Cincin dari Ibu untuk Pasangan Hidupku

Endah Wijayanti27 Jul 2019, 17:01 WIB
cincin untuk istri

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Sapta Mupakat - Tanjungpinang

Awal tahun 2004 aku pulang kampung dari Kalimantan via Jakarta ke tanah kelahiranku di Tapanuli. Umurku waktu itu sudah 28 tahun. Pada suatu pagi yang sangat dingin mamaku memanggilku ke dapur sambil menyalakan api dengan bahan bakar kayu ala kampung.

Aku cukup kaget ketika dipanggil ke dapur, ternyata ayahku juga ada di sana. "Ada apa gerangan?" tanyaku. Tidak biasanya mereka memanggil aku dengan cara yang tak biasa seperti itu. Lalu mamaku memulai pembicaraan dengan serius. "Nak boleh cerita bagaimana keadaanmu sekarang, pekerjaanmu bagaimana? Enak tidak jadi PNS di Kalimantan?" Lalu aku pun memberi jawaban seperlunya.

Ternyata tidak sampai di situ saja, mereka berdua kompak bertanya soal jodoh. "Nah lho calonku siapa, joduhku siapa ya?" Aku pun belum dapat memberi jawaban pasti siapa nama gadis yang akan aku persunting untuk menemani sisa umurku nanti. Akhirnya aku teringat dengan gadis itu yang sekarang sudah menjadi istriku. Ya… mungkin dialah yang paling tepat akan kulamar jadi istriku dari beberapa daftar yang ada. Tapi apakah dia mau aku nikahi?

Dia teman yang aku kenal ketika bekerja di perusahaan swasta di Jakarta pada 2001. Hubungan kami bsa dibilang lumayan bagus dan lumayan dekat. Waktu sama-sama bekerja di tempat dulu kami pernah TTBA (Teman Tapi Biasa Aja). Sesekali di akhir pekan atu pas libur aku mengajaknya jalan ke mall atau nonton bioskop dengan gantian bayar/traktirannya. Tapi setiap kali aku mau nembak dia, dia selalu menghindar. Dia belum terlalu yakin sama aku karena ternyata pekerjaan aku waktu itu masih belum terlalu prospektif.

Di sela lamunanku tiba-tiba tiba mamaku mengeluarkan sebuah cincin dengan sebuah pesan khusus. "Nak, ini cincin untuk calon menantuku. Segera dapatkanlah ia dan bawa ke sini jadikan menantuku." Aku menatap cincin emas itu dengan sedikit ragu, galau dan tak percaya. Bagaimana aku harus meresponnya? Umur mereka sudah cukup senja juga. Sejurus kemudian ayahku memberikan sebuah atasan jas. "Ini jas yang bagus, aku beli untukmu. Nanti kamu pakai di hari pernikahanmu juga boleh atau pakai saat kamu akan melamar calon mantuku." Coba bayangkan, aku harus bilang apa lagi? Selain mengiyakan dan mohon restu agar aku sukses mendapatkan jodoh.

 

Melamar

Kata cinta sejati
Ilustrasi.(Sumber: Istockphoto)

Awal minggu kedua aku kembali ke Kalimantan, transit dua hari di Jakarta, aku memberanikan diri menelepon gadis itu, calonku lewat wartel. Ternyata kosnya di sekitar Jalan Kwitang masih tetap sama. Aku menyampaikan kalau malam itu aku akan singgah di kosnya setelah dari siang hari aku bermain biliar bersama abangku di kawasan Sarinah Jakarta.

Calon istriku pun mengiyakan dan membolehkan aku untuk singgah di kosnya. Dia kaget karena sejak 2002 akhir kami sudah jarang berkomunikasi. Tepat pukul 17.00 aku sampai di tempat kosnya. Aku mengajaknya nonton bioskop di TIM (Taman Ismail Marzuki). Setelah memesan makanan dan minuman, di tengah-tengah suasana romantis itu aku menembaknya, meraih tangannya, memberikan sebuah cincin ke jari manisnya. Dan mengatakan aku tidak mencari pacar, aku sedang mencari istri.

"Maukah kau menikah denganku?" Aku pun telah melamarnya tepat pukul 18.18. Tak kusangka responnya sesuai dengan harapan, terdiam sejenak lalu tersenyum tanpa mengeluarkan kata-kata. Dengan sedikit memaksanya memberi jawaban ya atau tidak akhirnya dia pun menberi jawaban ya menerimaku sebagai calon suaminya.

Hari berganti hari kami menyiapkan acara pernikahan kami dan memilih tanggal cantik 09 September 2004. Sejak kami menikah kami menjalaninya dengan segala romantikanya. Sekarang anak kami sudah tiga. Dua perempuan dan satu lelaki. Oh alangkah indahnya pernikahan ini.

Tanjungpinang, 24 Juli 2019

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓