Cinta yang Sederhana Dapat Menjadi Jawaban Doa Terindah

Endah Wijayanti17 Jul 2019, 16:34 WIB
cinta yang sederhana

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Sri Sulistiyani - Bandung

Beberapa waktu lalu, saya pernah menuliskan mengenai keresahan saya akan fase quarter life crisis yang saat itu mulai saya alami. Pada fase itu, saya rasanya tidak punya rencana apapun lagi tentang masa depan saya, terlebih lagi dalam urusan asmara.

Saya begitu iri dengan teman-teman di sekitar saya yang sudah menemukan cinta mereka. Saya begitu muak dengan pertanyaan "kapan" dari orang orang terdekat saya. Saya begitu memimpikan untuk bisa segera menemukan seorang lelaki yang selama ini saya cari, seorang pangeran yang sudah saya impikan sejak kecil dulu.

Saya selalu berpikir mengenai hari bahagia itu, di mana saya akan berikrar untuk setia menemani pangeran saya dan kami akan hidup bahagia selamanya. Saya masih terus berusaha menghidupkan dongeng kecil saya itu. Saya masih setia menunggu kedatangan sang pangeran itu. Entah saya harus menunggu sehari, seminggu, sebulan, setahun, atau bertahun-tahun lagi. Saya percaya keajaiban itu ada dan dia akan datang. Saat itu hanya satu hal yang masih saya jaga, harapan. Setiap waktu saya pupuk harapan hingga hari itu.

Dan hari yang saya nantikan itu pada akhirnya memang tiba juga. Seseorang itu datang. Bukan pangeran, tentu saja. Jauh dari sosok yang selama ini saya impikan. Dia hanya lelaki yang begitu biasa. Dia datang dengan membawa cinta yang begitu sederhana. Namun ia begitu baik, begitu tulus. Dia tidak seperti para laki-laki yang datang pada saya sebelumnya. Dia datang dengan sangat yakin untuk menyatakan keseriusannya. Keyakinan yang saya beri jawaban, "Iya." Saya sendiri tidak mengerti dengan apa yang saya rasakan. Apakah saya hanya sekadar kesepian dan lelah mencari? Apakah ketulusan dan keyakinannya memang telah meluluhkan perasaan saya? Apakah saya sudah yakin dengan keputusan saya? Apakah dia memang seseorang yang dikirimkan untuk menjadi jawaban doa-doa saya ? Apakah saya benar-benar mencintainya?

 

 

Akankah Seindah Cerita Dongeng?

memutuskan menikah
Ilustrasi./Copyright pexels.com/@dariaobymaha

Setelah itu hari-hari kembali berjalan. Kini saya tahu kalau hari-hari yang berjalan saat ini tidak lagi sama seperti dulu. Kini, setiap satu hari berlalu adalah satu hari semakin dekat dengan hari itu, hari pernikahan saya. Saya tidak pernah menyangka bahwa hari-hari menjelang pernikahan ternyata bisa jadi serumit ini. Dulu saya selalu membayangkan mengenai hari pernikahan itu. Dulu saya pikir semua hal tentang pernikahan adalah tentang kebahagiaan dan sukacita. Kini setelah saya mengalaminya sendiri, saya rasakan ternyata pernikahan tidaklah sesederhana itu.

Saya tidak tahu apakah para wanita di luar sana juga mengalami apa yang saya rasakan, atau mungkin ini hanya masalah perasaan dan keyakinan saya saja. Saya tidak tahu apakah saya sudah siap untuk memasuki fase baru kehidupan saya bersama lelaki itu. Saya tidak tahu apakah keputusan ini salah atau benar. Saya tidak tahu apakah dia memang orang yang tepat untuk saya. Tapi bukankah kita memang tidak pernah tahu? Bukankah semua yang akan terjadi adalah tentang ketidakpastian? Bukankah waktu yang akan menunjukkan kepastian dari semua kebimbangan itu? Bukankah dulu saya juga tidak menyangka semua yang terjadi setelahnya adalah seperti ini.

Sekarang, yang bisa saya lakukan hanyalah kembali memupuk harapan. Harapan akan kebahagiaan saya dan dia. Saya masih percaya akan kisah dongeng masa kecil saya yang berakhir dengan kehidupan bahagia selamanya itu. Jadi, biarlah waktu yang menjawab apakah dongeng itu akan menjadi nyata di akhir kisah cinta saya ini. Doakan saja.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓