Menikah tanpa Lamaran dan Seserahan

Endah Wijayanti31 Jul 2019, 10:55 WIB
rezeki jodoh

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Izmia - Bogor

Hidup sendirian sejak SMA membuatku menjadi wanita yang mandiri dan berperangai keras. Ibuku meninggal saat aku kelas 3 SMP, sementara ayahku menyusul satu tahun kemudian. Mengakibatkan aku menjadi anak yang berpindah-pindah tempat, dari keluarga satu ke keluarga yang lain, hingga akhirnya aku bosan dan keluar dari zona aman lalu memutuskan untuk hidup mandiri. Ya, aku sudah kos sendiri semenjak usia 16 tahun.

Sampai akhirnya aku tamat sekolah lalu berhasil diterima menjadi staf di salah satu perusahaan yang lumayan terkenal di sekitarnya. Aku berhasil hidup mandiri, menghasilkan uang dari jerih payahku sendiri. Hari demi hari kulalui dengan bekerja. Sesekali saja aku hangout dengan teman kantorku, selain itu, hanya kantor dan kamar kos tempatku menghabiskan waktu. Hingga suatu hari, aku merasakan ada ruang kosong di dadaku, rasa rindu memiliki keluarga, keluarga dalam arti sebenarnya yang merupakan tempat di mana setiap hari aku pulang. Di saat itu, terlintas di benakku. Inikah waktunya untuk… menikah?

Sungguh pembual kalau aku mengaku tidak memiliki pacar, aku sudah dekat dengannya selama beberapa tahun terakhir ini. Namun kami LDR, berbeda kota meski masih bisa ditempuh 2 atau 3 jam perjalanan. Sudah beberapa kali dia melamarku, tetapi selalu aku jawab dengan jawaban yang sama, belum siap. Sampai akhirnya aku telepon dia, lalu berkata, “Aku siap sekarang, Sayang."

Ternyata tidak semudah itu melaksanakan pernikahan. Sesuai adat di daerah kami, menuju ke pernikahan itu melalui tiga tahap: lamaran, seserahan, dan pernikahan. Masalah pertama, dari keluargaku tidak ada yang bisa ditumpangi untuk menikah, dengan alasan yang beragam dan memang tidak ada jalan lain selain melakukan pernikahan langsung di kediaman mempelai pria. Masalah kedua, bagaimana adat lamaran dan seserahan? Yang dimana saat momen seserahan si mempelai pria membawa uang mahar dan perabotan rumah tangga lainnya. Bisa saja melaksanakannya di rumah kakak pertamaku, jadi mempelai pria membawa barang dan uang seserahan ke rumah kakakku, lalu esoknya uang dikembalikan ke si mempelai pria (karena acara pernikahan di rumah si pria). Kok lucu jadi bolak-balik.

 

Bahagia dengan Pernikahan yang Ada

pernikahan
ilustrasi/Photo by wendel moretti from Pexels

Keputusan akhirnya adalah kami langsung ‘loncat’ ke step terakhir, pernikahan. Saat itu kami langsung mendatangi WO terdekat, membicarakan keuangan dan budget pernikahan, fitting baju pengantin lalu mencetak undangan tidak lupa melengkapi surat-surat untuk pendaftaran menikah di KUA.

Sementara persiapan pernikahan sudah 90%, masalah berikutnya adalah surat pengunduran diriku yang belum juga di-acc, sementara tanggal pernikahan sudah kurang dari sebulan lagi. Aku tidak bisa melanjutkan pekerjaanku karena jarak yang lumayan jauh. Aku mulai kelelahan karena tiap akhir minggu selalu bolak-balik rumah calon suamiku untuk melengkapi hal yang kurasa ada saja yang kurang. Hingga akhirnya Manager HRD menyetujui surat pengunduran diriku tepat seminggu sebelum hari H, aku sangat bersyukur dan sangat merasa lega.

Aku tinggal di rumah kakakku, sampai malam sebelum pernikahan tiba calon suamiku menjemputku. Ya… Aku menginap di rumahnya karena pagi-pagi sekali aku sudah harus dirias. Layaknya rumah yang akan mengadakan acara besar, pasti ramai dikunjungi tetangga dan kerabat. Slentingan aku mendengar percakapan yang sedikit mengusik pikiranku. Mereka yang mengasihaniku karena aku yang menikah sendirian, tanpa lamaran dan seserahan selayaknya wanita pada umumnya di sana. Sebenarnya saat itu aku merasa down, tapi melihat calon suamiku yang begitu bersemangat maka aku pun kembali berbahagia dan melupakan selentingan-selentingan itu.

Aku menatap satu per satu orang-orang yang ada di hadapanku. Di sana ramai dan lengkap sekali, hampir seluruh keluargaku datang. Di sana ada kakak-kakakku, om, tante, bahkan sampai kakek dan nenek yang sudah sepuh pun ikut hadir menyaksikan pernikahanku. Seketika aku ingin sekali berjumpa dengan orang yang membicarakanku semalam, bahwa mereka salah. Aku tidak sendirian, meski aku memang tidak dilamar dan diserah, aku tidak sendirian. Di sini semua orang-orang yang kusayangi menemaniku, termasuk keluarga suamiku yang kini juga sudah menjadi keluargaku. Jadi jelas aku tidak sendirian, dan aku sangat berbahagia.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓