Jangan Membesarkan Masalah yang Masih Bisa Diselesaikan Baik-Baik

Endah Wijayanti22 Mei 2019, 12:15 WIB
masalah besar

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: M - Medan

Di kontrakan saya sekamar berdua dengan salah seorang teman yang berasal dari Pulau Sulawesi, sementara saya berasal dari Pulau Sumatera. Dua pulau yang jauh berbeda, namun dipertemukan di Pulau Jawa, sebuah pulau yang sama-sama kami berdua tidak pernah menginjaknya sama sekali sampai masa perkuliahan tiba.

Kami berdua kuliah di kampus yang sama, yaitu di salah satu kampus negeri Yogyakarta. Kami terbiasa sebelum terlelap dalam tidur terlebih dahulu main HP, dan kebetulan HP saya lowbat, kemudian saya mengisi daya HP saya dengan charger yang kebetulan memang dalam keadaan tidak begitu normal, akan tetapi masih bisa dipergunakan.

Selama HP dicas terkadang charger HP saya perlu awasi terlebih dahulu dan dapat ditinggal ketika dapat dipastikan charger tersebut benar-benar sudah tepat. Selama dua bulan saya dengan charger HP seperti ini, sampai saya merasa sudah terbiasa dan tak pernah terbesit mengeluh. Intinya saya merasa cukup (qana’ah) dalam hal ini, dan kenyataannya HP saya masih selalu aktif sama seperti HP teman lainnya yang charger-nya lebih baik dibandingkan punya saya. Di setiap saya mengecas, mungkin teman kamar saya selalu memperhatikan, sampai akhirnya ia berkata dengan nada yang serius:

“Kamu beli lah charger HP tuh, punya uang kok.”

Ya, mungkin kalimat itu sudah lama dipendamnya, sampai akhirnya terucapkan setelah 2 bulan saya menggunakan charger itu. Saya mendengar ucapannya, namun saya hanya diam saja. Dua minggu setelahnya, saya menerima perkataan yang tidak jauh berbeda darinya.

Waktu itu kebetulan ketika saya mengecas hp dan dia tidak lagi di kamar, sehingga saya mengecas di meja tempat dia biasa memainkan laptop. HP saya belum terisi penuh, ia kembali ke kamar dan saya masih menghadap laptop mengerjakan tugas akhir. Ia menggeser HP saya ke lantai karena ia mau mengerakan tugasnya, ketika melihat itu saya hanya mengingatkan

“Lihatkan lagi ya charger-nya, masuk atau tidak,” dengan mata saya beralih pandangan dari laptop ke HP.

Karena ia lihat charger belum masuk, ia berusaha memperbaiki namun kesusahan, mungkin karena belum terbiasa menggunakannya. Saking susahnya ia rasa, tercetusnya kembali, “Kamu kalau gini namanya menzalimi dirimu sendiri," mendengar hal itu saya terdiam dan terbesit dalam hati.

Jika saya membenarkan ucapannya bahwa saya mendzolimi diri saya, itu sama halnya saya menganggap bahwa kedua orang tua saya lah yang sebenarnya menzalimi saya, karena keperluan saya mereka yang menanggung.

 

Berusaha Tenang

maaf untuk bapak
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Pada awalnya saya tidak mau merespons kembali, namun pikiran saya terhadap itu terus mengusik, sampai akhirnya saya mencoba menepis ucapannya, “Tahu dari mana kamu, bahwa saya sedang mendzolimi diri saya?"Mendengar itu ia spontan menjawab, “Ya dari chargermu ini, sudah tahu rusak bukannya kamu beli, selama kamu merasa susah dengan charger-mu itu, berarti itu sama halnya kamu menzalimi dirimu sendiri."

Saya mendengarkan serius apa yang ia ucapkan, kemudian saya merespon kembali, “Apa yang selama ini menurutmu sulit, belum tentu menurut orang lain sulit, termasuk dengan saya dalam hal ini, saya tidak merasa kesulitan. Saya tahu charger ini tidak normal, namun ini tidak menghalangi saya memainkan HP sama seperti kamu memainkan HP dengan charger yang normal. Dan yang perlu kamu ingat, kamu tidak berhak menghamikimi apa yang orang sedang lakukan untuk hidupnya, selama ia tidak mengganggu hakmu dan orang lain."

Kami sama-sama terdiam, di hari berikutnya saya tetap tidak terhasut untuk membeli charger yang baru selama charger ini masih dapat saya pergunakan, dan sampai saya bisa pastikan saya memiliki uang yang lebih dan dapat dialokasikan ke hal itu. Uang yang saya terima dari kedua orang tua, saya pergunakan ke hal yang lebih penting dan jika ada sisa saya simpan, karena saya tidak tahu kebutuhan apa yang tidak disangka-sangka bakal muncul. Hubungan pertemanan saya dengannya tetap terjalin seperti biasanya, namun di hari pertama kelihatan janggal, namun itu tidak berlangsung lama. Karena saya sadar mencari satu teman tidak lebih mudah dengan mencari 1.000 musuh.

Sejujurnya, saya mempunyai prinsip untuk memaklumi siapa saja yang membicarakan apa yang menurutnya salah dari orang lain (terkhusus dalam hal kepemilikan barang), karena ia memandang dari sudut pandangnya sendiri. Saya memaklumi hal itu berawal dari keinginan saya menabung, saya berusaha untuk menabung karena saya sadar mata dan semua organ tubuh yang saya miliki, bahkan dengan bantuan orang lain pun tidak akan sanggup menentukan kebutuhan saya kedepannya. Oleh sebab itu lah, saya menganggap mata orang lain sama saja dengan mata saya, punya batasan tertentu, hanya mampu melihat hal yang tersurat namun tak mampu melihat hal yang tersirat.

Jadi, ke depannya bersikap arif dan bersabarlah ketika ada yang menyalahkanmu, dan jangan membesarkan masalah yang masih bisa diselesaikan dengan baik-baik, dan ingatlah mata kita hanya mampu melihat sebagian kecil saja, dan hanya Allah yang Maha Melihat. Tetaplah lakukan apa yang menurutmu itu harus dilakukan, karena orang yang paling mengenalmu ialah dirimu sendiri.

 

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓