Sempat Ingin Bunuh Diri dan Meminta Tuhan Mencabut Nyawaku

Endah Wijayanti01 Jun 2019, 17:00 WIB
kisah my forgiveness matters 2

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: Jenny - Depok

Salahku, dilahirkan di luar pernikahan. Salahku, tak mati ketika dilahirkan. Salahku, masih hidup sampai hari ini. Salahku, jadi membuat mereka pusing. Salahku, membuat mereka putus hubungan. Salahku, membuat orang lain menangis. Salahku, tidak bekerja dengan gaji tinggi. Salahku, tidak tumbuh tinggi. Salahku, semuanya. 25 tahun hidup dalam perasaan bersalah. Selalu menyalahkan diri sendiri. Aku mengutuk hari kelahiranku. Bahkan, berpikir untuk bunuh diri. Meski tak jadi bunuh diri, aku berdoa memohon Tuhan mencabut nyawaku. Kupikir, Tuhan tidak akan rugi kehilangan diriku. Lagipula, Sang Maha Kuasa mampu menciptakan orang yang lebih baik dariku. Sampai seperti itu, aku merasa bersalah dan tidak berharga. Syukurlah, waktu itu aku tak jadi bunuh diri karena mendengar petuah seorang hamba Allah.  

Katanya bunuh diri adalah cara paling mudah untuk masuk neraka dan tidak akan menyelesaikan masalah. Aku tidak jadi bunuh diri, walau tetap merasa bersalah dan tak berarti. Syukurlah, setelah mencapai 25 tahun 42 hari pada 22 Mei 2019 aku bertemu dengan seseorang. Ia memanggilku ke ruangannya. Ia merupakan pemimpin di tempatku bekerja. Ia mempersilakanku duduk, kemudian mengambil kertas gambar A3 sebanyak 4 lembar. Ia mengajakku berbagai cerita, namun responsku dingin. Ia pun mulai menggambar di kertas A3. Kertas demi kertas ia gambar, hingga kertas keempat. Aku hanya diam saja, mendengarkannya berbicara dan melihat gambarnya dengan seksama. Hingga aku berani bercerita dan menangis seketika. Aku mengakui apa yang selama ini kualami. Aku pulang dan memegang erat 4 gambar yang ia buat untuk membantu proses penyembuhan luka batinku.  

 

Bertekad untuk Hidup

rasa bersalah memaafkan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Sejak hari itu, aku punya tekad kuat untuk menerima, memaafkan, berdamai dengan diri sendiri dan segala peristiwa di masa lalu, kini dan esok hari. Setiap hari, proses demi proses aku lalui. Aku berusaha untuk hidup lebih baik. Aku berusaha memiliki kesehatan mental dengan mendekatkan diri pada Tuhan. Membangun hubungan dengan Pencipta dan ciptaan-Nya. Aku menuliskan hal-hal baik yang patut aku syukuri. Kebaikan yang aku lakukan pada diri sendiri dan sesama. Aku mengevaluasi hal positif dan negatif dalam kehidupan tanpa harus menghakimi diriku sendiri. Ternyata, positif atau negatif tergantung caraku meresponi apa yang terjadi. Mengucap syukur, syukur dan syukur itu yang kulakukan hingga mampu memaafkan diri sendiri.  

Jika aku bisa memaafkan orang lain, mengapa aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri? Jika aku bisa mengasihi orang lain, mengapa aku tidak bisa mengasihi diriku sendiri. Jika aku bisa berbuat baik kepada orang lain, mengapa menyakiti diri sendiri? Memaafkan, membuatku belajar mengasihi Pencipta, diri sendiri dan sesama. Sekarang, 28 Mei 2019 aku tidak lagi menyalahkan diriku sendiri apalagi orang lain dan Tuhan. Aku tidak menyalahkan siapapun atau apapun. Kuyakin, semua dalam kendali Tuhan yang Maha Kuasa. Meski dilahirkan di luar pernikahan, di-bully sejak kecil hingga di tempat kerja, kerap dipersalahkan aku belajar tidak ikut menyalahkan diriku sendiri.  

 

Memaafkan Diri Sendiri

maaf dan trauma
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Aku memaafkan diriku sendiri seperti aku memaafkan setiap orang yang menyakitiku. Bahkan, sekarang seolah tak ada yang bisa menyakitiku atau membuatku kecewa. Aku bersyukur saja menjalani semuanya dan berusaha melakukan yang terbaik untuk Allah. Sekarang, karena Allah aku percaya bahwa aku berharga, bukan produk gagal atau salah, masih ada kasih Tuhan dan sesama untukku, masih ada hari depan yang penuh harapan dan masih ada Allah bersamaku selalu. Aku telah memaafkan diriku sendiri dan semuanya. Buat kamu yang membaca tulisan ini dan masih berjuang menerima diri sendiri, yuk tetap semangat. Aku yakin kamu bisa melewatinya. Berdamai dengan dirimu sendiri dan lihatlah betapa kamu sangat dikasihi. Kamu ciptaan Allah yang berharga dan mulia. 

Yuk, maafkanlah dirimu, orang lain, siapapun atau apapun itu. Bersyukur dan berprasangka baik saja pada Tuhan, dirimu dan sesama. Jika kamu mampu bersyukur dan berprasangka baik pada dirimu, maka kamu bisa memaafkan dirimu. Jadi, kamu bisa memaafkan siapapun dan apapun yang terjadi di dunia ini. Selamat memaafkan. Mari berdamai.  

Jika kamu belum bisa memaafkan dirimu, bagaimana bisa kamu memaafkan orang lain? 

 

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓