Jangan Terbang karena Pujian, Jangan Tumbang karena Cacian

Endah Wijayanti28 Mei 2019, 10:15 WIB
cacian pujian

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: E - Magelang

Aku adalah anak terakhir dari dua bersaudara. Kondisi ekonomi keluargaku yang bisa dikatakan “below average” menuntut aku dan kakakku untuk ikut merasakan perjuangan kedua orang tua kami untuk bisa menyambung hidup dengan terus melanjutkan sekolah. Sejak masih duduk di bangku SD, sepulang sekolah ataupun pada saat hari libur, kami membantu bekerja di sawah. Sengatan matahari tak kami hiraukan, derasnya hujan tak kami indahkan. Lumpur, bau pupuk kandang, dan cacing tanah sudah bukan lagi menjadi hal yang menjijikkan. Disaat anak-anak yang lain sibuk menikmati masa kecilnya, kami sudah diajari berjuang melawan kerasnya hidup. Saat malam tiba, kami pun berjuang melawan rasa kantuk dan lelah untuk bisa tetap belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Selain menjadi petani, ayahku bekerja sebagai buruh penyadap air nira yang diolah menjadi gula jawa milik seorang “tuan tanah” di desa kami dengan sistem bagi hasil. Setiap pagi dan sore hari, ayah memanjat beberapa pohon kelapa untuk disadap air niranya yang kemudian diolah menjadi gula oleh ibuku, di mana proses pengolahannya memakan waktu yang sangat lama. Saat musim hujan tiba, gula yang dihasilkan tidak sebagus apabila musim kemarau. Tak jarang pula, saat masih di atas pohon, angin bertiup sangat kencang hingga membuat ayahku harus bertahan agar tidak terjatuh.

Terkadang, aku pun ikut ambil bagian untuk mencari daun-daun kering di kebun, ataupun mencari kayu bakar di gunung yang digunakan untuk memasak air nira tersebut. Tak terbayangkan betapa susahnya keadaan pada masa-masa itu, sedangkan seringkali “sang tuan tanah” tidak mau tahu. Tak jarang kami dibentak-bentak kalau hasil setoran gula jawa yang dihasilkan tidak sempurna dan tidak sesuai dengan keinginannya. Cacian kerap dilontarkan. Namun apa daya, tidak ada pilihan lain, tekad kedua orang tua kami cukup bulat. Meskipun mereka tidak lulus SD, namun mereka berniat menyekolahkan anak-anaknya sampai perguran tinggi, sehingga apapun hinaan yang kami terima kami terima dengan lapang dada. Memaafkan adalah cara terbaik agar kami bisa terus bertahan.

Saat kakakku mulai masuk ke bangku kuliah, di situlah ketahanan keluarga kami kembali diuji. Sindiran-sindiran miring dari tetangga dan saudara sudah mulai jelas terdengar. “Ngopo ngoyo-ngoyo nguliahke anake barang, direwangi kerjo ra ngerti wayah, toh sesuk ujung-ujunge mung dadi manten, ra sumbut karo rekosone (Ngapain kerja keras untuk menguliahkan anaknya segala, sampai kerja tak kenal waktu, toh besok ujung-ujungnya hanya jadi pengantin, tidak setara dengan kerja kerasnya)," begitulah contoh kalimat yang sering mereka lontarkan. Bahkan, tak jarang mereka membangga-banggakan anaknya yang menjadi buruh pabrik maupun jadi TKI di luar negeri. Pandangan sebelah mata dari tetangga sudah menjadi hal biasa, terutama saat kami sama-sama mengenyam bangku perguruan tinggi yang notabene membutuhkan biaya yang lebih besar, sehingga tak jarang petugas bank mendatangi rumah kami untuk survei lokasi terkait utang yang kami ajukan.

 

 

Tuduhan Hamil di Luar Nikah

Makanan yang Harus Dihindari Ibu Hamil Saat Buka Puasa dan Sahur
Ilustrasi./ Sumber: iStockphoto

Saat itu, aku masih duduk di semester 2 dan kakakku semester 6. Suatu malam, Bapak Kepala Desa, Ketua RT dan beberapa perangkat desa datang ke rumah kami. Betapa terkejutnya tatkala mereka menjelaskan maksud kedatangan mereka adalah karena desas desus yang sudah menyebar di tiga desa terkait dengan kehamilan kakakku dengan seorang lelaki yang masih terbilang saudara sendiri. Syok kami mendengarnya.

Dengan perasaan campur aduk antara geram, sedih dan tak habis pikir, kedua orang tuaku berusaha menjelaskan bahwa justru kami tidak tahu menahu soal desas-desus itu dan menyangkal dengan tegas atas tuduhan itu. Kakakku hanya bisa menangis dari dalam kamar di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah, justru di luar sana sudah tersebar berita yang menceritakan aib keluarga tanpa bisa dibendung.

Sebagai adik, aku bisa merasakan kesedihannya. Ingin rasanya aku membungkam mulut-mulut yang asal bicara tanpa filter itu. Ingin rasanya aku memaki-maki penyebar fitnah ini. Namun, apalah daya, bak air yang jebol dari tanggul tanpa bisa dibendung, semua orang sudah terbumbui dengan cerita tersebut. Yang paling menyakitkan ialah, setiap kami berpapasan dengan tetangga, mereka menjawab sapaan kami dengan setengah hati, bahkan dengan tatapan mata “tuduhan”. Tak jarang pula matanya melirik ke perut kakakku.

Lidah Bisa Lebih Tajam dari Pedang

maaf terakhir
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Menyakitkan memang, namun itulah takdir. Takdir yang harus kami lalui agar menjadi manusia yang lebih kuat. Kami saling menguatkan satu sama lain, berusaha memaafkan siapapun yang telah menyebarkan berita bohong ini, dan mengembalikan beban psikis kakakku agar bisa fokus kuliah lagi. Larut dalam kebencian dan sakit hati justru akan makin menyiksa diri sendiri. Jadi, memaafkan adalah cara terbaik untuk melanjutkan mimpi. Sampai akhirnya, aku dan kakakku bisa menyelesaikan kuliah meskipun dengan berbagai macam cobaan dan bisa meniti karier hingga saat ini.

Kata-kata memang tidak sulit diucapkan, tanpa perlu analisa, apalagi biaya. Seperti ungkapan, “Lidah tak bertulang, namun bisa lebih tajam daripada pedang." Dia bisa menjadi api yang menyulut permusuhan, maupun bisa menjadi air yang menyiramkan ketenangan. Namun, jangan pernah melayang karena pujian dan jangan pernah tumbang karena cacian. Terbuai dengan pujian orang lain justru akan menimbulkan perasaan sombong dan tidak ada upaya untuk lebih memperbaiki diri. Namun, saat cacian, hinaan bahkan tuduhan terlontar, jangan pernah tumbang, karena sebenarnya memaafkan orang yang menyakiti kita dan menjadikan semuanya sebagai pemacu untuk bisa berlari lebih cepat untuk menggapai mimpi adalah langkah yang tepat untuk balas dendam.

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓