Susahnya Menyatukan Ide Pernikahan dari Dua Keluarga Berbeda

Endah Wijayanti28 Jul 2019, 15:45 WIB
menyatukan dua keluarga dalam menikah

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Adriana - Riau

Perkenalkan nama saya Adriana. Saat ini saya sedang mempersiapkan pernikahan untuk tahun depan (2020) di Jakarta. Awalnya saya sangat percaya diri kalau saya dan pasangan tidak akan mengalami yang namanya cekcok dalam persiapan pernikahan, secara selama ini pasangan saya cukup simpel dan nggak neko-neko. Dia juga pernah mengatakan akan nurut saja apa yang saya mau dan kami adalah tipe pasangan yang bisa dikategorikan sangat jarang berantem, namun hal itu berubah sejak kami mulai mempersiapkan pernikahan.

Drama persiapan pernikahan dimulai dari acara pesta pernikahan. Dari sisi orangtua saya menginginkan table party sedangkan dari pihak pasangan saya menginginkan standing party. Padahal saya sudah menyusun daftar undangan dari pihak saya dan susunan table-nya. Saya sangat marah karena dari awal pasangan saya tidak pernah menentang saya karena menginginkan table party. Namun, ketika hal itu diketahui oleh ibunya semua berubah. Saya sebenarnya tidak masalah mau itu table party atau standing party, yang membuat saya kecewa adalah ketika saya sudah menyusun semua tiba-tiba berubah. Akhirnya pihak saya mengalah, dengan pertimbangan karena venue nanti yang bayar adalah pihak pria.

Setelah itu permasalahan lain yaitu penentuan tanggal, saya berinisiatif untuk mencari sendiri tanggal pernikahan. Karena kalau bukan dari saya yang memulai, pasangan saya tidak akan memulai dan terpikir. Mulailah dari saya mencari kalender Chinese, mulai dari harus nyari bulan 8 atau 9 dari penanggalan China (bulan ber-ber kalau istilah Indonesianya). Kemudian saya mencari hari sabtu dan diikuti dengan zodiak apa saja yang tidak match untuk hari itu.

Setelah itu saya buat list dengan pilihan beberapa tanggal. Namun, ketika disampaikan pada pihak pasangan, mereka menjawab seolah-olah ingin pergi menanyakan pada peramal plus ditambah seolah-olah saya tidak mempunyai dasar yang kuat untuk menentukan tanggal dari Google alias sok pinter. Padahal alasan saya ingin cepat menentukan tanggal adalah karena semakin lambat kita menentukan tanggal pernikan semakin naik harga vendor, jadi makin cepat makin baik buat DP. Karena kebetulan di bulan Juli 2019 ada pameran pernikahan. Plus, saya mencari tanggal dari sumber terpercaya.

Saya sangat marah sampai saya mengeluarkan kata-kata, "Kalau mau tanya peramal, tanya aja. Kali-kali nanti dia bilang kita nggak cocok jadi udahan aja." Namun, saya juga mengatakan kepada pasangan saya, "Percayalah semua tanggal itu adalah baik, kamu seorang Kristiani tidak seharusnya percaya akan peramal atau sejenisnya."

 

Drama Pernikahan Selalu Ada

menikah dengan hati
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Hampir dua minggu saya sangat sensitif sejak kejadian ini tiap hari ngomel-ngomel nggak jelas karena merasa tersinggung. Akhirnya pasangan saya mencoba menjelaskan pada orangtuanya bahwa akan ada kenaikan 10% jika terlalu lama DP (karena mereka maunya tahun depan baru DP, secara lamaran rencannya akhir tahun). Plus, tiba-tiba saat pasangan saya mendengarkan radio seorang pendeta mengatakan, "Janganlah anda pergi ke orang pintar, jika anda pergi ke orang pintar maka artinya andalah yang bodoh." Akhirnya, mereka setuju dengan tanggal yang saya ajukan.

Selesai satu masalah, muncul lagi masalah lain yaitu soal venue, saya sejak awal sudah tahu mau di venue apa. Sudah cari tahu tentang venue, tanya harga, menunya dan fasilitasnya apa, lokasi dekat dengan mall dan apartement atau tidak. Secara saya tinggal di Singapura, orangtua di Riau dan pasangan saya di Jakarta jadi saya benar-benar cuma berkomunikasi dengan vendor via What's App. Saya pun harus cari yang dekat apartemen atau hotel buat penginapan relatives dan tamu saya yang dari Singapura. Namun, ketika disampaikan ke pihak pasangan, keluarganya tidak setuju dibilang mahal, dll. Akhirnya saya disuruh mencari venue yang mereka mau, dengan pasrah saya cari informasi sana sini dan komunikasi dengan manager venuenya dan setelah dihitung-hitung terjadi venue yang saya mau malah lebih murah.

Bayangin, saya sampai bikin anggaran pake excel per venue, jadi disurvei satu per satu vendor yang disuka berapa harganya dimasukin dan dibikin list per venue dengan fasilitas-fasilitasnya. Bayangkan kurang baik apa saya? Namun sayang pihak pasangan belum puas, yang paling nyebelin sih sudah tak setuju dengan pilihan kita, bisanya hanya komplain tanpa berinisiatif untuk mencari tahu sendiri. Survei sendiri cuma tahu komplain doang benar-benar bikin darah tinggi. Akhirnya, setelah debat marahan emosi diem-dieman, kami pun memutuskan akan membicarakan setelah kita pergi ke pameran pernikahan di JCC tanggal 26 Juli.

Jujur saja, andai saya tahu kalau bakal seribet ini mungkin saya akan memilih untuk melakukan pernikahan di catatan sipil saja. Semoga setelah attend pameran pernikahan, semua adem ayem aja. Benar-benar susah menyatukan dua ide pernikahan dari keluarga yang berbeda.

Buat semua calon pengatin terutama yang cewek, benar-benar harus sharing semua keluh kesah ke orang lain. Kalau dipendam sendiri nanti bisa darah tinggi dan susah tidur. Dan yang paling penting, seharusnya orangtua lebih bisa menyerahkan semua urusan pernikahan ke anak-anaknya, toh yang nikah anaknya. Jujur saja, kita sebagai kaum wanita bukannya minta mau yang mewah cuma kita ragu kalau semua diserahkan ke pihak pria saya yakin tak ada progress. But, semua ini bakal jadi bekal pengalaman yang berharga so nanti kalau punya anak saya nggak bakal banyak ikut campur, cukup anak saya yang merencanakan semua. Cukup sekian ceritanya. Terima kasih.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓