Daripada Menyimpan Dendam, Lebih Baik Berlatih Memaafkan

Endah Wijayanti29 Mei 2019, 07:15 WIB
maaf tanpa dendam

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: Sarah Nuri - Bekasi

Berbuat baik pada orang yang berbuat baik pada diri kita, itu hal yang biasa. Tapi bagaimana, kamu bisa berbuat baik pada orang yang perbuatannya sangat tidak baik pada kamu, nah itu yang top dan luar biasa.

Kata-kata ini, sering sekali di ucapkan abih, di rumah. Dan aku, tidak jarang menerima nasihat itu dengan bersungut-sungut dalam hati, "Abih nggak ngerasain sih sakit banget tauu, dikhianati kayak gitu," kataku dalam hati. Aku sudah hapal, kalau kita membantah atau mengeluh, nasihat abih tambah panjang, mendingan diam.

Abih umi pasti akan mengakhiri curhatanku dengan kalimat, "Terima masalah ini, dengan selalu berbaik sangka pada Allah dan terus berusaha memaafkan, berlatih terus untuk tidak punya rasa benci dan dendam. Dan itu harus terus kamu latih, sehingga kamu nggak susah dan nggak berat memaafkan orang lain. Sama aja, seperti awal-awal kita mengerjakan sesuatu, awalnya susah dan melelahkan, tapi kalau kamunya terus berlatih, itu akan jadi gampang. Seperti ramadan, itu adalah tempat untuk kita terus melatih jiwa kita, untuk mempunyai sifat-sifat baik dan mulia.“

Untuk menerima dan sadar akan pentingnya nasihat orang tuaku ini butuh proses yang lama. Dan aku juga telah menyaksikan, bagaimana nasihat ini telah dijalankan oleh mereka. Bagaimana mereka tidak membenci dan mendendam pada orang-orang yang telah menyakiti mereka. Bahkan, kadang kita-kita yang tidak terlibat dengan masalahnya, masih sebel dan sakit hati. Tapi umi dan abih sudah berbuat baik lagi sama orang orang yang jahat sama mereka.

 

Berlatih Memaafkan

maaf saudara
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Memaafkan, sejak kecil itu ditanamkan abih dan umi. Saya sering diceritakan, bagaimana nabi Muhammad hatinya seluas samudra. Selalu memaafkan orang-orang yang telah berbuat jahat pada beliau, tidak pernah membenci orang-orang yang memusuhinya bahkan memeranginya, malah didoakan agar mereka jadi orang baik.

Perlahan, melalui proses bertahun-tahun. Ketika saya terbentur masalah, saya mulai merasakan manfaat dari pelajaran yang di tanamkan mereka. Yang baru-baru ini, ketika saya putus cinta, patah hati. Saya langsung mengkaji, ini yang terbaik dari Allah, dan bisa untuk tidak ada dendam dan kebencian sama mantan. Cepat bisa mengatasi rasa sedih, tidak larut dan hanyut dengan kesedihan itu. Bisa kembali membuka diri, menerima cinta yang baru.

Tapi pernah juga, ketika aku dikhianati dan perasaanku begitu marah dan merasa direndahkan, dan itu menimbulkan luka dan kebencian yang mendalam dan perlu waktu cukup lama buat sembuh.

Umi terus menyuruhku istighfar, berusaha dan pasrah mengadukan segala rasa ini pada Allah, dan umi mengajarkan untuk terus meminta pada Allah, “Ya Allah, aku tidak mau menyimpan rasa sakit ini ya Allah, mohon hilangkan dan sembuhkan rasa benci, dendam, dan sakit hati ini, ya Allah.“

Berangsur-angsur rasa dendam, benci, dan sakit hati itu berkurang, dan ada rasa kerendahan hati dalam diri ini, untuk juga meminta maaf pada dia. Karena mungkin ada salah aku juga sama dia. Dan rasanya, hati jadi plong dan tanpa beban bisa ngumpul dan main lagi sama dia. Walau jujur, nggak bisa semulus dulu. Tapi yakinlah, kelegaan itu nikmat dibandingkan kita membawa-bawa beban dendam dan sakit hati.

 

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓