akhir pekan (kelas khusus karyawan di hari Sabtu) dan lulus dalam waktu satu setengah tahun.

Kuliah selesai, pengalaman bertambah banyak, sekarang saya sudah punya kepercayaan diri lebih untuk mencari posisi dan pekerjaan lain yang sesuai dengan yang saya inginkan. Tetapi hal ini tidaklah mudah. Berbagai tawaran datang, melewati tes wawancara dari satu perusahaan ke perusahaan lain, posisi yang pas terkadang tidak diimbangi dengan gaji yang ditawarkan.

Menemukan Passion

Ilustrasi wanita karir
Ilustrasi.(foto: shutterstock)

Sampai pada suatu hari secara tidak sengaja saya bertemu dosen pembimbing pada saat saya kuliah strata dua. Percakapan singkat itu memberikan ide baru dan tantangan untuk saya, agar ilmu yang saya dapatkan tidak saja saya gunakan sendiri, haruslah dibagi ke orang lain. Pesan-pesan dari pertemuan itu membuat tantangan baru bagi saya, sampai akhirnya saya memberanikan diri melamar sebagai dosen pengajar paruh waktu di salah satu lembaga akademi terkenal di Jakarta ini.

Tentu saja menjalani dua profesi tidaklah mudah, harus pandai memilah antara pekerjaan inti dan pekerjaan sampingan. Mendisiplinkan diri untuk tidak mencampur adukkan urusan dua pekerjaan tersebut atau memakai fasilitas perusahaan untuk pekerjaan sampingan yang saya miliki. Manajemen waktu sangat diperlukan untuk menjalani dua profesi ini agar keduanya dapat berjalan dengan sebaik baiknya.

Dari perjalanan karier ini, saya menemukan bahwa passion saya menjadi pengajar dan pendidik. Dengan berat hati saya memutuskan untuk mundur dari perusahaan yang telah membesarkan saya dari “zero” to “something”. Berbagai macam tawaran juga diberikan agar saya tetap bertahan di perusahaan logistik ini, namun saya tetap pada keyakinan untuk berkarir sesuai passion saya.  

Saya percaya bahwa passion akan mendorong saya untuk lebih berhasil dalam berkareir, menjalankan sesuatu dengan sukacita tanpa ada paksaan atau rasa tertekan. Bekerja dengan tekanan itu biasa, tetapi jika pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan passion, maka saya percaya seberat apapun saya mampu menjalaninya.

Saat ini tahun ke-20 saya menjalani profesi saya ini, harapan saya agar setiap orang yang baru memasuki dunia pekerjaan tidaklah mudah menyerah, atau berpuas diri dengan apa yang diperoleh, harus terus mencoba dan melengkapi diri dengan berbagai macam pengetahuan dan pengalaman.

 

Lanjutkan Membaca ↓