Memaafkan Itu Menguatkan Rasa Persaudaraan

Endah Wijayanti29 Mei 2019, 05:30 WIB
maaf saudara

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: Sarah Larasati Mantovani - Yogyakarta

Kejadian ini belum lama saya alami, di mana saat puasa tengah diuji dengan sikap teman sendiri yang tanpa ia sadari agak menyakitkan hati. Meski akhirnya dari kejadian yang saya alami banyak pelajaran yang bisa direnungi dan agar ke depannya tidak terulang lagi.

Sore itu sebelum azan berbuka bersama di masjid yang tak jauh dari rumah, saya iseng baca beberapa status Whatsapp teman, salah satunya teman sesama pengajar TPA (Taman Pendidikan Al Quran). Eh kok rupanya isi status tersebut curhatan mengenai kebijakan pengurus masjid yang masih saja membuat ia kaget sekaligus heran dan berdampak pada diliburkannya kegiatan TPA, sementara anak-anak yang masih ingin tetap mengaji terpaksa harus pindah tempat. Sehingga saya menangkap kesan, "Masjid menghalangi keinginan anak-anak yang masih ingin mengaji," dari status teman saya.

Padahal susah jadi tradisi dari tahun ke tahun, jauh sebelum kami berdua menjadi pengajar di sana jika TPA memang diliburkan saat Ramadan agar anak-anak lebih fokus ke pengajian anak di musala dekat masjid yang materi-materinya juga sama persis dengan materi di TPA.

Setelah baca status yang dibuat teman saya sekira pukul lima sore itu, muncul kegalauan luar biasa dong di hati saya. Kok bisa sih dia membuat status kayak gitu? Maksudnya apa? Untuk apa? Berbagai macam pertanyaan itu akhirnya meledak juga seusai salat tarawih dan saya sudah berada di rumah.

 

Memaafkan

memaafkan mendewasakan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Perasaan campur aduk jadi satu antara kaget, kecewa campur sedih. Pasalnya, suami saya pengurus masjid dan yang membuat saya heran ialah kenapa hal seperti itu bukannya langsung ditanyakan, ditabayunkan tapi malah hanya distatuskan dan mungkin bisa dibaca oleh banyak temannya yang tidak paham alasannya?

Akhirnya setelah terjadi pembicaraan yang cukup panjang karena saya mengutarakan semua yang saya rasakan dan menjelaskan alasannya, ditambah ada sedikit perdebatan karena teman saya ini tipe yang keras kepala, akhirnya kami saling memaafkan. Dari kejadian ini banyak hikmah yang kami dapatkan.

Pertama jika ada masalah apapun, sebaiknya langsung dibicarakan dan ditabayunkan agar tidak lagi menjadi ganjalan dan kita mendapat penjelasan.

Kedua, membahas masalah dengan orang lain dengan mengungkapkannya melalui media sosial menurut saya itu sikap yang kekanak-kanakan dan tidak menyelesaikan, justru akan memperburuk hubungan kita dengan orang itu.

Terakhir, sikap paling terbaik dari semuanya ialah berbesar hati dengan memaafkan, apalagi memaafkan itu ternyata semakin menguatkan rasa persaudaraan.

 

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓