Pernikahan Tiga Minggu

Endah Wijayanti31 Jul 2019, 07:13 WIB
menikah persiapan tiga minggu

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Novianti Islahiah - Palembang

Pernahkah kalian membayangkan akan dilamar orang secara mendadak? Padahal sebelumnya tidak ada hubungan sama sekali sama orang itu. Hanya sekadar teman saat di kelas perkuliahan. Bagaimana rasanya? Kaget? Senang? Bagi saya saat itu menjadi sebuah masalah terberat.

Di satu sisi saya bahagia. Menikah tanpa jalan pacaran adalah impian saya sejak dulu, apalagi laki-laki yang melamar ini adalah seseorang yang sudah saya kagumi sejak pertama masuk kuliah. Namun di sisi lain, saya berpikir keras. Mana mungkin saya bisa menikah, sementara kakak saya yang terpaut 2 tahun di atas saya pun belum menikah. Ini adalah dilema besar. Haruskah saya melepasnya? Ataukah saya tetap harus nekat melangkah?

Hari itu ibu berbicara di telepon dengan tegasnya. Tidak boleh diterima dan tidak boleh ada pernikahan. Tetap harus kakak terlebih dahulu yang ke pelaminan. Saat saya tanya, "Kapan?" Ibu pun hanya terdiam. Karena bagaimanapun belum ada calon untuk kakak. Saat dulu banyak yang melamarnya, saat itu juga mereka akan ditolak mentah-mentah olehnya. Usia ibu semakin menua, dan berharap hadirnya seorang cucu. Memikirkan banyak hal tersebut membuat saya menangis sejadi-jadinya. Haruskah saya mengalah dan pasrah?

Namun ternyata garis jodoh dari Allah itu sangat kuat. Melewati banyak pertentangan, akhirnya ibu luluh dan menerima pinangan sang lelaki tadi untuk saya. Pribadinya yang sederhana dan soleh menjadi daya tarik tersendiri. Apakah masalah saya selesai di sini? Ternyata tidak.

 

Pernikahan Tetap Berlangsung

menikah banyak bersyukur
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Kakak yang bertugas di seberang pulau saat itu menangis dan marah di telepon. Dia menganggap saya mengkhianatinya, seolah memakan jantungnya. Saya pun menangis. Haruskah saya mengalah dan pasrah kembali? Namun diri ini merasa dosa ketika menolak pinangan lelaki soleh yang datang. Akhirnya restu dari kakak turun, meskipun dengan ancaman dia tidak akan berbicara dengan saya dalam kurun waktu tertentu. Ibu pun menyemangati. Masih ada dia yang akan turut menjaga, dan berusaha menyiapkan pernikahan terbaik saya.

Waktu pinangan ke pernikahan hanya sekitar tiga minggu. Calon suami saya adalah lelaki jauh dari seberang pulau. Persiapan cetak undangan dalam waktu dekat, tidak ada yang mau terima. Ikhtiar pun dijalankan. Alhamdulillah ada teman yang bisa membantu. Sementara itu, saya harus mengikuti persiapan keberangkatan salah satu beasiswa S2. Ya, saya mendapatkan beasiswa lanjutan tepat sebelum saya dilamar.

Di acara persiapan keberangkatan, ada sebuah kejadian yang tidak akan terlupakan. Kami mengikuti arum jeram, dan kelompok saya hampir tenggelam dikarenakan perahu yang tiba-tiba terbalik. Saat itu saya pasrah. Mungkin Allah tidak meridai pernikahan ini. Jika saya harus meninggal saat itu juga, saya sangat pasrah. Tapi lagi-lagi Allah memperlihatkan kebesarannya. Saya selamat, dan akhirnya di tanggal 28 Maret saya tetap melangsungkan pernikahan meskipun saat itu kakak saya tidak datang menghadiri.

Dan alhamdulillah pernikahan saya sudah hampir lima tahun, dan sekarang kami sedang menanti kelahiran buah hati kedua. Kakak saya pun sekarang sudah kembali seperti biasa, bahkan dia menyayangi keponakannya. Saya hanya bisa berdoa, semoga kakak segera dipertemukan dengan jodoh tepatnya.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓