Ibuku Pergi saat Hari Pernikahanku Menghampiri

Endah Wijayanti17 Jul 2019, 07:45 WIB
ibu pergi saat menikah

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: F - Brebes

Hatiku hancur menyaksikan keadaan itu. Saat aku berada dalam hubungan serius dengan laki-laki terpilih dan mantap ke jenjang pernikahan, rumah tangga orang tuaku hancur. Ibuku pergi meninggalkan rumah. Tanpa terasa berat dengan keberadaan ayah, aku, dan adik yang masih membutuhkan kehadirannya. Tuntutan ibu sangat tegas, yaitu bercerai dengan ayah.

Walaupun tak ringan untuk menceritakan keadaan keluarga kepada pasanganku. Ditambah desakan dari dia dan keluarganya agar hubungan kami segera diresmikan ke pernikahan. Bismillah sampailah pada waktu semua mengetahui tentang keadaan keluargaku sebenarnya. Alhamdulillah hal ini tak jadi masalah. Dia dan keluarga mau menerima dan hubungan kami tetap dilanjutkan. Dengan ketidaksempurnaan aku dan keluarga menerima pinangannya dan menyepakati hari pernikahan kami.

Seolah dengan kaki yang pincang, ayahku mempersiapkan hari pernikahan itu. Tanpa kehadiran ibu disisinya yang seharusnya jadi partner diskusi dalam proses ini. Ayahku tetap semangat menjalaninya. Bahkan rela bolak-balik jauh ke saudara hanya sekadar untuk bertukar pikiran. Bagi ayah ini adalah takdir dari Allah yang harus dijalani dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengantarkan aku ke gerbang pernikahan. Aku bangga dengan ayah.

 

Tanpa Kehadiran Ibu

menikah tanpa pelaminan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Di dalam proses persiapan ini, tiba-tiba dia dan keluarga mendesak untuk segera menggelar akad nikah jauh lebih cepat dari rencana kesepakatan awal. Waktu yang terkesan mendadak dan terburu-buru. Sementara ayah tak kuasa berbuat apa-apa selain mengiyakan yang pihak dia mau. Dalam waktu yang singkat, semuanya sibuk mempersiapkan prosesi akad. Tak mengeluh meskipun harus terombang-ambing kesana dan kemari. Terlaksanakanlah momen akad nikah tersebut di rumah dengan segala keterbatasan. Alhamdulillah.

Hari yang baik, perlu proses yang baik untuk menjadikan kebaikan. Begitulah mungkin keadaannya untuk menentukan kesepakatan tentang hari pernikahan. Cerita yang cukup rumit untuk dilewati sekadar keputusan tanggal dan hari bersama. Didapatlah kesepakatan diadakan 2 kali resepsi yaitu pada 10 hari setelah akad di rumahku dan 2 bulan setelah akad di rumah dia. Beberapa jelang hari H resepsi pertama, keluarga dia tiba-tiba membatalkan karena keberatan. Terlihat berantakan memang, tetapi seperti itulah adanya. Apa yang telah dipersiapkan kembali ditunda.

Kami belajar untuk melapangkan hati. Mengikhlaskan apa yang terjadi. Singkat cerita hari resepsi diselenggarakan pada hari kesepakatan baru. Kali ini berjalan dengan baik. Persiapan dilakukan maksimal dan hasilpun memuaskan. Ucapan selamat dan doa mengalir sepanjang acara. Semuanya menikmati pesta ini. Semuanya tersenyum bahagia. Sejenak lupa dengan yang terjadi sebelumnya. Termasuk kebersamaan ibu dan ayah. Pada hari itu, walaupun tak bersatu tapi orang tuaku utuh.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓