Meski Memaafkan Tak Menghapus Trauma, tapi Bisa Memperbaiki Keadaan

Endah Wijayanti26 Mei 2019, 20:30 WIB
maaf dan trauma

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: P - Gunungsitoli

Memaafkan Lebih Dulu

Kata memaafkan adalah sebuah kalimat yang kerap menjadi jalan pintas dan solusi termanjur untuk menciptakan suasana damai. Damai yang tercipta bukan hanya untuk meredakan pertikaian tetapi lebih pada ketenangan hati dan batin diri sendiri. Namun memaafkan dengan tulus kadang lebih rumit dari pada mengucapkannya.

Memaafkan orang yang telah menyakiti atau bahkan menghancurkan dan menyebabkan bencana besar dalam kehidupan kita merupakan hal yang paling sulit atau bahkan menimbulkan rasa dendam dan kebencian berkepanjangan jika tidak mampu menahan diri dan tidak berbekal kata “memaafkan”.

Datang Dari Masa Lalu

Beberapa bulan yang lalu, aku bertemu dengan seseorang yang aku rasa adalah bagian dari masa lalu. Saat itu aku masih duduk di bangku SD, dan menjadi korban bullying oleh beberapa kakak kelas. Kami pulang sekolah bersama-sama, mengingat saat itu sekolahku sangat jauh dari rumah. Mereka ini satu kompleks denganku dan tidak ada pilihan lain selain pergi dan pulang sekolah bersama mereka. 

 

Bullying Membuatku Takut Memulai Hari

Bullying
Ilustrasi/copyright shutterstock

Hari-hari yang aku lalui saat pertama memulai sekolah di bangku SD cukup berat. Saat itu komplotan kakak kelas ini sungguh tidak ada rasa belas kasih untuk anak sekecil itu. Setiap pulang sekolah mereka berlari jauh dan sengaja meninggalkanku di tengah jalan.

Pernah suatu hari aku didorong ke tepi jalan hingga badanku mengalami luka-luka salah satunya di pipi kiriku yang masih meninggalkan bekas hingga saat ini. Setiap berangkat ke sekolah ibuku memberiku bekal dan uang jajan. Tetapi saat itu bekal yang aku bawa malah direbut dan dimakan oleh mereka.

Dan masih banyak lagi kekerasan yang aku alami baik verbal maupun nonverbal yang membuat aku suatu hari tidak lagi mau ke sekolah. Pagi itu ibuku membangunkan aku untuk ke sekolah tetapi aku hanya bisa menangis dan bangun dengan rasa takut untuk memulai hariku.

Hingga suatu ketika orangtuaku melaporkan hal ini ke pihak sekolah dan komplotan kakak kelas tersebut diproses dan pada akhirnya ayahku memindahkan aku ke sekolah lain.

Kini Aku Menyapa Masa Laluku

maaf lapang dada
Memaafkan bisa melapangkan dada./Copyright shutterstock.com

Tepat pada bulan April 2017 lalu aku menamatkan studi sarjanaku di luar daerah. Setelah lulus kuliah aku pulang ke rumah orangtuaku dan bekerja di sini. Saat melintas di sebuah rumah, di situ aku melihat ada seorang perempuan dewasa kami saling bertegur sapa. Dia membuatku teringat kembali pada 18 tahun yang lalu salah seorang yang pernah membuat masa SD ku begitu sulit namun kini menjadikanku pribadi yang bersyukur. Bersyukur mampu melewati masa-masa sulit itu. Dan bagiku bullying bukan alasan untuk tidak melanjutkan sekolah apalagi menghindar dari lingkungan sosial.

Memaafkan bukan hanya untuk menjalin hubungan sosial yang lebih baik tapi lebih pada kedamaian hati dan batin kini aku memandang masa lalu itu dengan senyum dan hati yang tulus. Terima kasih masa laluku, kau telah mengukir sebagian cerita dari perjalanan hidup ini.

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓