Memaafkan Hati yang Mendua Butuh Keikhlasan Luar Biasa

Endah Wijayanti27 Mei 2019, 05:30 WIB
hati mendua

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: Desi Puji Sakti - Brebes

Aku dipertemukan dengan sosok laki-laki yang bertanggung jawab kala itu. Dia begitu berani memintaku di hadapan kedua orang tuaku. Menyampaikan niat seriusnya untuk melamar. Proses perkenalan kami terbilang singkat, hanya beberapa bulan. Tapi, dia sudah bisa mengambil hati aku dan yang terpenting juga, dia bisa meyakinkan ibu dan bapak, sampai kami mendapatkan restu.

Dia selalu ada untuk aku, bahkan dia dengan setianya menemaniku bolak-balik ke Semarang untuk mengantar ibu yang ternyata tiba-tiba saja di diagnosa oleh dokter terkena kanker payudara, awalnya dikira hanya gatal-gatal biasa seperti alergi. Aku semakin percaya diri dan yakin dengan tunanganku, melihat dia juga ikut merawat Ibu yang tengah sakit. Ya, kami akhirnya bertunangan setelah 3 bulan kami menjalin hubungan.

Semuanya baik-baik saja dan dia masih begitu baik di mata aku dan keluargaku. Sampai suatu hari, dia tiba-tiba memutuskan pertunangan. Bukan memutuskan pertunangan karena kami akan berganti status menjadi menikah, tapi benar-benar kita putus. Dia harus bertanggung jawab untuk wanita lain.

 

2 of 3

Manusia Hanya Bisa Berencana

maaf untuk bapak
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

“Astaghfirullah," berkali-kali aku mengucapkan istighfar mendengar alasan yang keluar dari bibir gia. Bagaimana bisa gia menutupi semuanya di balik sifat dan sikap dia yang nyaris sempurna di mataku dan ibuku yang sudah berharap dia menjadi suamiku. Wanita itu tengah hamil, dan dia harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah dia perbuat. Sulit untuk aku memaafkan dia.

Aku belajar ikhlas dan sampai benar-benar memaafkan dia. Setidaknya dengan memaafkan dia, sakit hati dan dendam juga akan luntur bersama kata maaf dan ikhlas. Allah saja Maha Pemaaf, apalagi hamba-Nya. Masih banyak di luar sana wanita-wanita yang begitu tegar, aku belum seberapa.

Justru Allah sangat baik terhadapku, memperlihatkan semuanya sebelum adanya prosesi pernikahan, yang sudah kami rencanakan. Hidup harus bisa menerima kenyataan. Manusia bisa berencana, tapi Allah yang memutuskan.

3 of 3

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓