Sukses

Lifestyle

Beda Usia 14 Tahun Bukan Halangan Mewujudkan Pernikahan Bahagia

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Annisa Annabila - Sukabumi

Hai namaku Annisa Annabila, di sini aku mau berbagi pengalaman saja, ikut berpartisipasi dalam hal sharing seputar pernikahan. Ya siapa tahu bisa menjadi motivasi yang positif bagi sesama wanita. Oke, dimulai dari cerita perjalanan hidupku.

Aku akhirnya memutuskan untuk menikah muda di usia yang menginjak 20 tahun. Aku putri bungsu, tidak mempunyai adik. Pada saat itu aku sudah bekerja, menjadi karyawati salah satu pabrik di kabupaten Sukabumi. Aku sudah harus mencari uang sendiri, untuk kebutuhan biaya hidup, juga untuk membantu memenuhi kebutuhan ayahku, juga keponakan-keponakanku yang masih sekolah dasar.

Aku tinggal bersama ayah, kakak perempuanku seorang janda saat itu, dan dua keponakan laki-laki yang memilih ikut dengan ibunya, kami tinggal di satu rumah kontrakan dengan biaya hidup pas-pasan. Kakak perempuanku karyawati di perusahaan yang sama denganku hanya berbeda divisi. Ayahku juga seorang mantan pegawai karyawan swasta di salah satu perusahaan yang terletak di Jakarta Selatan. Tapi usianya yang tak lagi muda, fisiknya pun sudah lemah dan mulai sakit-sakitan. Maka dari itu aku dan kakak perempuanku lah yang menggantikan posisi beliau untuk membanting tulang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sekaligus menjadi tulang punggung keluarga, karena jasa orang tua tidak akan terbalas sampai kapan pun.

Lalu bagaimana dengan ibuku? Ya ibuku sudah lama meninggal, dari tahun 2006. Sehingga saat itu aku hanya mempunyai orang tua tunggal yaitu ayahku. Saudara yang lain? Tentu ada, dua orang kakak laki-laki. Tapi mereka sudah menikah dan sudah mempunyai kehidupan masing-masing. Menengok ayahku pun hanya pada saat ada waktu senggang.

Aku tidak memikirkan ingin cepat-cepat mempunyai pasangan, walau tidak dipungkiri ada rasa iri melihat teman-teman sepekerjaan sudah banyak yang memiliki pasangan maupun calon pendamping, tapi hal itu tidak jadi prioritas yang utama pada saat itu. Aku malah fokus untuk bekerja demi membantu ayahku juga meringankan beban kakak prempuanku.

 

 

 

Dijodohkan

Singkat cerita, aku mempunyai tetangga, sepasang suami isteri, ya keluarga kecil. Mereka tinggal bersebelahan dengan rumah kontrakanku. Tetanggaku yang si suami ini kebetulan orang yang baik dan bisa dibilang alim, juga istrinya seorang muslimah yang juga mantan santri.

Suaminya sudah akrab kupanggil Pak Ustaz tapi usianya belum terlalu tua dan si istri kupanggil Teteh Tika. Mereka sangat baik dan berjasa di hidup kami. Jika aku dan kakak perempuanku sedang sibuk-sibuknya bekerja dan belum pulang kerumah, Teh Tika lah yang sering menengok ayahku ke rumah dan sering pula memasak untuk ayahku. Teh Tika sudah menganggap ayahku seperti orang tuanya sendiri. Dan mungkin melihat keadaan keluargaku yang cukup prihatin, ayahku sudah sering jatuh sakit, Pak Ustad mempunyai niat yang baik untuk menolongku.

Mungkin saat itu sebagai bentuk semampunya dia untuk membantu meringankan bebanku. Aku yang dekat dengan Teh Tika, tak jarang aku pun sering curhat padanya. Dengan tetanggaku ini, dulu saat kami tinggal bersebelahan memang bisa dibilang akrab. Dan suatu hari, Pak Ustaz ingin mengenalkanku pada salah satu temannya yang masih single. Dia bilang teman laki-lakinya ini suka datang ke rumahnya untuk sekadar bersilaturrahmi. Seorang karyawan swasta di salah satu pabrik air mineral kemasan terkenal di Indonesia, namun berdomisili di Sukabumi.

Merasa iba melihat nasibku, akhirnya Pak Ustaz dengan segala cara selalu ingin mempertemukanku dengan teman laki-lakinya ini untuk kemudian dijodohkan denganku, agar aku bisa mempunyai seorang suami dan ada yang menafkahiku tanpa aku harus bekerja lagi, dan bisa membantu meringankan bebanku pada ayahku. Dan teman laki-lakinya itu adalah yang menjadi suamiku saat ini.

Kami pun akhirnya bertemu di rumah Pak Ustaz, itupun sudah beberapa kali mendapat penolakan mentah-mentah dariku, karena memang aku belum ingin buru-buru menikah saat itu, karena fokus pada ayahku. Tapi mungkin sudah takdir jodohku, aku pun jadi bisa dipertemukan oleh suamiku saat itu.

Keinginan Ayah

Awal perkenalan yang biasa saja, dan lama kelamaan suamiku menyatakan perasaanya untuk menjalani hubungan yang serius denganku bukan untuk main-main. Suamiku tahu betul kondisi keluargaku saat itu. Dan di sisi lain karena sudah mengenal satu sama lain, dan merasa cocok, suamiku memberanikan diri untuk meminta izin meminangku pada ayahku.

Saat itu ya reaksi ayahku sangat senang, karena akhirnya ada seorang pria yang datang ingin menikahiku. Kondisi suamiku saat itu adalah karyawan tetap, gaji perbulan dengan UMR yang lumayan tinggi, masih single berusia 34 tahun, terpaut 14 tahun usianya denganku, tapi bukan seorang duda, namun tidak menjadi penghalang bagi kami. Tidak mempunyai beban hidup, kedua orang tuanya sudah lama meninggal, hanya ada saudara-saudara kandungnya saja, dan tinggal bersama saudara sepupunya di Sukabumi.

Suamiku berasal dari kota Garut. Dan suamiku tinggal mencari seorang wanita untuk dinikahi. Bak sudah digariskan, suamiku berteman dengan tetanggaku, dan Pak Ustaz tidak salah ingin menjodohkannya denganku. Karena Pak Ustaz berpikir dirasa pantas untuk dijodohkan padaku saat itu. Dan lebih bersyukurnya lagi, suamiku orang yang baik, setelah mengenalnya dia mampu menerima segala kondisi hidupku.

Dalam waktu 10 bulan berpacaran, kami sudah mengenal sifat, karakter, dan pribadi masing-masing. Kondisi keluarga pun ya dirasa sudah cukup untuk saling mengenal. Keluarga dari suamiku sudah tahu tentang keluargaku juga. Dan kami pun bertunangan. Tapi pada saat itu ternyata suamiku masih mempunyai urusan yang lain, mempunyai utang cukup besar yang harus dibayar setiap bulannya, dengan motor pribadinya sebagai jaminan. Dan uang dari hasil pinjaman motor adalah bekas kakak ipar laki-lakiku untuk keperluan bisnis. Hal itu pun menjadi penghambat untuk rencana anggaran biaya pernikahan kami.

Suamiku sempat meminta waktu lagi untuk menikahiku dengan tidak terburu-buru karena ingin menyelesaikan urusan utang dan yang lain-lainnya dulu sebelum menikah denganku, agar tidak menjadi beban nantinya. Ayahku menerima alasan suamiku saat itu, lalu ayahku membicarakan hal itu denganku. Tapi tanpa diduga ayahku jatuh sakit, penyakit gula darahnya kambuh, dan saat itu beliau berbicara pada suamiku agar cepat-cepat menemukan solusi untuk segera menikahiku. Beliau ingin bisa menyaksikan putri bungsunya menikah dan menjadi wali pernikahanku.

Karena mendengar permintaan ayahku, hal itu pun menjadi pecut untuk suamiku. Suamiku pun berusaha untuk mengumpulkan biaya dari mana saja untuk bisa menikah secepatnya. Jadi dia memutuskan semampunya untuk memberiku uang ‘SELEH’ (dalam bahasa Sunda itu mahar untuk keperluan hajatan) semampunya dia, bisa dibilang low budget.

Pernikahan Bahagia

Suamiku pun mendatangi amil nikah dengan dibantu dan ditemani Pak Ustaz, dengan segala persyaratan pernikahan yang sah di mata agama dan negara kami pun menyiapkan semuanya dengan matang. Dan jadilah suamiku dan ayahku menentukan tanggal dan bulan pernikahan kami.

Pada tanggal 6 April 2014 kami pun melangsungkan pernikahan di rumahku. Akad nikah, mas kawin sebesar 3 gram emas, seserahan, katering, sound system, dekorasi paket ekonomis, dan tamu undangan hanya keluargaku dan keluarga suami saja dan orang-orang terdekat kami saja. Pernikahan yang sangat sederhana, tapi yang terpenting sah.

Aku bisa menerima kemampuan suamiku dengan ikhlas, begitupun suamiku. Kami menjadi ikhlas saling menerima segala kekurangan dalam kehidupan kami maupun kelebihan masing-masing saat dulu. Ya ala kadarnya. Yang terpenting menikah dengan sakral, resmi, terdaftar di negara, dan tidak melanggar aturan yang berlaku. Tidak mendahulukan gengsi untuk merayakan pesta pernikahan dengan resepsi yang mewah nan megah.

Walaupun tidak dipungkiri impianku sebagai seorang wanita ingin merayakan pesta pernikahan dengan resepsi, tapi itu hanyalah tradisi yang sudah terbiasa di kalangan masyarakat. Jadi initinya bagiku adalah bersyukur, tidak muluk-muluk, tidak gengsi, dan mau menerima keadaan dengan ikhlas, seadanya dan semampunya, dengan tidak memaksakan kehendak. Belajar menerima dan bersyukur, menikmati yang ada. Karena tidak semua orang bernasib untung dan mujur, masih ada yang lebih prihatin dibanding kita, di bawah sana yang hanya menikah di KUA saja karena alasan-alasan tertentu pun banyak, tapi mempelai wanita mampu menerimanya asal betul-betul dinikahi, perlu diingat secara sah.

Jadi bersyukurlah bagi para wanita yang dulunya nikah dengan pesta besar-besaran ataupun resepsi dengan mewah. Aku pun punya foto saat kami menikah dulu, itupun dengan handphone jadul hihi. Setidaknya ada dokumentasi foto pernikahan kami. Juga ada di kamera kakak perempuanku yang entah sekarang fotonya ke mana saat ijab kabul. Tapi yang awet tentu saja di ponselku.

Dan sekarang usia pernikahan kami terhitung sudah 5 tahun lebih. Alhamdulillah kami hidup berkecukupan, asalkan selalu bersyukur pada Tuhan yang maha kuasa. Kami dikaruniai seorang putra, dan sekarang usia anak kami sudah menginjak 4 tahun, juga calon anak kedua kami yang masih di dalam perut.

Berumah Tangga

Ayahku sudah meninggal dari tahun 2014 lalu, beliau bukan semata-mata ingin melihatku segera menikah karena sakitnya kambuh saat itu, tapi ternyata beliau merasa waktunya tidak lama lagi, dan ingin sekali menjadi wali nikah sesungguhnya untuk putri bungsunya ini. Aku selalu berdoa untuk ayah dan ibu. Dan yang terpenting keinginan ayah yang terakhir adalah melihatku menikah dan sudah menjalani kewajibanku sebagai seorang anak. Kakak perempuanku pun sudah menikah lagi, membawa anak-anaknya dan sudah mempunyai kehidupannya sendiri saat ini, begitupun aku hidup bersama suamiku.

Aku pun menjalani pernikahan dan menikmatinya. Aku dan suamiku pun bernasib sama tanpa adanya kedua orang tua kami. Walaupun memang tidak dipungkiri kehidupan rumah tangga kami tidak selalu berjalan lurus dan mulus saja, seribu banding satu, karena namanya kehidupan pasti berliku-liku. Ada saja permasalahan dalam rumah tangga, mau hal itu pertengkaran kecil atau besar, perbedaan pendapat, soal anak, perbedaan pemikiran, prinsip, dan lain-lainnya.

Saya rasa moms di luar sana pun pasti mengalami hal yang sama, hanya saja beda-beda cara menghadapi dan menyelesaikan tiap persoalan rumah tangga. Mungkin sedikit ya yang selama pernikahannya tidak pernah bertengkar sama sekali? Ada? Hehe. Memang baru menikah satu atau dua tahun masih bisa dibilang masa-masa masih manisnya pernikahan, tapi seiring bertambahnya usia pernikahan akan selalu ada permasalahan yang muncul, mau itu besar ataupun kecil.

Permasalahan dalam bentuk apapun sebagai bumbunya rumah tangga, dan ujian atau cobaan yang harus dilewati. Dan semuanya itu menuntut kedewasaan kita sebagai seorang wanita, istri, juga seorang ibu bagi anak-anak dalam menghadapi tiap permasalahan, agar menjadi contoh yang baik, demi menciptakan keluarga yang harmonis, sakinnah mawaddah warrahmah, pernikahan dengan tujuan ibadah pada Tuhan.

Sekian cerita dariku, semoga bisa menjadi manfaat bagi moms di luar sana ya.

Ambil kesimpulan yang positifnya saja, jangan diambil yang negatifnya.

Terima Kasih FIMELA.COM sudah mengizinkan aku untuk berpartisipasi menulis cerita di sini.

 

#GrowFearless with FIMELA

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading