Seberkas Rindu yang Tertinggal dari Sebuah Pernikahan

Endah Wijayanti15 Jul 2019, 11:15 WIB
ayah menikah lagi

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Susana Asgun - Luwuk Banggai

Kisah ini adalah realita hidupku yang harus menerima keputusan ayah menikah lagi setelah ibuku meninggal. Kisah ini kuungkap sebagai tujuan untuk pembelajaran bagi para orang tua yang ingin memutuskan menikah setelah ditinggal pasangannya.

Aku anak sulung dari dua bersaudara, setelah sepeninggal ibuku, aku berperan sebagai ibu untuk adikku. Adikku seorang penderita gangguan kognitif setelah sepeninggal ibuku. Mungkin karena rasa kehilangan yang mendalam sehingganya adikku seperti itu, sehingganya aku selalu memberikan perhatian yang lebih di sela-sela kesibukanku.

Singkat kata waktu mengalir tak terasa kematian ibu sudah satu tahun berlalu, ayahku memutuskan untuk menikah lagi, dan secara jujur aku tidak menyetujuinya. Ketidaksetujuanku karena aku berpikir tentang kondisi adikku, tetapi ayahku mengancamku tidak memberikan wali nikah dan akan meninggalkan kami seutuhnya bila aku tidak menyetujui keputusannya. Akhirnya dengan berat hati, aku pun menyetujuinya.

 

Ayah Menikah Lagi

menikah bukan lomba
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Tepatnya pada tanggal 20 Januari 2017, dua hari sebelum aku merayakan hari ulang tahunku yang ke 30 tahun, ayahku menikah lagi di kota Gorontalo. Pernikahan mereka cukup besar, di tengah keramaian itu hatiku sedih, teringat bagaimana nasib adikku ke depannya. Aku sedih kenapa harus ibu harus meninggalkan kami begitu cepat, pikiranku kacau saat itu.

Dua hari aku di Gorontalo, aku memutuskan kembali ke daerahku bersama adikku dengan menaiki kapal feri Gorontalo–Pagimana. Traumatik adik aku menjadi, dia teriak terus di atas kapal, sehari semalam dia menangis, teriak di atas kapal, aku berusaha untuk menenangkan dia, alhamdullilah kapal bersandar. Kami melanjutkan perjalanan menaiki mobil penumpang lagi menuju Kota Air Luwuk.

Alhamdullilah sampai di Kota Air Luwuk. Dan saat itu aku tidak punya pikiran apa-apa lagi aku hanya punya pikiran akan kesembuhan adikku, aku pun kembali harus merawatnya. Tanpa sosok seorang ayah lagi, apa kabar ayahku setelah menikah?

Ayahku tidak pernah menelepon kami lagi, mungkinkah dia telah bahagia dengan pasangan barunya? Entahlah karena pikiranku saat ini dan sekarang adalah kesembuhan adik aku. Biarlah waktu saja yang akan menjawab, apakah ayahku masih mengingat kami atau tidak, yang jelasnya kami selalu merindukan ayah.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓