Gegabah Memilih Wedding Organizer, Acara Pernikahan Kacau-balau

Endah Wijayanti31 Jul 2019, 10:12 WIB
salah memilih WO

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: T - Denpasar

Pernikahan ibarat titik akhir dua insan yang dimabuk cinta. Ada begitu banyak harapan dan doa dalam pernikahan. Tak lepas dari kesiapan materi dan mental yang harus dihadapi setiap pasangan. Persiapan dimulai dari hal yang penting, sakral, dan pelengkap juga harus dipikirkan dengan matang, seperti:

  • Menentukan tanggal.
  • Menentukan lokasi.
  • Persiapan pra nikah di KUA.
  • Persiapan pranikah di keluarga.
  • Undangan, souvenir, makeup, dan dress code.
  • Katering.
  • Acara.

Setelah berpacaran kurang lebih 4 tahun, akhirnya tibalah jenjang selanjutnya yang ditunggu. Apalagi kalau bukan pernikahan. Mendengar kata "pernikahan" tentu saja bayanganku adalah menjadi artis sehari. Banyak hal yang harus dipersiapkan, namun jaman sekarang adanya wedding organizer sudah cukup memangkas pikiran tentang persiapan pernikahan.

Awalnya aku pikir menentukan tanggal dapat dilakukan secara asal-asalan. Inginnya menikah di tanggal cantik, tapi tradisi soal itu tidak dapat diubah. Aku harus menanyakan kepada 'orang pintar' terlebih dahulu mengenai itu. Setelah menemukan tanggal yang pas berdasarkan perhitungan namaku dan calon suami, ternyata dari pihak calon suami pun menghadirkan 'orang pintar'. Kedua 'orang pintar' ternyata memiliki perbedaan pandangan mengenai tanggal. Baiklah, akhirnya kami putuskan mengambil tanggal yang tidak paling baik, alias biasa saja asalkan pernikahan dapat dilangsungkan saat weekend. Hal ini untuk mempermudah para tamu dari luar kota untuk menghadiri acara kami.

Tanggal sudah oke, berikutnya adalah tempat. Sebelum itu aku memutuskan mencari wedding organizer. Temanku menawarkan jasanya. Aku dan dia bukan teman baik, tapi aku paham dia anak yang baik. Aku langsung mengiyakan tanpa berpikir mengenai kemampuan dan keprofesionalannya. Pertimbangan saat itu adalah karena dengan teman tentunya harga pun menjadi 'harga teman'.

 

 

Menggunakan Jasa Wedding Organizer

menikah dan berkorban
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Di samping itu juga aku dapat dengan leluasa memberikan detail pernikahan yang kuinginkan. Pacar temanku yang berkecimpung di bidang ini pun meyakinkan dengan obrolannya tentang keahliannya mengatur beberapa pernikahan selama ini. Fix mereka yang akan mengurus dekorasi, undangan, pembawa acara, dokumentasi, dan penyanyi di acara pernikahanku. Sisanya aku memilih untuk menanganinya sendiri.

Dimulai dari baju pengantin. Saat itu rekan calon suamiku yang seorang desainer menawarkan membuatkan baju pengantin sebagai hadiah pernikahan. Sontak aku gembira. Ia pula yang akan menggambarkan desain yang cocok untukku dan pasanganku. Mendesain, mengukur, membuat pola, hingga memilih bahan pun dilakukan. Semua berjalan mulus walaupun aku kurang menyukai desainnya. Tapi bagi dia, aku sangat cocok menggunakan gaun yang akan dibuatnya karena sesuai dengan bentuk tubuhku. Gaun ini akan aku gunakan saat resepsi. Untuk akad nikah, aku akan menyewanya saja di salon.

Masalah rias dan baju akad sudah oke. Setelah berkeliling dengan mama tercinta, akhirnya kami mendapatkan lokasi sewa baju dan rias yang terjangkau dan profesional. Kenapa berkeliling dengan mama? Tentu saja karena calon suamiku di luar daerah. Kami menjalani LDR dan ini sungguh-sungguh bukan hal yang mudah. Aku harus menanyakan ukuran baju saudara-saudaranya agar bisa seragam saat resepsi. Untungnya untuk akad nikah kami memutuskan dress code berdasarkan warna saja dan rias masing-masing. Jadi yang perlu menggunakan seragam dan rias hanya saat resepsi saja.

Katering sudah kuserahkan pada mama. Souvenir aku urus sendiri sesuai budget-ku. Sekalipun orangtuaku mengatakan bahwa aku tidak becus memilih souvenir, tapi omongan itu kuabaikan. Karena aku memang tidak punya budget yang banyak dalam pernikahan ini. Setelah ini dan itu diperbincangkan, barulah kami mencari tempat. Saat itu calon pasanganku sedang libur dan bisa mengunjungiku. Sekalianlah kami berkeliling mencari tempat yang cocok. Atas saran orang tua juga, akhirnya kami memilih outdoor. Mudah-mudahan saja tidak hujan dan semua berjalan lancar. Namun memang kami harus memperhitungkan keamanan sehingga meminta bantuan beberapa orang polisi. Pastinya hal ini akan menambah budget ekstra.

Papa memikirkan akad nikah yang akan diadakan di rumah. Otomatis rumah kami harus dipoles sedemikian rupa. Perbaikan rumah yang berujung pada uring-uringannya papa membuat aku maju mundur dengan keputusan yang kuambil. Memang lagi-lagi masalah anggaran membuat semua rumit. Papa seolah menyudutkan aku yang masih banyak meminta bantuan orang tua dalam mempersiapkan pernikahan termasuk soal materi.

Semua berjalan baik-baik saja. Penghulu dapat kami undang ke rumah saat akad nanti. Gaun pengantin sudah jadi. Persiapan demi persiapan berhasil dilalui sekalipun dengan banyak emosi. Pasanganku menyarankan adanya mobil pengantin. Ia meminta mobil kuno. Akhirnya aku bicara pada temanku dan pasangannya yang merupakan WO ku untuk mencarikannya. Ia sudah mengiyakan berikut dengan bunganya. Semua beres. Tak terasa besok adalah hari pengajian dan siraman. Harapanku semoga berjalan lancar. Kamar pengantin sudah beres didekor. Kami rasa semua sudah sangat beres.

Mulai Was-Was

menikah masa depan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Tradisi demi tradisi pra nikah berlangsung lancar. Hari mulai malam namun temanku dan pasangannya yang bersedia mendekor rumahku tak kunjung datang. Dihubungi pun tak bisa. Tak hanya itu, tukang rias mendadak menghubungi bahwa ia akan mencarikan pengganti dikarenakan ibunya baru saja meninggal. Aku sontak panik. Namun segenap keluarga berupaya mendekorasi rumah sebisanya.

Masalah tukang rias juga aku percaya saja bahwa ia akan mencarikan pengganti yang sepadan. Hingga malam tiba aku hanya tau jika WO ku membawakan beberapa pita dan bunga untuk menghias rumah. Namun itu benar-benar seni lipat kacangan yang dikerjakan sendiri tanpa bantuan. Aku yakin mereka tidak punya tim. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selain percaya bahwa hari esok kerja mereka akan baik-baik saja.

Paginya tim rias sudah tiba. Pasanganku dan keluarganya sudah mendapatkan tim tukang rias yang datang ke hotel mereka. Aku sangat lega dengan pekerjaan tukang rias. Tiba-tiba papa masuk ke kamar dan marah-marah. Papa melihat mobil kuno yang dipesan sangatlah tidak layak jalan. Diputuskan untuk mengganti mobil lainnya. Lagipula mobil akan digunakan nanti malam di acara resepsi. Jadi masih ada waktu untuk mengganti.

Melihat papa yang sangat marah dan mama yang tak hentinya “was-was” mengenai segala acara, aku merasa ragu. Apa keputusanku ini terlalu egois? Aku nyatanya tidak bisa mengurus keinginanku sendiri. Aku juga bercerita pada sahabat kecilku yang turut menemani aku hari itu. Rasanya aku ingin kabur dari situasi ini. Aku sadar hari ini bahwa aku belum siap. Meihat dekorasi akad nikah yang seadanya saja sudah mencerminkan aku terlalu “gegabah” untuk memercayai orang dalam mengurusnya. Aku sungguh sangat gegabah.

Lamunanku pecah saat ternyata prosesi akad telah selesai dan aku sudah diperbolehkan turun untuk melihat suamiku. Aku belum percaya kalau akhirnya dapat memanggil pacarku dengan sebutan “suami”. Sungkeman dengan mama dan papa pun terasa berat. Aku menyesal membuat mereka menangis dan merasa kehilangan aku begitu cepat. Belum banyak hal yang bisa aku berikan pada mereka namun keegoisanku untuk cepat menikah membuat perasaan bersalahku semakin memuncak. Aku pikir selama ini mereka orang tua yang gila kerja. Tapi dari cara mereka memelukku dan menciumku aku sadar betul bahwa mereka menyayangiku.

Selesai prosesi foto-foto dan memotong tumpeng, akhirnya acara santai tiba. Berhubung kami tidak mengadakan foto pre-wedding, maka WO-ku menyarankan agar mencetak foto akad nikah ini saja dan dipajang di lokasi resepsi. Baiklah, sekali ini kupercayakan lagi walaupun aku tahu dari sisi foto saja mereka seperti tidak profesional. Papa menyuruh rekannya untuk meninjau lokasi resepsi. Kira-kira sudah sejauh mana dekorasi berlangsung. Aku sibuk ganti baju dan berdandan ulang untuk resepsi. Hingga pukul 19.00 WITA tiba, saatnya kami berangkat.

Tetap Disyukuri meskipun Mengecewakan

menikah tak seindah disney princess
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Sesampainya di lokasi, gelap. Penjaga area dan beberapa polisi sudah siap, namun tamu undangan bingung apakah benar ini lokasi resepsinya. Lampu tidak terpasang dengan baik. Tak ada dekorasi bunga-bunga apalagi foto akad nikah kami yang katanya akan dipajang di pintu masuk. Karpet merah yang kupesan untuk melengkapi dekorasi hanya berukuran satu meter dari pintu masuk khusus.

Satu hal yang jelas adalah penerangan yang kurang. Ketika jam telah menunjuk pukul 19.30 WITA, ini artinya seharusnya musik telah dimainkan dan aku berjalan menuju panggung utama. Kedua penanggung jawab WO ku tidak ada di sana. Penyanyi pun tak ada. Hanya ada MC saja. Akhirnya diputuskan memutar musik apa saja asal aku dan keluarga bisa segera duduk di pelaminan. Setelah memutar musik yang benar-benar tidak cocok untuk iringan pengantin (musik beat cepat).

Kami pun bingung apa yang harus dilakukan di pelaminan. Akhirnya aku memutuskan menyuruh MC memulai acara tanpa aba-aba dari WO karena kuhubungi pun mereka tidak ada yang menjawab. Kulihat mama sudah mulai menyumpah serapah dari mulutnya. Terlihat jelas mama sangat kecewa dengan pernikahan ini. Untungnya katering tidak kami serahkan pada WO.

Mama juga bertanya pada bagian dekorasi yang masih berada disana mengenai konsep dekorasinya. Benar saja katanya memang mereka hanya disuruh mengantar meja untuk buku tamu saja dan lampu seadanya. Padahal kami sudah membayar uang sewa jenset untuk tambahan listrik. Nyatanya taman outdoor ini tetap gelap. Untungnya di belakang taman terdapat monumen yang tinggi dan itu cukup lumayan untuk menjadi latar foto pernikahan kami.

Pukul 20.30 WITA akhirnya WO yang menyebalkan itu menampakkan diri. Entah apa saja yang mereka lakukan tapi bagiku ini sudah fatal apapun alasannya. Saat itu penyanyi baru datang dan mengiringi para tamu yang menikmati makanan. Mereka juga mengaku tidak mendapatkan jasa cetak foto yang sanggup mencetak foto akad kami dengan instan. Sungguh alasan tak masuk akal di zaman yang serba canggih ini.

Acara selesai dengan pelemparan bunga. Sudah cukup bagiku yang terlalu dangkal berpikir bahwa pernikahan hampir sama dengan pesta ulang tahun. Nyatanya di pernikahan tamu yang hadir pun bukan hanya teman-temanku. Rekan-rekan orang tua dan keluarga besarku turut hadir. Itulah yang dikecewakan orang tuaku. Aku paham bagaimana malunya mereka.

Dari sinilah aku paham bagaimana seharusnya bersikap ‘sebagai anak’. Bukan lantas menjadi yang paling sok tahu dan gegabah atau memandang semua dari sisi emosi belaka. Seharusnya biarlah pacaran lama-lama asal tidak melampaui batas karena memang menikah tidak cukup hanya dengan kata “sah” di zaman ini.

Menikah melibatkan banyak emosi, banyak hati, dan banyak pikiran yang harus disejajarkan dan diambil jalan terbaik serta waktu terbaiknya. Saat itu aku berpikir menyesal tapi kubesarkan hatiku. Banyak pasangan lain yang ceritanya lebih tragis dariku bahkan hingga batal nikah di hari H. Untungnya pernikahanku masih bisa diselamatkan walaupun segalanya morat-marit mengecewakan.

 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓