Ketulusan Cinta Mengalahkan Kerasnya Penolakan di Dalam Dada

Endah Wijayanti31 Jul 2019, 13:45 WIB
gagal menikah

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Nurmasyithah - Lhokseumawe

Pertunangan adalah hal sakral yang tak begitu aku suka. Banyak tanggal-tanggal ribet dan tradisi yang menjauhkanku dari rasa nyaman. Belum lagi pria yang datang bukanlah yang aku harapkan. Namun demi menjaga nama baik keluarga, maka pertunangan itu tak dapat dibatalkan.

Jauh hari aku tahu bahwa pria itu datang membawa tekad untuk mempersuntingku. Namun tak ada yang percaya bahwa seluruh keluarganya tak menyukaiku. Entah bagaimana, ia berhasil meyakinkan ibu bahwa ia pantas untuk jadi menantu, bahwa cintanya yang begitu besar itu, yang luruh di hadapan ibuku, adalah cinta sejati yang terlalu perih jika tak direstui.

Maka waktu berlalu dan pertunangan itu menjelma sebuah tanggal pasti. Mungkin keluarganya dulu mengira bahwa kedatangan mereka akan ditolak mentah, dan mereka hanya mengulur waktu demi membujuk si pemuda agar ragu.

“Ia tak suka padamu,” sering kakaknya bilang begitu.

Namun takdir memang lucu. Segala tingkah laku buruk yang kuperlihatkan padanya seperti melempar cincin pertunangan di mukanya, membuat ia murung dengan mendekati teman-teman pria. Dan yang paling keterlaluan, menyimpan nama lelaki lain di hati. Aneh, seluruh hal konyol itu tak kian melebur tekadnya. Ia tetap teguh, mengalahkan karang yang terus didebur ombak.

 

Dia Memiliki Cinta yang Tulus

menikah masa depan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Memang benar kata pepatah, kelak usaha dan doa akan berubah menjadi sebuah berkah. Upaya terakhir yang kulakukan adalah membuka kesadaran bahwa keluarganya tak suka padaku. Pagi pernikahan itu kami masih ribut besar. Sebelum berkumpul di masjid, aku mendebatnya seperti biasa dan bertahan dengan keegoisan bahwa kami tak mungkin bersama. Ia diam, tak menggubris. Lalu pada akhirnya meminta aku untuk percaya.

“Aku telah melangkah sejauh ini, maka aku tak akan berhenti. Kita berjodoh, aku bisa merasakan itu,” katanya, lalu telepon itu ditutup. Aku tak lagi punya pilihan, hanya pasrah.

Selepas akad diucapkan, luruhlah segala keangkuhan.

Ia suamiku sekarang. Air mata penyesalan mengalir saat aku mengecup tangan yang akan membimbingku itu. Mengapa dulu aku begitu buruk padanya sementara ia mencintaiku dengan ketulusan yang tak mengada-ada?

Tapi kini semua berbeda. Sang waktu akan mengobati luka. Sementara penyesalan berkepanjangan yang tak akan terulang meski terus membayang, akan kujadikan alasan untuk pengabdian dalam wujud ketulusan.

Sekarang, sosok baru telah hadir mewarnai hidup. Sosok yang hampir menyerupainya, seorang anak lelaki lucu yang memanggilku, “Ibu."

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓