Selalu Ada Jodoh Terbaik yang Bisa Menerimamu Apa Adanya

Endah Wijayanti30 Jul 2019, 13:15 WIB
menikah menerima apa adanya

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: J - Bogor

Aku orang yang biasa saja dengan nilai yang pas-pasan di sekolah. Aku orang yang biasa saja dalam arti aku bukan anak famous, bukan anak kutu buku, bukan anak yang suka mencari masalah, juga bukan anak yang rajin. Ya, karena aku adalah anak yang suka sekali bercanda, berlari-lari, serta bermain-main seperti anak kecil.

Lingkup pertemananku di sekolah adalah sekumpulan orang yang suka bercanda, namun kami tetap bisa serius dalam hal belajar. Namun, aku memiliki kekurangan yaitu, pendengaran dan caraku berbicara sedikit kurang. Aku dilahirkan di keluarga yang lengkap, aku memiliki ayah, ibu, dan 3 saudara perempuan.

Ibuku adalah seorang yang pendengaran dan cara berbicaranya juga kurang, sama sepertiku, begitu pun dengan ketiga saudaraku. Aku senang bergaul, tetapi aku sangat malu apabila harus berkenalan dengan orang baru, dikarenakan tidak semua orang bisa menerimaku apa adanya.

Bulan itu, Februari 2010, aku melihatnya untuk pertama kali. Lelaki bertubuh tinggi, hitam manis, berkacamata, serta berambut sedikit ikal yang berada di kelas VIII F, Kevin namanya. Sesuatu menarikku kepada kepribadiannya. Ia terlihat humble, friendly, juga menyenangkan.

Sejak hari itu hingga seterusnya, aku selalu memperhatikannya dalam diam. Setelah lama memperhatikan, Kevin menyadari dirinya sering diperhatikan olehku. Ia lalu melihatku balik, tetapi hanya sebatas melihat. Sampai pada hari di mana id card-ku tersangkut di tangan Kevin saat kami sedang berpapasan di selasar kantin.

Aku langsung berusaha mengeluarkan tali yang tersangkut di tangannya, lalu secepat mungkin meminta maaf. Ia pun tersenyum kecil sambil mengatakan, “Tidak apa-apa." Sejak saat itulah Kevin mulai mengajakku berbicara terlebih dahulu. Ia juga mengetahui bahwa aku memiliki kekurangan dalam hal mendengar dan berbicara.

Kevin sangat baik, peduli, sopan, suka bercanda, juga sedikit tertutup. Namun, teman-teman sepermainannya sering mengejek Kevin setiap dia akan berbicara denganku. Kevin mulai menjauh dan tidak mengobrol denganku lagi karena terpengaruh oleh ledekan teman-temannya. Aku sangat kecewa dan memutuskan untuk menjauh juga dari Kevin. Setelah pentas seni kelas IX selesai, aku langsung melanjutkan SMA di Jogja dan Kevin juga hilang kabar dari telingaku.

 

Kembali Bertemu Dengannya

menikah dengan pria baru dikenal
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Sampai pada waktunya kuliah, aku memutuskan untuk mengambil jurusan Hukum di salah satu universitas di Jogja. Aku menjalani hari-hari kuliah pada umumnya seperti orang-orang kebanyakan. Organisasi, kelompok belajar, sampai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) aku ikuti. Terkadang tidak semua kegiatan bisa aku hadiri karena ada saatnya aku lelah, juga bertabrakan dengan jadwal kuliah.

Tidak terlalu sulit bagiku, yang memiliki kekurangan dalam hal mendengar dan berbicara untuk beradaptasi dengan lingkungan kuliah, karena anak kuliah kebanyakan sudah bisa mengerti dan menerima satu sama lain. Hari itu, memasuki semester 2 perkuliahan, aku mengikuti UKM di kampus utama, dikarenakan pertemuan UKM selalu di kampus utama. Saat sedang latihan, aku kaget, sekilas aku melihat orang seperti Kevin sedang berjalan di selasar luar kampus, kebetulan aku latihannya di kebun kampus yang dekat dengan selasar luar kampus.

Aku langsung berpikir, sudah lama sekali aku tidak melihat bahkan memikirkan Kevin, kenapa bisa ada orang yang mirip Kevin? Ya sudahlah aku langsung positive thinking, mungkin itu orang lain. Sampai di kos kok terpikir terus? Aku terus memikirkan apakah itu Kevin atau bukan.

Beberapa hari kemudian di hari yang sama, aku mau memastikan apakah orang kemarin Kevin atau bukan, aku sengaja melihat ke arah selasar luar kampus lagi, ternyata pada saat aku sedang mencari sosok ‘Kevin’ tersebut, muncullah orang tersebut dan secara tidak sengaja dia juga melihatku. Sial! Aku langsung memalingkan mukaku, dalam hatiku rasanya memang seperti Kevin?

Sekitar pukul 9 malam selesai mengikuti UKM, aku langsung bergegas ke motorku untuk segera pulang ke kos, karena hari itu aku capek sekali kuliah dari pagi sampai sore, dilanjutkan dengan mengikuti UKM. Saat sedang menyalakan mesin motor, tiba-tiba ada orang yang menepuk pundakku, “Bocah id card!” panggilnya. Dengan perasaan kaget bercampur senang, aku segera memalingkan mukaku ke belakang, “Kevin!”

Ya, itu memang dia. Penglihatanku masih normal ternyata. Aku bahkan masih mengenali wajah Kevin, meskipun kami sudah lama sekali tidak bertemu. Sejak hari itu, kami sering bertemu juga berbincang bersama. Kevin sering ke kosku, menjemputku untuk sekadar mencari teman makan atau mengerjakan tugas bersama di luar.

Hingga pada suatu hari, Kevin menyatakan perasaannya padaku. Ia mengatakannya di kafe saat kami sedang mengerjakan tugas. Dengan tertawa yang sangat geli, diikuti senyum malu, aku langsung menjawab, “Iya." Hal ini dikarenakan aku sudah tertarik dengan Kevin sejak lama, namun tidak berani mengungkapkan karena keterbatasanku.

Kami mulai berpacaran di semester 4. Berantem pasti ada, sempat putus nyambung juga, namun, namanya juga hubungan, sebisa mungkin aku sendiri harus bisa mengalah dan tidak memperbesar masalah kecil. Di semester 7 dan semester 8 kami masih berpacaran. Kevin lulus terlebih dahulu di semester 7, aku lulus pada semester 8, dikarenakan aku masih harus membagi waktu antara kuliahku, organisasiku, juga skripsiku di semester akhir.

LDR

8 Tips untuk Buat Hubungan LDR Anda Berjalan Lancar
Ilustrasi.

Lulus kuliah, Kevin langsung mencari kerja. Ia diterima kerja di Bali bagian management di sebuah hotel, sedangkan aku masih harus berada di Jogja untuk menyelesaikan skripsiku. Kami Long Distance Relationship (LDR). LDR bagiku tidak masalah, karena sebisa mungkin aku harus selalu positive thinking.

Jika ia jodohmu, dikekang ataupun dibebaskan seperti apapun ia pasti akan kembali lagi padamu. Namun, jika ia bukan jodohmu, mau kamu kekang ataupun kamu bebaskan seperti singa yang dibebaskan ke alam liar, ia tidak akan pernah kembali padamu. Kevin yang sedikit bermasalah jika kami LDR, ia berkata bahwa ia pasti akan sangat kangen kepadaku, Halah, gombal.

Kami LDR selama 2 tahun, itupun sudah banyak sekali drama, mulai dari sempat kehilangan kepercayaan, sampai pada akhirnya saling meyakinkan dan tetap bertahan. Kevin adalah orang paling tulus yang pernah aku kenal sampai detik ini, tetapi dia sedikit gengsian orangnya.

Dua tahun berlalu, Kevin pindah kerja ke Jakarta, kebetulan aku juga sudah bekerja di Jakarta. Kami berada pada satu kota kembali. Gonjang-ganjing LDR, meskipun hanya sebentar tetap terasa. Kami sering bercerita mengenai kedua orang tua kami, tetapi tidak detail.

Setelah satu tahun berpacaran di kota yang sama, Kevin mulai mengajakku berbicara serius mengenai jenjang selanjutnya, yaitu tunangan, disusul dengan pernikahan. Aku sempat deg-degan karena jujur, aku sangat takut orang tua Kevin tidak mau menerimaku apa adanya. Aku juga tidak pernah tahu, apakah Kevin sudah bercerita kepada orang tuanya mengenai kondisiku atau belum. Aku tidak pernah berani menanyakan hal itu. Setiap kali Kevin mengajakku berbicara mengenai tunangan dan menikah, sebisa mungkin kualihkan ke pembicaraan lain, tetapi jangan sampai kelihatan kalau kualihkan.

Sampai pada suatu hari, aku hendak membeli bunga untuk ibuku yang besok akan berulang tahun ke-53 tahun. Samar-samar kulihat ada orang seperti Kevin, eh benar dia! Di belakangnya diikuti wanita paruh baya yang cantik sekali, seperti ibunya Kevin. Tak berapa lama, Kevin melihat ke arahku. Dia memanggilku. Aku pun langsung membalas sapaannya, “Hai Kevin," jawabku.

Kevin lalu mengenalkan siapa orang yang ada di belakangnya, benar saja itu ibunya. Ibunya tersenyum menyapaku, tak berapa lama ia berbicara kepadaku, namun ada yang tidak biasa dari ibunya. Rupanya ia berbicara sama sepertiku! Kusapa ibu Kevin dengan senyumku yang sumringah.

Kevin dan ibunya berada di toko bunga hendak membelikan bunga untuk kerabatnya yang sedang dirawat di rumah sakit. Selesai membeli bunga, kami pun berbincang-bincang di kafe samping toko bunga. Ketakutan berlebihanku selama ini tidak menghasilkan apapun. Ibu Kevin sangatlah ramah, ia tidak memandang sebelah mata orang yang memiliki kekurangan. Dari situlah, Kevin menceritakan bahwa kondisi ibunya sama seperti kondisiku, oleh karena itu, Kevin bisa jatuh cinta denganku.

Kevin selama ini tidak pernah menceritakan padaku karena ia orang yang sedikit tertutup dalam hal bercerita mengenai keluarganya. Bukan karena malu, tetapi karena ia memang tidak ingin menceritakan. Aku pun juga terbuka mengenai kondisiku dan ibuku, serta ketiga saudara perempuanku yang lainnya, bahwa kami memiliki kekurangan dalam hal mendengar dan berbicara. Kami lalu bercerita mengenai hubungan kami juga rencana kami ke depan. Dari peristiwa ini, aku mendapat pelajaran, yaitu janganlah kita memiliki ketakutan berlebihan sebelum menjalani sesuatu terlebih dahulu.

Aku dan Kevin bertunangan 1,5 tahun setelah kami berada dalam satu kota yang sama, enam bulan setelah bertunangan, Kevin meminangku. Sempat berdebat pula mengenai tanggal pernikahan, dikarenakan saudara-saudaraku tinggal di luar kota Jakarta. Namun, musyawarah yang baik menyelesaikan segalanya.

Permasalahan, baik yang dialami diri sendiri maupun permasalahan bersama pasti akan selalu ada menjelang pernikahan. Kevin dan aku pada akhirnya menikah pada tanggal 9 Mei 2019 di daerah Jakarta. Kami berdua sangat bahagia dan tidak menyangka bahwa hubungan kami akan sampai pada pelaminan. Saat ini, kami tinggal di Jakarta Pusat dan aku sedang mengandung anak pertama kami.

 

Memutuskan Menikah

kehilangan buah hati saat menikah
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Kevin lalu mengenalkan siapa orang yang ada di belakangnya, benar saja itu ibunya. Ibunya tersenyum menyapaku, tak berapa lama ia berbicara kepadaku, namun ada yang tidak biasa dari ibunya. Rupanya ia berbicara sama sepertiku! Kusapa ibu Kevin dengan senyumku yang sumringah.

Kevin dan ibunya berada di toko bunga hendak membelikan bunga untuk kerabatnya yang sedang dirawat di rumah sakit. Selesai membeli bunga, kami pun berbincang-bincang di kafe samping toko bunga. Ketakutan berlebihanku selama ini tidak menghasilkan apapun. Ibu Kevin sangatlah ramah, ia tidak memandang sebelah mata orang yang memiliki kekurangan. Dari situlah, Kevin menceritakan bahwa kondisi ibunya sama seperti kondisiku, oleh karena itu, Kevin bisa jatuh cinta denganku.

Kevin selama ini tidak pernah menceritakan padaku karena ia orang yang sedikit tertutup dalam hal bercerita mengenai keluarganya. Bukan karena malu, tetapi karena ia memang tidak ingin menceritakan. Aku pun juga terbuka mengenai kondisiku dan ibuku, serta ketiga saudara perempuanku yang lainnya, bahwa kami memiliki kekurangan dalam hal mendengar dan berbicara. Kami lalu bercerita mengenai hubungan kami juga rencana kami ke depan. Dari peristiwa ini, aku mendapat pelajaran, yaitu janganlah kita memiliki ketakutan berlebihan sebelum menjalani sesuatu terlebih dahulu.

Aku dan Kevin bertunangan 1,5 tahun setelah kami berada dalam satu kota yang sama, enam bulan setelah bertunangan, Kevin meminangku. Sempat berdebat pula mengenai tanggal pernikahan, dikarenakan saudara-saudaraku tinggal di luar kota Jakarta. Namun, musyawarah yang baik menyelesaikan segalanya.

Permasalahan, baik yang dialami diri sendiri maupun permasalahan bersama pasti akan selalu ada menjelang pernikahan. Kevin dan aku pada akhirnya menikah pada tanggal 9 Mei 2019 di daerah Jakarta. Kami berdua sangat bahagia dan tidak menyangka bahwa hubungan kami akan sampai pada pelaminan. Saat ini, kami tinggal di Jakarta Pusat dan aku sedang mengandung anak pertama kami.

 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓