Setiap Perjalanan Menuju Pernikahan Selalu Memberi Kesan Tersendiri

Endah Wijayanti24 Jul 2019, 07:12 WIB
cerita persiapan menikah

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Dewi - Lampung

Kenalkan nama saya Dewi, saya anak ke-3 dari 6 saudara. Saya tidak memiliki mama sejak saya umur 12 tahun. Saya memiliki saudara perempuan jadi kami hanya berdua selain itu saudara saya laki-laki semua serta segala pekerjaan rumah tangga di rumah saya semua yang mengerjakan. Saya seperti berperan sebagai mama di keluarga saya. Singkat cerita saya memiliki pacar dan kami telah menjalin hubungan selama 8 tahun sejak tahun 2010. Karena saya masih memikirkan adik-adik yang masi sekolah saya tidak memiliki pikiran untuk menikah.

Awal tahun 2018 saya resmi bertunangan dengan pacar saya, semua orang tua ingin saya cepat menikah dengan dia tetapi saya meminta kepada papa saya terutama juga pada calon mertua saya untuk memilih bulan pernikahan, karena saya berpikir untuk persiapan pernikahan saya butuh waktu lumayan panjang. Jadilah pilihan kami berdua bulan November di tahun itu juga saya ingin melangsungkan pernikahan kami. Setelah bertunangan kami berdua memilih resepsi kami dengan tema nasional alias umumnya di kota, lamaran/sangjit dan sebelum pemberkatan kami mengikuti budaya teh pai. Keputusan ini diambil karena calon mertua saya adalah orang awam dan tidak tahu pernikahan nasional, selain itu kami berdua berbeda suku dan budaya.

 

Mempersiapkan Semuanya Sendiri

menikah teman SMA
Ilustrasi./Copyright pexels.com/@alexander-kolomin-30854

Kami berdua tidak memiliki tabungan serta dana kami terbatas untuk pembayaran awal/DP untuk gedung, bridal, jasa fotografer, katering, souvenir, undangan, dekorasi serta jas, gaun keluarga, dll. Kami selalu cekcok tentang pendanaan tapi kami kompak keliling, muter-muter mencari, dan menawar dengan harga yang terjangkau. Akhirnya pelan-pelan kami dapatkan vendor-vendor dengan harga murah dan mulai menyicil men-DP vendor-vendor tersebut. Kami mulai fitting baju, serta bekerja untuk menyicil pembayaran kami walau lelah kami bekerja supaya meringankan pembayaran dan menyicil persiapan lamaran/sangjit.

Ternyata persiapan pernikahan hanya dengan tenaga dan pikiran kami berdua itu sangat tidak mudah. Kami sering berdebat dan meributkan hal-hal kecil terlintas untuk mengundurkan hari pernikahan kami dengan persiapan yang mepet bagi saya. Stres mungkin kata yang tepat untuk persiapan kami karena tanpa bantuan saudara dan saya sangat merindukan sosok mama menjelang pernikahan yang menghitung hari.

Hingga lamaran/sangjit saya yang memasak. Saya juga menyiapkan hidangan untuk para tamu yang akan datang membawa nampan lamaran. Sehari sebelum H-5 saya terakhir fitting baju gaun yang akan saya pakai kedodoran alias berat badan saya turun dratis, langsung saja diakali supaya tidak kedodoran. Saya bersyukur semua terkendali dan kami memiliki cerita panjang di balik pernikahan kami yang lancar.

Bagi semua yang mau menikah dengan atau tanpa orang tua semangatlah karena pernikahan dengan perencanaan serta persiapan bersama pasangan hidupmu akan menjadi cerita. Kenangan yang unik untuk diceritakan ke anak-anakmu setelah mereka dewasa nanti.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓