Di Mana Ada Perjuangan, di Situ Ada Kebahagiaan

Endah Wijayanti31 Jul 2019, 15:15 WIB
memaafkan kekasih selingkuh

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Intan Puspita Dee - Jakarta Timur

Sehari Sebelum Menikah Calon Suami Masih Menjalani Pendidikan, Tak Sempat Merawat Diri, Menikah dengan Keadaan Kulit Gosong dan Mengelupas

Pernikahan adalah impian bagi setiap pasangan yang saling jatuh cinta. Salah satu proses terpenting dalam kehidupan manusia selain kelahiran dan kematian. Baik laki-laki maupun perempuan tentunya menginginkan pernikahan sekali seumur hidup. Itulah mengapa persiapan harus matang dan istimewa.

Perempuan memiliki cara pandang sendiri dalam mengemas pernikahan impian. Dongeng-dongeng cantik mengisi kepala. Meskipun 'pangeran berkuda putih' memiliki tolak ukur masing-masing. Namun dalam menilai arti sebuah pernikahan tentunya sama saja.

Perubahan besar-besaran bermula dari sini. Menyiapkan mental untuk berpisah setelah selama ini bersama orangtua serta keluarga, menyandang status yang berbeda dari single menjadi istri dan kelak menjadi seorang ibu, kehormatan yang harus dijaga bukan hanya keluarga sendiri namun keluarga suami juga. Lalu sederet hal baru yang semasa gadis belum terpikirkan.

Saking begitu banyaknya sesuatu yang lain dari sebelumnya, rasanya tak ingin meninggalkan masa-masa lajang begitu saja tanpa kesan. Pernikahan sakral yang indah haruslah terkenang selamanya. Warisan bagi anak cucu kelak. Dan bukan tak mungkin sebagai pertimbangan saat masa-masa sulit menghampiri selama menjalani rumah tangga. Sebagai kekuatan untuk tetap mempertahankan biduk perkawinan.

Mengapa? Sebab setiap pasangan pasti memiliki ceritanya sendiri-sendiri. Perjuangan dan pengorbanan yang patut dihargai. Bukan rahasia lagi, menjelang pernikahan biasanya kerap datang masalah. Ada-ada saja cobaan dan godaannya. Memang untuk mewujudkan pernikahan impian tak semudah membalikkan telapak tangan. Saya sendiri mengalaminya. Meskipun pada akhirnya bisul itu meletus juga, memberikan kelegaan yang patut disyukuri setiap kali mengingatnya. 

 

Ujian Jelang Pernikahan

gagal menikah
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Kami mengalami cinta lokasi. Saya dan calon suami, sebut saja Mas Deni, bekerja di sebuah perusahaan yang sama. Pada saat itu timbul desas-desus akan diterapkan peraturan baru tidak bolehnya suami istri menjadi karyawan dalam satu atap perusahaan. Meskipun belum tahu kepastiannya, namun cukup menyita perhatian. Topik itu acapkali kami perbincangkan bersama.

Seiring berjalannya waktu, tetangga saya menawarkan sebuah info pekerjaan. Tadinya sempat ragu. Soalnya kabar itu justru menghampiri ketika beberapa bulan saja menjelang pernikahan kami. Tapi kalau bukan sekarang, Mas Deni takut kehilangan kesempatan. Pertimbangan lainnya dari segi kesejahteraan dan jenjang karier dirasa jauh lebih baik ketimbang profesi yang dijalani saat ini. Akhirnya setelah memperbanyak doa dan saling tukar pikiran dengan keluarga, calon suami mantap menentukan pilihan. Siap menyongsong pekerjaan baru.

Persiapan dimulai. PR bertambah. Bukan hanya mempersiapkan tetek bengek pernikahan, namun juga memenuhi persyaratan lamaran pekerjaan. Saya sendiri masih menjalani pekerjaan saya yang terbagi menjadi dua shift. Jadi bisa dibayangkan kami masih bergelut dengan aktivitas masing-masing yang di sela-sela waktunya tak selalu seirama namundigunakan untuk membeli souvenir juga seserahan, mencatat nama-nama yang akan diundang, mengatur pertemuan keluarga, membeli mas kawin, dan tentunya lebih banyak dari yang bisa disebutkan.

Jangan tanya lagi pusingnya kami saat itu. Hal sepele saja bisa menjadi bahan bakar pertengkaran. Terlebih Mas Deni sempat salah mencantumkan nama lengkap saya di surat izin numpang nikah yang diurusnya. Padahal saya sudah mengingatkannya berkali-kali. Nama pemberian Eyang Kakung saya sederhana, tak ada yang ribet dalam penulisan maupun penyebutan. Tidak juga kebule-bulean.

Intan Puspita Dewi, begitulah tercantum elegan di akte kelahiran saya. Tapi entah bagaimana selalu saja bermasalah sejak dulu. Sewaktu ujian sekolah hampir selalu salah tulis, bukannya Dewi tapi malah Sari. Di lingkungan pekerjaan pun supervisor saya seringkali melakukan kesalahan serupa saat absensi. Pernah suatu kali atasan saya itu nyeletuk, "Habis kebanyakan Intan Puspita Sari, jadi setiap nulis kebablasan, gitu!"

Ternyata oh ternyata, terulang lagi kesalahan menyebalkan itu. Wajar saja kalau saya meradang. Bisa-bisa saya tidak jadi nikah, kan. Untunglah Mas Deni segera tanggap mengatasi. Satu-satu selesai.

Namun sebulan menjelang pernikahan, Mas Deni malah mendapatkan panggilan pekerjaan yang sebelumnya kami harapkan akan aman jika panggilan itu datang setelah acara bersejarah dalam hidup kami berdua. Tetangga saya meyakinkan tidak akan mengganggu jadwal pernikahan. Atas pertimbangan tersebut calon suami memutuskan tak ingin membuang kesempatan. Sudah telanjur katanya.

Melewati Hari Berat

kesetiaan sebelum menikah
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Mas Deni diharuskan menjalani serangkaian tes. Wawancara berlanjut medical check up yang tidak hanya sekali saja. Bolak-balik memenuhi persyaratan dan masih menjalani tugas di tempat lama. Ditambah menambal kekurangan-kekurangan persiapan pernikahan. Pertengkaran tak bisa dihindari. Kadang-kadang jadi melantur menyenggol masa lalu, nama mantan masing-masing disebut-sebut. Sebagai perempuan saya lebih sensitif. Marah berlebihan.

Puncaknya seminggu menjelang hari H, Mas Deni dipingit. Harus menginap di mes dan menjalani pendidikan semi militer. Digojlok habis-habisan! Ketahanan fisik diuji. Dijemur dengan posisi bertelanjang dada di atas aspal, baris-berbaris dengan tingkat kedisiplinan tinggi, nyebur-nyebur kali bermandikan lumpur, jam makan dan tidur yang dibatasi, huft. Dalam masa-masa itu saya seringkali menangis sendiri, takut terjadi apa-apa.

Bagaimana jika ia pingsan seperti salah satu temannya yang akhirnya gugur di tengah jalan? Bisa-bisa gagal mengantongi tiket kelulusan akhir. Pekerjaan baru yang tadinya sangat diharapkan bisa melayang sekejap mata. Dan dikarenakan sudah resign semenjak mendapatkan kabar resmi menjalani pendidikan, maka bayangan terburuk akan menganggur setelah menikah begitu mengganggu.

Tidak sampai di situ saja kekhawatiran terburuk saya, kalau ia K.O. bagaimana? Bukan sakit biasa melainkan parah. Butuh perawatan di rumah sakit misalnya. Bayangan yang lebih menyeramkan adalah… pernikahan ditunda! Astagfirullah, bibir tak henti mengulang istighfar.

Kasihan Mas Deni, boro-boro memikirkan perawatan atau olahraga rutin demi menjaga badan tetap bugar saat hari pernikahan, lha wong Sabtu siang selesai pendidikan malamnya langsung diadakan pengajian di rumahnya. Kemudian keesokan harinya bersiap sedari subuh untuk mendatangi kediaman calon mempelai wanita.

Asalkan Mas Deni pulang dari mes dalam keadaan sehat dan selamat, sepertinya soal-soal lain tak perlu dipusingkan. Entah itu kulit gosong, hitam legam, dan terkelupas--baik saya dan Mas Deni sudah masa bodoh. Yang terpenting acara lancar!

Memperjuangkan Pernikahan Impian

adat menikah pasangan jurep
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Bersyukur kami bisa melaluinya. Sampai juga Mas Deni mencapai garis finish kelulusan sebagai tanda sudah syah diterima. Meskipun sebelum keberangkatan sempat buang-buang air namun segera bisa diatasi dan secara keseluruhan kondisi kesehatannya baik. Sedangkan saya saking stresnya malah muncul jerawat batu dekat hidung. Untunglah perias pengantinnya jago menyamarkan. Benar kata orang, mengadakan hajat besar itu seperti menunggu bisul pecah pada waktunya. Bum! Dan lega.

Singkat cerita, acara ijab kabul dan resepsi pun berjalan sempurna. Allah memang Maha Segala, pengatur yang luar biasa baik. Semua proses yang berliku dibayar dengan hadiah terindah sebulan setelah pernikahan. Testpack menunjukkan dua garis. Meskipun kami tidak seperti kebanyakan sepasang suami istri yang berbulan madu atau minimal merasakan istirahat total menikmati masa cuti pernikahan. Terlebih Mas Deni, selesai pendidikan Sabtu siang, keesokan hari menikah, Senin langsung menjalani tugas sebagai security di kantor barunya. Saya sendiri hanya bisa cuti empat hari dan Senin merupakan hari terakhir libur.

Dengan kondisi sama-sama lelah baik fisik maupun pikiran dan aktivitas yang padat merayap, rasanya bisa langsung mendapatkan momongan merupakan anugerah yang luar biasa. Ditambah lagi desas-desus tidak bolehnya pasangan suami istri bekerja di satu atap perusahaan benar adanya. Hal itu menjadi kesyukuran yang lain bahwasanya rencana Allah memang lebih indah.

Suami yang supel, pekerja keras, dan ringan tangan dalam membantu membuatnya lebih mudah beradaptasi di lingkungan baru. Dalam beberapa hal penting para atasannya memercayainya. Contohnya perwakilan dalam kejuaraan judo atau kandidat karyawan terbaik. Karier suami pun cepat meroket. Belum dua tahun bekerja sudah terpilih menjadi pengawal pribadi bos, orang nomor satu di perusahaannya. Tentu saja menjadi penambah kesyukuran ketika kami menengok ke belakang ada haru-biru yang berkecambuk di dada. Padahal banyak senior yang bilang untuk mencapai posisi itu biasanya diperlukan waktu lebih lama dari sekadar 24 bulan.

Pun kelahiran putri pertama kami, ia adalah jejak keindahan yang Allah tinggalkan sebagai penanda cinta dalam kehidupan rumah tangga kami. Menatap sepasang matanya yang bening seperti menemukan miliaran keajaiban. Begitu memesona.

Pelajaran berharga: jangan pernah ragu memperjuangkan pernikahan impianmu. Di mana ada perjuangan, di situ ada kebahagiaan.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓