Menerima Kekurangan dan Kelebihan Masing-Masing, Kunci Pernikahan Bahagia

Endah Wijayanti17 Jul 2019, 13:12 WIB
menikah rumah tangga

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Putri - Bekasi

Tidak terasa sudah hampir 7 tahun masa pernikahanku. Puji Tuhan kami sudah dikaruniai seorang anak cantik yang akan menginjak 5 tahun pada bulan November nanti. Setiap rumah tangga mungkin memiliki keistimewaannya masing-masing. Khususnya di dalam rumah tangga kami, banyak cerita lucu, mengharukan dan menyebalkan juga, hehe.

Ceritanya berawal di bulan Juni 2011, tepatnya saat saya dan suami pertama kali bertemu. Perkenalan pertama kami saat kami saling diperkenalkan oleh seorang teman. Kami melanjutkan komunikasi dengan menggunakan YM, karena pada waktu itu suami sedang bertugas di Surabaya.

Kurang lebih 3 bulan kami menjalin komunikasi jarak jauh dengan YM ataupun telepon dan itupun tanpa bertatap muka secara langsung. Nah, kejadian lucu bermulai saat kami memutuskan bertemu di Plaza Semanggi. Kami belum pernah bertemu secara langsung, kebayang dong, komunikasi 3 bulan dengan orang yang belum pernah ketemu langsung dan tiba-tiba ketemu? Penasaran, takut kecewa karena yang difoto akan beda dengan yang asli dan bercampurlah rasanya pada saat itu. Kami janjian ketemu di toko buku Gramedia, niatnya biar bisa kabur kalau saja dia tidak sesuai ekspektasi saya, haha.

Kami janjian pukul 1 siang tapi saya sudah ada di lokasi pukul 12 siang, dan memang ya, jodoh itu nggak akan kemana-kemana. Begitu saya mencoba mengintip dari balik rak buku, secara tidak sengaja saya menabrak seorang pria, dan tahu siapa pria itu? Ya dia adalah cowok yang akan bertemu dengan saya dan sekarang menjadi suami saya.

Ternyata dia sudah datang dari pukul 10, ketika Gramedia baru buka, dia sudah menunggu dan melihat saya masuk. Ketika akhirnya kami bertemu, kami memutuskan untuk makan siang sambil ngobrol-ngobrol. Ya, seperti orang-orang pada umumnya, banyak hal yang kami ceritakan, mulai dari kegagalan masa lalu sampai rencana ke depan.

 

 

 

 

Memutuskan Menikah

menikah
ilustrasi/copyright Shutterstock

Tidak perlu waktu lama, selama masa penjajakan, kami langsung mempersiapkan pernikahan dan mengikuti pendidikan pra pernikahan di gereja dan 27 Oktober 2012 kami sudah resmi menjadi suami-istri. Singkat? Hmm… bisa dibilang begitu tapi kami yakin bahwa rencana yang baik, Tuhan pasti akan memudahkan dan melancarkan. Amin.

Dunia pernikahan adalah sesuatu yang baru buat saya, di mana kami bukan lagi dua melainkan satu. Satu misi satu visi dalam mengarungi hidup rumah tangga. Menyatukan pemikiran dengan dua orang yang berbeda tentu bukan perkara mudah. Suami asli orang Semarang, sedangkan orang tua saya asli Kediri namun saya lahir dan besar di Jakarta. Bahasa yang kami gunakan sehari-hari memang bahasa Indonesia tapi suami kadang suka menggunakan bahasa Jawa dengan logat medok.

Seminggu setelah pernikahan, ada kejadian lucu yang tak bisa dilupakan, “Yang, kukur kukur," saya kira kukur itu ayam atau burung, lalu saya jawab, "Mana ada ayam di rumah, kamu mimpi kali," lalu saya tidur lagi. Terus suami bilang, “Bukan bunyi ayam tapi aku minta dikukur." “Kukur itu apa sih? Aku nggak ngerti," agak sewot juga waktu itu, hehe. Karena dia tidak tahu apa bahasa yang tepat, dia tarik tangan saya dan diletakkan di belakang punggungnya, “Begini lho kukur itu." Lalu saya tertawa sejadi-jadinya, “Bilang aja gatel mau minta digaruk, nggak usah kukur-kukur."

Ya, begitulah kehidupan rumah tangga kami, semenjak punya anak kehidupan kami lebih berwarna. Banyak hal lucu dan menyebalkan. Tapi itu adalah proses di mana kami saling mengenal dan mengerti.

Penuh Warna

menikah spontan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk kami saling menerima kekurangan dan kelebihan kami masing-masing. Waktu di mana kami saling melengkapi dan menggenapi apa yang Tuhan rencanakan di dalam kehidupan rumah tangga kami. Setiap rumah tangga juga memiliki pergumulan, setiap ada permasalahan dan perbedaan diantara kami, kami juga suka berdebat panjang, namun setelah itu kami akan kembali harmonis.

Setiap orang pernah salah, setiap orang pernah menyakiti dan tersakiti, tapi kami hanyalah manusia biasa yang selalu belajar arti mengasihi dan mengampuni. Memang tidak mudah praktiknya, tapi kami tidak pernah berhenti untuk belajar menjadi pribadi yang baik, bukan hanya sebagai pasangan suami-istri tapi juga sebagai orang tua. Mewujudkan pernikahan yang ideal, rumah tangga yang ideal dan istana yang ideal untuk anak cucu kami.

Terima kasih cinta, karena kamu masih ada sampai saat ini di tengah-tengah kami. Terima kasih air mata, karena kamu juga masih ada sampai saat ini untuk mewarnai hidup kami baik dengan suka ataupun duka. Terima kasih, Sayang karena kamu selalu ada untuk aku.

Love,

Putri

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓