Pernikahan Itu Bukan Sekadar Kemewahan Pelaksanaan Acaranya Saja

Endah Wijayanti16 Jul 2019, 13:47 WIB
menikah tak sekadar mewah

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Zeni Oktavia - Tuban

Pernikahan merupakan salah satu impian yang dimiliki setiap orang tua terhadap anaknya yang mulai beranjak dewasa. Saat orang tua mampu melepas masa lajang anaknya tentu merupakan sebuah momen kebahagiaan bagi keluarga serta mampu menjadi bukti akan kecintaan orang tua untuk memberikan kehidupan baru bagi anaknya. Namun terkadang adanya pernikahan bisa menjadi beban tersendiri bagi sang anak ketika lingkungan di sekitarnya terutama keluarga seolah menjadikan pernikahan sebagai sesuatu yang harus segera dilaksanakan.

Menikah tentunya juga menjadi impian terbesarku sebagai seorang wanita, terlebih dengan usiaku yang sudah menginjak 30an lebih dengan status sebagai anak sulung, tentunya ada desakan dari keluarga dan lingkungan sekitar kepadaku untuk segera menikah. Namun ada sedikit rasa trauma ketika mengingat bahwa aku pernah gagal dua kali dalam bertunangan, sehingga membuatku harus lebih berhati-hati lagi dalam menentukan langkahku. Hingga pada akhirnya aku berani menerima pinangan dari seorang lelaki teman kerja dari temanku. Awalnya aku masih merasa ragu untuk menerimanya karena usia di antara kami terpaut jauh 9 tahun lebih tua aku, namun kekhawatiran itu hilang ketika temanku mencoba menyakinkanku untuk menerimanya.

Awal tahun menjadi acara pertunangan di antara kami, kedua belah pihak keluarga sepakat untuk melaksanakan pernikahan di pertengahan tahun. Namun menjelang pelaksanaan pernikahan tiba-tiba keluarga mempelai pria ingin mengundurkan jadwal pernikahan dengan alasan bahwa waktu acara dan juga percocokan tanggal lahir di antara kami hasilnya tidak bagus.

 

Lika-liku Pernikahan

menikah tanpa pelaminan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Tradisi di antara keluarga kami memang kental dengat adat perhitungan orang Jawa, para tetua di keluarga kami masih memegang teguh kepercayaan itu. Akhirnya kami dengan segera memberi tahu kepada vendor untuk tata rias ataupun katering bahwa acara kami akan diundur akhir tahun dan beruntungnya para vendor mau mengerti alasan kemunduran acara kami. Untuk masalah undangan juga beruntung masih belum dicetak jadi kami masih bisa memperbarui tanggal pelaksanaannya.

Dalam menentukan tanggal pernikahan yang baru ini akhirnya disepakati bahwa pelaksanaan pernikahan dapat dilaksanakan pada akhir tahun dengan syarat jam pernikahan serta arah kuade atau tempat pelaminan sudah diperhitungkan sesuai hitungan Jawa. Dari kesepakatan tersebut kami sebagai anak muda hanya bisa mematuhi aturan dari para tetua demi kelancaran hari pernikahan kami. Selama proses persiapan pernikahan memang keluargaku lebih aktif dalam mempersiapkannya karena ini merupakan acara pernikahan pertama di keluargaku. Semua acara pernikahan ini memang diadakan hanya oleh pihak perempuan sehingga untuk semua prosesnya yang menangani dari pihak keluargaku.

Akhirnya prosesi akad nikah yang dilakukan pada malam hari berjalan dengan lancar dan khidmat, hanya tinggal menunggu pelaksanaan resepsi untuk di pagi harinya. Di malam setelah akad, aku masih sibuk mempersiapkan acara untuk besok paginya, sehingga memang aku kurang fokus untuk mengurusi keluarga mempelai pria yang tengah bertamu di kediamanku. Aku beserta saudaraku yang lain sibuk untuk mempersiapkan acara besok karena memang dari pihak lelaki juga tidak memberikan bantuan dan sepenuhnya mereka memasrahkan acara pernikahan ini kepada pihak keluargaku.

Malam setelah akad ternyata suamiku menemani keluarganya di rumah kontrakannya, sedangkan aku masih berada di rumah orang tuaku untuk mempersiapkan resepsi yang akan digelar besok paginya. Dari hal inilah mulai menjadi petaka sebelum beberapa jam terlaksananya resepsi, ketika dalam kondisi masih di rias, tiba-tiba saudara suamiku memberi tahu lewat telepon bahwa mereka tidak bisa menghadiri acara resepsi karena suamiku marah dan merasa bahwa dari pihak keluargaku tidak menghargai keberadaan mereka ketika berada di rumahku.

Seketika air mata menetes membasahi pipiku, antara sedih dan marah bercampur menjadi satu. Bayangkan ketika tinggal waktu 3 jam pelaksanaan resepsi, keluarga mempelai pria masih berada di rumah kontrakan suami dan belum segera berangkat menuju rumahku. Aku tidak berani menceritakan hal ini kepada orang tuaku dan hanya saudara-saudara perempuanku yang tahu masalah ini. Dalam posisi masih bersama penata rias, saudaraku dan tim riasnya mulai menenangkanku, bahwa hal ini lumrah terjadi sebagai ujian dalam pelaksanaan pernikahan.

Melihat kondisiku yang begitu hancur, adikku berinisiatif untuk mendatangi rumah kontrakan suamiku dan menjelaskan apa yang memang perlu dijelaskan. Dalam kondisi orang tua yang tidak tahu menahu, adikku berangkat menuju kontrakan suamiku untuk menjemput suamiku dan keluarganya. Di rumah aku sudah begitu sangat khawatir dan cemas memikirkan bagaimana nasibku selanjutnya, aku tidak bisa membayangkan ketika melihat semua persiapan telah selesai namun suami dan keluarganya tidak berkenan hadir di acara itu. Gagal di acara pertunangan saja sudah membuatku frustasi, apalagi gagal dalam menyelenggarakan resepsi, nasib keluargaku seolah dipertaruhkan dalam hal ini, aku tidak ingin membuat keluargaku malu untuk yang ketiga kalinya.

Pentingnya Komunikasi

menikah yang dimudahkan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Dalam penantian yang begitu mendebarkan aku lihat di depan pintu adikku datang dengan diikuti oleh suamiku dan keluarganya. Seketika aku langsung menemuinya dan berbicara empat mata dengannya, kujelaskan semua hal yang mejadi kesalahpahaman di antara kami, akupun meminta maaf kepadanya dan keluarganya. Setelah mendengar penjelasaanku, suamiku bersedia untuk melaksanakan resepsi ini. Dalam hati kecilku aku sedikit merasa lega karena akhirnya semua yang kuhadapi bisa terselesaikan. Awalnya aku takut suamiku masih marah kepadaku namun ternyata seiring berjalannya acara suamiku begitu menikmati acara resepsi pernikahan ini.

Sepanjang acara terlihat suamiku dan keluarganya sudah melupakan kejadian yang menjadi kesalahpahaman di antara kami. Aku begitu bersyukur karena akhirnya acara resepsi ini berjalan sesuai dengan apa yang kuinginkan, meskipun ada kendala yang menghadang tidak membuat acara ini menjadi batal. Aku juga begitu merasa beruntung memiliki saudara yang senantiasa bisa membantuku tanpa harus membuat kedua orang tuaku tahu permasalahan yang aku hadapi.

Hikmah yang bisa aku ambil dalam kejadian ini tentunya bahwa pernikahan itu bukan hanya sekadar kemewahan pelaksanaan acara awalnya saja tapi bagaimana kita bisa membangun hubungan pernikahan itu untuk selanjutnya. Aku juga menyadari bahwa tentunya dalam pernikahan ini yang menikah bukan hanya dua orang tetapi juga dua keluarga yang perlu dipersatukan, selain itu tentunya dalam menyatukan dua pemikiran yang berbeda harus ada pihak yang bersedia mengalah dan memahami satu sama lain. Pentingnya komunikasi menjadi kunci utama guna meminimalisir kondisi yang sekiranya dapat menimbulkan kesalahpahaman.

 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓