Saat Hati Belajar Memaafkan, Langkah Akan Ringan dalam Menerima Takdir Tuhan

Endah Wijayanti14 Mei 2019, 19:15 WIB
belajar memaafkan

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: Ary - Denpasar

Awalnya memang berat untuk bisa mengerti apa makna maaf sebenarnya. Bibir mengucap, "Aku memaafkannya," tapi hati menolak menerimanya. Saat aku berangsur beranjak tumbuh dewasa hidupku selalu diliputi oleh beragam ketidakadilan, kekecewaan, iri, rasa malu, dan juga ketidakpercayaan akan bagaimana sosok yang lahir dalam diriku. Mengapa bisa begitu? Sebabnya adalah lingkunganku yang tidak mau memberiku kesempatan untuk bisa membuatku berkembang mencari dan menjadi jati diriku sendiri. Sosok yang paling aku hormati, takuti, sayangi, amat percayai sekaligus sosok yang paling membuatku merasa hancur. Beliau adalah ibuku sendiri. Ya kalian boleh percaya atau tidak, namun beginilah kehidupanku.

Ketika aku ingin bergaul dengan teman belia seusiaku menikmati masa masa kecil beliau melarangku. Ketika aku ingin menjalani hobi atau passionku, beliau menghalangiku. Seluruh beban yang beliau pikul selama ini membuatnya melampiaskan seluruh amarahnya padaku dengan kekerasan dan menjadi sosok ditaktor yang paling menakutkan dalam hidupku. Hanya aku lah sasaran dan berkali-kali menjadi korban sekaligus saksi betapa kerasnya beliau. Pernah terbesit dalam pikiranku merasa bosan lalu ingin kabur atau menghilang walau semenit saja dari hadapannya agar fisik dan batinku tidak terluka ataupun merasa sakit. Mentalku merasa terguncang akan kekerasannya hingga aku tumbuh menjadi gadis yang pesimistis dan penakut. Namun apa daya? Aku sayang padanya maka tetap kujalani semuanya.

Tujuh tahun dengan penuh sadar aku hidup dan merasakan apa saja yang beliau lakukan padaku, hingga tiba saatnya ketika perpisahan orang tua terjadi akibat jalan juga pilihan ibukku sendiri. Tak kusangka dan kaget sekaligus amat merasa kehilangan, merasa lega pun takut apabila suatu saat bapak menemukan sosok pengganti ibu yang lebih kejam. Mau tak mau aku berusaha memaafkan semua ketidakadilan di masa laluku, menepis terkaanku hingga aku menerima sosok ibu yang baru dalam hidupku walau dia hanyalah ibu tiriku. Aku mulai berdamai dengan keadaanku, aku menghargainya, menyayanginya sama seperti aku menyayangi ibu kandungku yang dulu dan akhirnya kusebut dia "Mamak". Ketika aku dalam masa-masa tumbuh menjadi gadis remaja dan ingin menjalani passion-ku maupun keinginanku dalam sebuah karier di industri pariwisata, menjadi public speaker, dan mengulang masa-masa kecilku yang tertunda diusiaku saat ini pun dia tetap mendukungku hingga aku bisa meraih mimpiku satu per satu.

 

 

Berusaha Tegar

Doa Ramadan
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Terheran karena ibu kandungku sendiri dengan rasa menyesalnya terus terusik akan keberhasilan hidup yang aku jalani. Melimpahkanku berbagai macam asumsi bahwa aku terhasut oleh ibu tiriku, aku berubah dan tidak mendengar perkataannya, setiap kali hidupnya hancur karenaku hingga mendoakanku agar hidupku sama hancurnya sepertinya.

Betapa menyakitkannya bukan perkataan itu? Haruskah aku mendengarnya sebagai amarah atau juga sebagai doa seorang ibu? Tapi beruntungnya aku selalu ada "Mamak" sosok sederhana selalu mengingatkanku bahwa aku lahir dari rahim ibuku. Selalu mengingatkanku untuk mendoakannya agar ibu bisa menerima kenyataan akan pilihan yang dia ambil dulu. Selalu mendukung apapun pilihan hidupku sekaligus pengingat diriku ketika ada hal buruk yang aku lakukan.

Aku memilih tetap menjadi diriku sendiri. Menjalani passion-ku dengan bekerja di bidang yang kusukai sekaligus membantu orang tuaku dengan alasan aku ingin menjadi wanita yang mandiri, tangguh dan kuat walau pada akhirnya aku menjadi musuh ketika keinginannya tidak diwujudkan. Bagiku ia tetaplah ibuku sendiri. Beliau adalah orang yang luar biasa dalam hidupku. Aku tetap menyayanginya, mendoakannya dan berharap pintu sadar dan keikhlasan terbuka dalam hatinya. Bagaimanapun ia, karena semua keputusannya lah aku bisa mencapai cita-citaku saat ini. Aku dapat menjalani setiap impianku walau aku harus memulai dengan orang yang baru.

Maaf, Tulus, dan Ikhlas

memaafkan diri sendiri
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Tak terbesit hal serumit ini terjadi dalam hidupku, ketika aku menginginkan sesuatu, rintangannya tak semudah aku menginginkan mimpiku. Tak pernah menyesal akan apa yang aku jalani, lewati dan rasakan. Tumbuh menjadi anak yang berbeda dengan yang lainnya, dan aku harus memenuhi sendiri "apa pun" yang aku inginkan dengan upayaku sendiri walau diluar sana aku melihat banyak orang yang bisa mendapatkan apa yang mereka mau dengan mudahnya.

Aku tak ingin dendam ataupun benci pada semua hal buruk itu. Aku jalani dengan ikhlas, dengan tulus dan selalu menjadikan prinsip bahwa beginilah hidupku diciptakan oleh tuhan. Beliau ingin aku menjadi pribadi yang luar biasa dan memiliki cerita paling beda engan yang lainnya. Di sini aku belajar, ketika hatimu ikhlas dalam menjalani ujian maka yakinlah akan ada pendewasaan diri. Ketika hatimu belajar memaafkan, kamu akan kuat pasti pula ada pengalaman yang luar biasa mengiringi. Ketila hatimu ikhlas, langkahmu akan ringan dalam menerima takdir Tuhan.

Percayalah Tuhan tak pernah memejamkan penglihatannya sedetikpun dari hidupmu dan selalu ada Karma baik menyertaimu atas semua usahamu. Ketika aku melihat kilas hidupku dimasalalu, betapa beruntungnya aku saat ini. Semua ini karena maaf, ikhlas, dan tulus yang menuntunku menuju Jalan Tuhan yang seutuhnya.

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓