Hati yang Terluka Membuat Amarah Ini Sulit Padam, Meski Tak Ada Dendam

Endah Wijayanti27 Mei 2019, 19:15 WIB
bercerai dengan suami

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: Rhey - Tasikmalaya

Permintaan Maaf yang Tak Pernah Terucapkan oleh Mereka yang Menyakitiku

Aku tak ingin meminta maaf pada siapapun. Bagiku permintaan maaf hanya patut dipersembahkan kepada Allah lewat istighfarku, salat malamku, sujudku dan taubatku. Malah aku berpikir ada beberapa orang yang sepatutnya meminta maaf atas kesalahannya padaku. Sungguh.

Hampir separuh umurku menunggu ucapan maaf dan penyesalan dari ayahku. Penyumbang DNA dan garis keturunan paling utama dalam kehidupanku. Atas perlakuannya yang telah pergi meninggalkan keluarga dan menelantarkan sekian lama. Aku yang bertumbuh tanpa ada kedekatan sosok laki-laki di rumah yang bisa kupanggil Papa. Dia berutang waktu yang terbuang sia-sia karena kesalahan masa mudanya, wanitanya, dan keegoisannya.

Sesakit aku melihat mama berjuang sendiri membanting tulang untuk keempat anaknya, sedangkan papa tak pernah peduli kami sedang apa, bisa makan kah, punya baju Lebaran tidak. Beliau memang tak pernah berteriak padaku atau menamparku. Tapi dengan sikapnya yang tidak menghormati dan menyayangi istrinya dan ibu dari anak-anaknya, meninggalkan rasa kecewa mendalam bagiku. Seperti sudah hambar dengan ucapan Minal Aidin Wal Faidzin yang beliau sampaikan via telepon beberapa tahun silam. Bukan permintaan maaf sungguhan, layaknya formalitas saja.

 

 

Perceraian

Perceraian
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Sudah hampir 3 tahun ini aku menunggu permintaan maaf dari mantan suamiku. Pria yang lebih memilih menceraikanku dibanding memperbaiki kesalahannya dan berusaha keras memperbaiki kehidupan rumah tangga kami yang luluh lantak terkena badai. Saat aku menyampaikan permintaan “Islah dengan dia”, dia adalah perempuan yang berusia 10 tahun lebih muda dariku, yang lebih menarik karena masih berstatus mahasiswi perguruan tinggi swasta dan mantan pramugari maskapai nasional, yang lebih... mungkin cukup kusebutkan kelebihan dari secuil kekurangannya berhubungan dengan suami orang.

Tapi yang lebih kuingat adalah keputusan mantapnya di depan mamaku dan mama mertua, “Lebih baik aku pisah!” Cukup tegas tanpa penyesalan. Itu sungguh melukai harga diriku sebagai seorang istri yang telah mendampingi masa perjuangannya, Oh Allah.. He did a big mistake and ditched me. He owes me an apology.

Terlebih lagi dia bisa dengan begitu tega mengabaikan keberadaan putri kami tanpa perhatian dan nafkah sedikit pun setelah palu hakim memutus hubungan suami-istri di bulan Ramadan 2 tahun lalu. Aku sudah cukup mengingatkan kewajibannya dengan sangat baik tapi selalu dibalas dengan perkataan kejam mengiris hati, “Kamu mengemis." Dan lagi... aku masih menunggu permintaan maafnya yang menghinaku karena mengingatkan tanggung jawabnya sesuai apa yang ada dalam putusan Pengadilan Agama.

Alih-alih mereka kebanggaan dan berkat dalam hidupku, justru menjadi momok menakutkan dalam setiap tidurku. Kadang aku terbangun di tengah malam hanya karena bermimpi menangis meraung memaksanya mengucap maaf. Aku terpejam dengan air mata mengalir di pipi. Aku bisa bebas bersumpah serapah di mimpi itu supaya semua adil. Kalian menyakitiku dan aku berhak melakukan hal yang serupa.

Tak Ingin Menyimpan Dendam

Perceraian
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Cukup dalam mimpi karena aku tak mampu benar-benar berlaku kasar kepada orang lain. Bukan karena jaga image, tapi hati ini tak sanggup meloloskan bibir untuk menyamakan manusia dengan binatang, walaupun perlakuan tak lebih baik dari binatang itu. Napas tersengal dan jantung berdegup keras ketika akhirnya aku terbangun mengusap pipi yang basah. Apa salahku sehingga kalian setega itu?

Waktu silih berganti, begitu juga manusia akan berubah dan mendewasa karena ujian. Kusadari mereka bagian dari ujian keikhlasanku dan belajar legawa. Tidak mungkin manusia dapatkan semua yang diinginkan, tapi Allah pasti berikan apa yang dibutuhkan. Aku butuh ketenangan dan kedamaian jiwa. Menyadari kebencian melalap habis lahir dan batin.

Ternyata aku pun tidak berbahagia dengan membalas perlakuan mereka yang kurang baik padaku. Aku melupakan satu hal terpenting bahwa aku harus memaafkan diriku sendiri terlebih dahulu. Mantan suamiku orang yang aku persilakan masuk dalam kehidupanku, dengan apa yang terjadi saat ini adalah konsekuensi dari pilihan hidupku. Dia mungkin salah, aku pun tak luput menyumbang kesalahan membiarkan dia melakukan hal buruk padaku. Padahal bisa saja aku pura-pura bego lalu pergi meninggalkannya daripada perang urat argumentasi yang akhirnya menyakiti satu sama lain.

Aku tidak menyimpan dendam, hanya marahku belum padam sebab egoku terluka. Papaku mungkin beliau khilaf, dia tidak menyadari perlakuan ke mama akan berdampak pada anaknya yang masih kecil dan tumbuh dewasa dengan banyak pertanyaan yang tidak pernah terselesaikan karena tidak pernah ada komunikasi yang bagus di antara kami. Mungkin juga belum menemukan waktu yang tepat menyampaikan segala penyesalan yang telah beliau rasakan di masa tua.

Berusaha Bertahan

pelukan pada anak
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Sampai akhirnya padaku saat ini, duduk bersila dengan mata terpejam, membiarkan dua lengan memeluk tubuhku sendiri dengan ucapan, “I love you, forgive me." Aku tak ingin lagi menunggu permintaan maaf dari siapa pun. Meskipun itu sebuah permintaan maaf yang tak pernah tersampaikan. Sambil terus ber-istighfar dan mengucap doa 10 hari akhir Ramadhan,

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni

“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku”

(HR. Tarmidzi & Ibnu Majah)

Mengecup lembut puncak kepala putri yang tertidur pulas sembari membisikkan kata, “Maafin mimmii ya, kamu selalu jadi anak kebanggaan mimmii, I am proud of you." Anakku pun lebih terluka karena perpisahannya orang tuanya dan ketidakpedulian papanya.

My turning point was when I realized he never deserves in my life. Even though those memories and this lil cutie pie – full copied of him, will stay for the rest of my life. So I decide to forgive and go along with this pain. Embrace the hurt. Nope, I do not lose the battle inside. But I seek for peace, I found it with ikhlas, sabr and forgiving, don’t you?

Tasikmalaya, 26 Mei 2019

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓