Sebelum Berutang demi Resepsi, Pikirkan Juga Masa Depan sebagai Suami Istri

Endah Wijayanti27 Jul 2019, 13:47 WIB
utang resepsi nikah

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: R - Samarinda

Pentingnya Pembelajaran Finansial bagi Pasangan yang Hendak Menikah

Sebenarnya, kisah saat saya dan suami merencanakan untuk menikah tak ada yang spesial. Semuanya berjalan terlalu lancar sampai acara pernikahan selesai digelar. Kedua belah pihak, baik keluarga saya dan suami, sama-sama tak ada yang mempermasalahkan soal besaran jumlah uang yang ditentukan untuk acara pernikahan yang memang cukup besar waktu itu.

Namun, saat kami berdua sudah sah menjadi pasangan, suami saya mengakui bahwa uang yang ia gunakan untuk membiayai acara pernikahan adalah hasil berutang. Karena masih jadi pengantin baru, cinta saya kepadanya waktu itu juga masih sangat menggebu-gebu, saya tidak begitu merasa kaget maupun keberatan. Saya hanya mengatakan mari kita bersama-sama bekerja untuk membayar utang tersebut.

 

Kesulitan Finansial

Ilustrasi Relationship Couple
Ilustrasi. (Foto: unsplash.com/Apaha Spi)

Seiring berlalunya hari, buah hati kesayangan kami berdua akhirnya lahir ke dunia ini. Saya cukup merasa kaget karena biaya kebutuhan keluarga kami langsung melonjak di mana suami saya justru sedang mendapat masalah di tempat kerja. Masalah itu berakhir dengan solusi yang pahit, ia dipaksa mengundurkan diri secara baik-baik.

Kami benar-benar terjepit. Di satu sisi kebutuhan sedang melonjak naik, justru pemasukan malah jadi menurun drastis. Ia sebenarnya langsung mencari solusi dengan berusaha berwiraswasta. Namun, sebagai wiraswasta yang baru saja merintis sebuah usaha, kami berdua harus sangat berhemat. Parahnya, utang kami berdua belum sempat dilunasi sebelum kejadian ini terjadi. Kejadian ini sedikit berimbas dengan kondisi psikis saya sebagai seorang ibu baru.

Mungkin bagi sebagian orang berhutang untuk kebutuhan acara pernikahan adalah hal lumrah. Terasa begitu biasa karena banyak yang melakukannya. Namun, jika dipikir kembali tidaklah bijaksana memaksakan acara pernikahan yang mewah dengan menumbalkan kebahagiaan setelahnya. Bukankah pernikahan itu adalah perjalanan seumur hidup, bukannya acara formalitas yang berlangsung hanya sehari?

 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓