Tak Harus Seindah Cerita Dongeng untuk Bahagia di Hari Pernikahan

Endah Wijayanti28 Jul 2019, 13:45 WIB
menikah tak seindah disney princess

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Endah - Mojokerto

Menikah adalah sebuah komitmen terhadap cinta untuk hidup bersama baik dalam duka maupun duka. Jika ditanya kisah cinta impianmu seperti apa? Sudah pasti jawabanku adalah seperti disney princess. Sejak kecil aku sangat menyukai cerita disney princess, mulai dari Cinderella, Snow White, Aurora, Belle, Putri Jasmine, hingga Ariel si Putri Duyung. Sebuah kisah di mana selalu ada ending yang manis dalam setiap ceritanya. Selama 23 tahun belum pernah menjalin cinta, akhirnya Tuhan mempertemukan jodohku dengan cara yang tidak terduga. Kami menikah bulan kemarin tepatnya tanggal 1 Juni 2019. Acara pernikahan ini kami laksanakan setelah satu tahun dari hari tunangan, 1 Mei 2018.

Kami melakukan saving bersama dengan membuka rekening tabungan sebagai persiapan finansial. Setiap gaji yang kami dapat tiap bulan kami sisihkan dalam rekening bersama. Hanya saving saja yang bisa kami lakukan saat itu, sedangkan persiapan lain untuk pesta pernikahan belum terpikirkan olehku. Yang ada di pikiranku saat itu hanyalah keinginan mendapat pekerjaan baru yang lebih baik karena aku berpikir kesempatan untuk mendapat pekerjaan baru akan lebih susah kalau statusku sudah menikah. Bahkan aku ingin menunda tanggal pernikahan jika itu dirasa perlu. Berbagai proses seleksi rekrutmen sudah aku coba, tapi keberuntungan masih belum berpihak padaku. Sama halnya denganku, suamiku saat itu juga mencoba mencari keberuntungan dengan apply lowongan-lowongan pekerjaan yang dirasa lebih baik dari pekerjaannya sekarang ini.

 

Mempersiapkan Pernikahan

menikah batal
Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Berbeda dengan pasangan–pasangan kekasih pada umumnya yang menghabiskan waktu liburnya dengan jalan-jalan, nonton bioskop, ataupun mengunjungi destinasi wisata favorit mereka. Aku dan suami saat itu lebih sering belajar persiapan rekrutmen dengan belajar psikotest, mengerjakan online assesment dan semacamnya. Layaknya pasangan jobseeker yang saling memberikan semangat, semua itu karena kami ingin begitu menikah sudah ada pekerjaan yang mapan.

Sudah berusaha dan berdoa tapi Allah punyai rencana lain, sudah satu tahun mengikuti beberapa proses seleksi rekrutmen tapi keberuntungan masih juga belum berpihak pada kami. Bahkan ada yang hampir saja lolos, tapi gagal pada pengumuman tahap akhir. Sampai akhirnya aku sadar, mungkin ini (menikah) harus disegerakan. Seperti nasihat orang tua yang selalu bilang kalau rezeki itu Sang Pencipta yang atur, kita boleh merencanakan tapi Allah yang menentukan. Intinya aku harus belajar bersyukur dengan keadaanku yang sekarang.

Menikah bukan berarti menyerah, punya cita-cita untuk karier yang lebih baik dan mengembangkan diri adalah wajib bagiku asalkan tidak mengabaikan peranku dalam keluarga. Aku yakin semua usaha tidak akan sia-sia dan kebahagiaan tidak diukur dari materi. Setelah hatiku mantap untuk menikah, kami disibukkan dengan persiapan pernikahan seperti membuat list undangan, pesan souvenir dan kue.

Untuk pemilihan make up dan dekor aku tidak bisa memilih perias lain karena ada tetangga dekat yang punya usaha sebagai wedding organiser yang mempunyai hubungan baik dengan keluargaku. Sebenarnya dari awal aku tidak terlalu suka dengan perias itu, tapi aku tidak mau membuat hubungan yang tidak baik untuk ke depannya dengan tetanggaku karena hidup di kampung tidak akan lepas dengan yang namanya tetangga. Untuk pakaian akad aku memilih untuk membuat pilihan desain sendiri dan membawanya ke penjahit. Tidak ada foto prawedding, sengaja kami skip karena menyesuaikan budget yang lebih baik digunakan untuk hal lain yang lebih penting.

Bahagia

mengabaikan mitos dalam mempersiapkan pernikahan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Dua minggu sebelum akad akhirnya dress putihku jadi, walaupun harus berkali-kali menagih ke penjahit yang jawabannya selalu sama, "Belum selesai, Mbak." Sangat molor dari deadline yang sudah ditetapkan sebelumnya, cukup dibuat kesal karena harus terus mengingatkan untuk segera diselesaikan dress-nya. Setelah aku fitting ternyata ukurannya tidak sesuai dengan ukuran tubuhku, beruntung masih ada waktu untuk permak dress tersebut.

Saat hari pernikahan tiba ternyata dekor yang terpasang tidak sesuai dengan gambar yang aku pesan, tidak lengkap juga seperti yang tertera di paketan wedding. Aku dibuat kecewa pada hasilnya. Ingin rasanya aku komplain ke tukang dekornya saat itu juga. Tapi aku menahan diri agar tidak bad mood karena ini adalah hari bahagiaku, tidak seharusnya aku sedih hanya karena apa yang ada tidak sesuai harapanku.

Acara pernikahan ini memang bukan seperti Disney Wedding yang acara pestanya begitu perfect, tapi bagiku dan suami pernikahan ini adalah acara terhebat yang akan kami kenang seumur hidup dan diceritakan pada anak cucu kami nanti. Pernikahan bukanlah sebuah akhir, tapi merupakan sebuah awal yang terus kita jalani dalam kasih sayang dan membuatnya menjadi bahagia selamanya. Aku selalu berdoa agar ikatan cinta ini selalu dalam ridho Allah yang akan membawa kami ke surga.

 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓