Bekerja di Kantor atau di Rumah, Semua Tetap Perlu Disyukuri

Endah Wijayanti05 Mei 2019, 05:30 WIB
Diperbarui 05 Mei 2019, 05:30 WIB
karier rumah

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: Linda Mustika Hartiwi - Banyuwangi

engalamanku sebagai wanita karier selama hampir 19 tahun mempunyai banyak kisah suka dan duka penuh hikmah yang dapat kujadikan bekal dalam perjalanan hidupku yang karena takdir Tuhan, hingga sekarang aku membantu suami bekerja membuka usaha sendiri di rumah. Masih lekat dalam ingatanku saat lulus dari kuliah, aku mengirimkan banyak surat lamaran kerja ke berbagai kantor baik yang ada di sekitar rumahku dengan datang secara langsung atau di luar kota yang kukirimkan lewat pos waktu itu. Setiap hari penuh harap aku menunggu jawaban dari pihak kantor yang kukirimi surat lamaran kerja. Dalam rentang waktu penantian itu aku melangsungkan pernikahan dengan Mas Yus, suamiku, yang juga teman sekolah SMP dan SMA. Mas Yus yang lulus sekolah Analis Kimia dan saat itu bekerja sebagai “dokter” nya udang di sebuah perusahaan tambak udang yang lokasinya cukup jauh dari rumah, membuatku untuk ikut Mas Yus dan tinggal di mess yang ada di area lahan tambak udang.

Awal aku ikut Mas Yus di mess, aku sering ditinggal sendirian karena lokasi kantor tempat kerja Mas Yus agak jauh jaraknya dari mess meskipun berada dalam satu wilayah perusahaan tambak udang. Di depan mess tempat aku dan Mas Yus tinggal sehari-hari terbentang lautan luas dengan jarak sekitar satu kilometer dari mess. Saat menjemur pakaian di tali jemuran yang ada di dekat mess, seringkali pakaian yang kujemur itu sudah berhamburan jatuh di tanah karena saking besarnya angin yang berhembus hingga penjepit pakaian tak sanggup menjepit pakaian dengan kuat.

Kalau mau belanja keperluan bahan-bahan makanan ke warung terdekat, aku harus berjalan kaki sekitar satu kilometer jauhnya dengan membawa payung meskipun hari tidak sedang hujan karena cuaca panas yang sang sangat menyengat. Jika malam telah tiba, terdengar deburan ombak laut yang menemaniku dan Mas Yus dalam buaian mimpi. Kehidupan bersama Mas Yus di awal pernikahan yang tinggal di mess dan akrab dengan kehidupan alam laut yang khas semua kujalani dengan ikhlas karena Mas Yus merupakan pilihan hatiku. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tawaran Kerja

bekerja guru
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Hingga di suatu hari itu, sekitar sudah dua bulan aku menemani Mas Yus tinggal di mess tambak udang, Mas Yus mengatakan ada ajakan dari pimpinan tambak untukku menjadi tenaga administrasi, kalau aku mau. Tanpa pikir panjang aku menyanggupi ajakan itu. Singkat cerita, selama enam bulan aku bekerja sebagai karyawan administrasi yang tugasnya mencatat pembagian pakan udang untuk beberapa bagian lahan tambak. Gaji yang kuterima dengan nominal yang tidak seberapa kusyukuri untuk menambah penghasilan Mas Yus.

Hingga kemudian aku hamil dan tak disangka ada telepon dari salah seorang pimpinan dealer motor yang pernah kukirimi surat lamaran kerja dulu, agar aku menghadap untuk melakukan tes wawancara. Aku menjadi bimbang dan ragu untuk berangkat tes wawancara karena aku sudah merasa suka dengan pekerjaanku di tambak udang. Namun Mas Yus menyarankan agar aku datang untuk melakukan tes wawancara, siapa tahu akan ada hal baik untukku.

Akhirnya dengan diantar Mas Yus setelah meminta izin dari pimpinan di tambak, aku mendatangi kantor dealer untuk menemui pimpinan dealer dan melakukan tes wawancara sesuai yang disampaikan lewat telepon sebelumnya. Saat bertemu dengan pimpinan dealer, seorang pria setengah baya, ada kesan ramah dan sabar kutangkap dari pribadi beliau. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadaku dapat kujawab dengan rileks tanpa beban. Sembari aku berdoa dalam hati agar aku bisa diterima sebagai karyawan baru di dealer tersebut. Dan tanpa kuduga di akhir wawancara yang berlangsung, bapak pimpinan dealer mengatakan kalau aku diterima dan bekerja mulai bulan depan. Aku senang sekali mendengarnya dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Di luar ruangan Mas Yus sudah menungguku dan segera kusampaikan berita bahagia itu. Mas Yus pun ikut senang mendengarnya.

Setelah berpamitan kepada pimpinan tambak udang dan telah ada penggantiku di bagian administrasi, aku pun memulai pekerjaanku yang baru di dealer motor dengan suasana dan lingkungan yang baru pula. Dengan keadaan hamil muda aku berusaha semaksimal mungkin memahami yang disampaikan oleh mbak senior yang mengajariku tentang hal-hal yang akan kukerjakan sesuai dengan bidang pekerjaan yang diberikan untukku.

 

Pengalaman Kerja

pengalaman kerja
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Hari demi hari kujalani rutinitas pekerjaan baruku hingga pada akhirnya aku menyerah karena aku mengalami mual-mual dengan kehamilanku. Aku menjadi tidak fokus pada pekerjaan dan merasa tidak enak hati dengan karyawan senior lainnya. Tepat seminggu aku bekerja dan akhirnya aku berpamitan kepada bapak pimpinan dan beliau mempersilakan aku untuk kembali kelak kalau aku ingin bekerja lagi. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih kepada beliau untuk kesempatan yang diberikan kepadaku.

Hari-hari kemudian kujalani di rumah ayah dan ibuku untuk menyambut kelahiran anakku dan aku berjauhan dengan Mas Yus. Dalam satu bulan sekali atau dua kali Mas Yus mengunjungiku. Hingga tak terasa sampailah saat yang membahagiakan itu, kelahiran pangeran kecilku, buah cintaku dengan Mas Yus 

Sampai di sebuah kesempatan selama lima bulan aku merawat dan mengasuh anakku di rumah ayah dan ibuku, beliau berdua mengatakan kalau ingin merawat anakku dan menyarankan aku untuk kembali bekerja membantu Mas Yus memenuhi nafkah keluarga kecilku. Setelah mendapat persetujuan dari Mas Yus, walaupun dengan berat hati, akhirnya aku kembali menghadap bapak pimpinan dealer dan menyampaikan kalau mungkin masih ada tempat untukku, aku ingin kembali bekerja. Ternyata bapak pimpinan masih ingat dengan janjinya dulu dan menerimaku sebagai karyawan.

Walaupun sebelumnya aku pernah bekerja, kini aku kembali menghadapi banyak hal baru sehubungan dengan kembalinya aku ke perusahaan sebagai karyawan. Rekan kerja, pekerjaan, suasana, dan lingkungan yang semuanya serba baru untukku. Aku harus mampu menghadapinya karena juga masih memikirkan tentang anakku. Semua kujalani dengan ikhlas, dengan niat ingin bekerja dengan baik dalam membantu Mas Yus untuk mendapatkan rezeki yang berkah.

Dengan kesungguhanku dalam pekerjaan untuk mengerjakannya dengan baik serta selalu menjaga hubungan yang harmonis dengan sesama rekan kerja, dalam perjalanan karierku oleh bapak pimpinan aku diberikan kesempatan untuk belajar di semua divisi pekerjaan yang ada di kantor. Aku senang sekali mendapat kesempatan itu dan ternyata dalam waktu yang berjalan aku merupakan satu-satunya karyawan yang diberi tugas oleh bapak pimpinan untuk memberikan training kepada calon-calon pimpinan cabang baru karena penempatanku di berbagai divisi pekerjaan yang ada di kantor.

Meskipun dengan mendapatkan kesempatan yang membanggakan itu ada rekan kerja yang iri dan menunjukkan sikap tidak suka kepadaku, aku tetap baik dalam menanggapinya. Yang penting aku teguh dalam berprinsip untuk tidak sekalipun menjatuhkan rekan kerja di mata pimpinan demi kemajuan diri sendiri. Pantang bagiku untuk bersikap “Asal Bapak Senang” di atas keburukan orang lain yang kusampaikan dan belum tentu kebenarannya.

Memutuskan di Rumah

startup
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Sekitar sepuluh tahun kemudian, bapak pimpinan mengadakan angket untuk penilaian masing-masing karyawan yang diisi oleh karyawan. Jadi semacam penilaian karyawan yang dilakukan oleh sesama karyawan lainnya di kantor. Pertanyaan di angket tersebut mengenai pendapat karyawan tentang siapa rekan kerja yang berpenampilan rapi, baik dalam menyelesaikan pekerjaan, disiplin waktu, berperilaku ramah dan baik, juga pertanyaan-pertanyan lain yang berkenaan dengan penilaian pribadi seorang karyawan.

Dan tak pernah kuduga jika ternyata aku yang terpilih menjadi karyawan terbaik dengan mendapatkan suara terbanyak dari yang dipilih oleh rekan kerja di kantor. Rasa haru, bahagia dan bangga bercampur aduk kurasakan serta tak lupa kupanjatkan rasa syukurku kepada Tuhan atas karunia indah yang telah diberikan untukku dengan meraih prestasi diri yang baik. Predikat karyawan terbaik yang kusandang lantas tidak menjadikanku untuk sombong dan semena-mena atau semaunya dalam bekerja. Justru sebaliknya, aku harus mampu untuk menjaga predikat tersebut dalam perilaku dan tutur kata dari diriku.

Hingga pada tahun 2017 yang lalu aku kecelakaan dan membuatku harus resign dari pekerjaanku sebagai wanita karier serta menjadikanku sebagai orang dengan berkebutuhan khusus sampai kini, aku belajar untuk selalu ikhlas dan mensyukurinya. Aku juga belajar untuk tidak menyesali akan takdir Tuhan untukku. Kisah pengalaman suka dan dukaku saat bekerja sebagai wanita karier kujadikan bekal untuk menghadapi kehidupanku sampai saat ini. Ada hikmah indah yang bisa kupetik, pikiranku tidak terpecah antara karier dan keluarga. Aku tetap bisa membantu Mas Yus memenuhi kebutuhan keluargaku dengan bekerja membuka usaha sendiri sembari mengasuh dan merawat anakku di rumah.

Semoga kisahku ini dapat menginspirasi Sahabat Fimela. Salam.

Lanjutkan Membaca ↓