Asalkan Saling Percaya, Cinta Sejati Bisa Dimiliki Bersama

Endah Wijayanti19 Jul 2019, 11:15 WIB
menikah teman SMA

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Miftahul Huda - Cirebon

Beribu kisah, beribu kasih sayangku padamu yang tidak akan pudar oleh waktu. Berawal dari kisah kasih sewaktu SMA. Banyak orang yang bilang bahwa kisah cinta di SMA itu cinta monyet. Tapi, bagi kami berdua, kisah cinta monyet itu cuma mitos belaka.

Menurutku, cinta itu ibarat benda kesayangan kami, walaupun udah usang, tapi tetap kami sayang-sayang. Ya itu sih tergantung pribadi masing-masing juga. Kisah cinta kami berdua, awalnya cuma temenan, saling meledek satu sama lain, terus akhirnya timbul rasa yang semakin dalam di antara kami berdua.

Pada akhirnya, aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku selama ini kepada “dia” yang aku suka. Panggil saja Ica. Ya…. dia yang aku suka selama ini. Dia itu imut, manis, lucu, tapi pemalu juga orangnya. Setelah aku menyatakan perasaanku padanya, lega sudah rasanya. Dia menerima perasaanku dan akhirnya kami jadian (pacaran).

Berjalanlah hari-hariku bersamanya. Melalui masa-masa SMA bersama-sama. Suka duka kami jalani bersama. Berbagai masalah yang ada, kami hadapi bersama. Kalau zaman sekarang istilahnya “bucin”. Pacaran kami seperti pacaran orang-orang pada umumnya, jalan-jalan, makan, belajar bareng, ngerjain tugas bareng, dan hal lain seperti orang-orang “bucin” pada umumnya. Satu tahun, 2 tahun, 3 tahun, hingga pada akhirnya kami lulus SMA. Di tahun setelah kelulusan SMA, kami berdua mengalami masalah yang cukup serius. Ya… perkuliahan. Kami berdua bingung, apakah kami berdua tetap bisa menjalani dan mempertahankan hubungan ini, namun jarak jauh?

Pada akhirnya, terjadilah hubungan “LDR” di antara kami berdua. Awalnya terasa sulit, karena banyaknya kecurigaan dan prasangka yang terbayang di kepala, yang pada kenyataannya, kecurigaan dan prasangka itu hanyalah halusinasiku. Masa perkuliahan kami yang berbeda, membuat kami berdua pun agak sulit menyamakan waktu untuk dapat bertemu.

Sejak kami kuliah di universitas yang berbeda, kami jarang bertemu. Namun, hubungan kami tetap terjalin, karena sesibuk-sibuknya kami berdua, komunikasi tetap kami pertahankan, melalui telepon dan video call. Tidak setiap hari, hanya ketika kami sama-sama punya waktu luang. Walaupun tidak setiap hari, tetapi komunikasi untuk orang-orang yang LDR-an itu penting.

 

Menjaga Kepercayaan

proses menikah
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Tanpa terasa, masa-masa perkuliahan kami sudah selesai. Kami berdua sama-sama sudah menyandang gelar sarjana. Beberapa bulan kemudian, kami sama-sama sudah mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan kami berbeda kota, aku bekerja di Bekasi sebagai salah satu karyawan di salah satu bank, dan Ica bekerja di Cirebon sebagai salah satu karyawan perusahaan. Kurang lebih dua tahun lamanya, kami sama-sama mengumpulkan uang untuk persiapan masa depan yang kami inginkan selama ini, yaitu menikah. Waktu berjalan tanpa terasa, aku memberanikan diri untuk bertunangan dengannya, tepatnya pada tanggal 20 Oktober 2018.

Hari demi hari terus berjalan, hingga tiba hari pernikahan kami, yaitu tepat pada tanggal 8 Maret 2019. Benar-benar tidak terasa sekali, semua berlalu begitu cepat. Berawal dari cinta monyet sewaktu SMA, hingga ke jenjang pernikahan. Tanpa terasa, sembilan tahun lamanya kami bersama, dari nol hingga kami sukses saat ini. Ini semua berkat usaha kami berdua, adanya sikap saling percaya dan keterbukaan, menghadapi semuanya bersama-sama, entah itu suka atau duka.

Walaupun saat ini usia pernikahan kami baru berjalan 4 bulan lamanya, namun kami akan berusaha untuk tetap mempertahankan hingga akhir hayat. Karena menurut kami, cinta sejati itu memang benar adanya. Tidak ada yang tidak mungkin dan tidak ada yang tidak bisa. Selama kami mau berusaha dan saling percaya bahwa semua bisa dilakukan, asalkan terus bersama. Hidup dan mati hanya Tuhan yang tahu. Dengan doa dan usaha, kami dapat melahirkan cinta sejati yang sesungguhnya, dan dengan cinta sejati, kami dapat melahirkan kehidupan yang sebenarnya. Aku, kamu, dan kami adalah cinta sejati yang sesungguhnya.

Cirebon, 18 Juli 2019

 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓