Pernikahan yang Tak Sesuai Harapan Tetap Layak Dikenang

Endah Wijayanti03 Agu 2019, 09:46 WIB
menikah disaster wedding

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Shanty - Jakarta

Selayaknya para perempuan pada umumnya yang punya impian tentang hari pernikahannya, begitu juga dengan saya. Menikah di usia yang sudah tidak muda lagi, yaitu di usia 35 tahun tentu saja saya ingin mengatur segala hal urusan pernikahan saya sendiri. Dari mulai undangan, suvenir, tema acara, baju pengantin, dan lain lain.

Jodoh yang datang tiba-tiba akhirnya membuat segala sesuatunya pun serba instan. Awal pertemuan perjodohan oleh orangtua di bulan Februari, calon suami pada waktu itu baru menyapa kembali di bulan April. Di bulan Oktober, calon suami mengajak menikah tahun depan tahun 2011. Akhirnya saya punya tanggal yang saya anggap pas dan cantik, yaitu tanggal 11-11-2011.

Tapi calon suami waktu itu menolak dengan alasan kelamaan. Akhirnya kami mencari gedung terlebih dahulu, dengan asumsi tanggal pernikahan disesuaikan sedapetnya gedung kosong, secara biasanya gedung sudah fullbooked untuk setahun. Apalagi kami sepakat untuk membiayai pernikahan dari kocek sendiri tanpa merepotkan orang tua. Jadilah kita cari gedung yang sesuai kantong.

Gedung pun didapat, itu pun karena ada calon pengantin yang membatalkan pesanannya. Tapi waktunya mepet banget yaitu 30 Januari 2011. Saya ragu dan bingung juga, karena dalam keadaan tidak punya tabungan karena saya baru saja menyelesaikan kuliah S1 saya. Tanpa pikir panjang calon suami langsung membayar DP nya.

Waktu sekitar tiga bulan saya anggap cukup untuk mengatur segala sesuatunya hingga hari H. Saya sudah mulai browsing contoh model undangan yang akan saya buat, begitu juga untuk baju, dan suvenir. Saya sangat serius mempersiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan impian saya, karena waktu yang mepet saya ingin segala keputusan diambil dengan cepat. Tapi tidak dengan suami saya yang tidak quick response atas segala urusan printilan dan sangat santai menanggapi apa apa yang saya sampaikan.

Akhirnya drama disaster wedding pun terjadi. Pihak keluarga suami yang asal Solo ternyata punya tradisi hitung-hitungan hari baik untuk pernikahan anaknya. Bagai disambar gledek, tenyata calon suami saya selama ini tidak cerita ke orang tuanya kalo kami sudah DP gedung untuk tanggal 30 Januari, dia baru cerita menjelang bulan Desember. Akhirnya keluarganya hitung hitungan hari, dan mendapat hari baik yaitu tanggal 7 Januari.

Tentu saja saya bingung untuk mengambil keputusan karena saya tidak suka bila jarak akad nikah terlalu lama dengan jarak acara resepsi. Untuk membatalkan gedung rasanya juga tidak mungkin karena suami tidak suka acara resepsi di rumah, dia maunya acara nikahan di gedung.

Kami pun menempuh jalan tengah yang kami anggap baik, yaitu akad nikah tanggal 7 Januari, resepsi tanggal 8 Januari di rumah saya, dan acara ngunduh mantu di gedung tanggal 30 Januari.

Keputusan yang sangat berat, akhirnya kami mengadakan acara pernikahan impian kami dengan cara keinginan masing. Sambil menangis calon saya diantar calon suami untuk membuat undangan karena waktu ke tanggal 7 sudah tinggal 10 hari lagi. Kebayang betapa repotnya saya menyiapkan acara resepsi untuk tangal 8 di rumah.

Kebetulan dekat rumah saya ada yang menyewakan pelaminan, jadi saya tinggal pesan pelaminan, tenda, dan organ tunggal di situ. Perias pengantin juga adalah kenalan ibu saya yang sangat baik dan membantu segala keperluan saya diluar ekspektasi saya. Dengan dana minimalis saya tetap mendapatkan paket perawatan calon pengantin, dan kamar saya pun dihias layaknya kamar pengantin. Padahal saya hanya membayar untuk biaya rias pengantin, sewa pakaiaan adat jawa hitam, serta beskap untuk orang tua dan saudara laki laki. Katering pun dipesan hanya dalam hitungan hari.

 

Pernikahan Tidak Sesuai Harapan

kesetiaan sebelum menikah
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Betapa sedihnya saya, di hari pernikahan saya tidak ada teman-teman kantor satu unit saya yang datang. Pasalnya bertepatan tanggal 7 Januari saat hari akad nikah saya, teman-teman satu unit pergi gathering ke Yogyakarta selama 3 hari. Dan acara gathering ini sudah disiapkan sejak lama. Hanya bos saya yang menyempatkan untuk hadir, karena dia mengganti jadwal keberangkatannya, dan datang di acara akad nikah saya dan segera bergegas pergi. Hal yang bikin sedih lagi adalah saya melewatkan kesempatan untuk pertama kalinya bisa merasakan terbang dengan pesawat plat merah kebanggaan bangsa Indonesia. Nyesek nggak sih?

Tidak hanya sampai di situ, ketika hari H resepsi di rumah, saya pun sangat kesal, jreng jreng... ternyata baju adat Jawa suami saya kekecilan. Beberapa kali dia saya ajak mampir ke tempat perias untuk fitting baju dia tidak mau. Memang dia tidak sreg dengan baju adat Jawa warna hitam, menurutnya pesta nikahan kok pakai hitam. Dia punya wedding dream sendiri bahwa akan menikah dengan pakaian nuansa putih putih.

Tepok jidat deh, untungnya rumah perias dekat, jadilah si mbak asisten buru-buru balik ke rumah perias ngangkut semua baju adat Jawa warna hitam. Dan baru kami coba lagi satu persatu. Akhirnya suami saya mendapatkan baju ukuran yang pas dan baju saya yang kegedean. Terpaksa ngalah sambil ngedumel, karena baju yang dipilih tersebut sudah berwarna sedikit bladus dan terlihat old. Argh!

Lain lagi kisruh saat resepsi di gedung, beberpa kali saya ajak suami untuk menemui perias pengantin untuk fitting dan membicarakan soal riasan pengantin yang saya inginkan. Menurut suami, saya tidak usah pusing soal dandanan karena nanti yang akan mendandani saya adalah perias langganan ibunya. Saya percaya saja, karena saya memang tidak ikut campur sama sekali untuk acara ngunduh mantu ini. Tapi ternyata, perias langganan ibu mertua adalah khusus untuk mendandani ibu mertua. Akirnya menjelang H-1, kami baru fitting dan saya menyampaikan keinginan saya soal make up dan bunga-bunga yang ingin saya pakai termasuk ronce melati untuk sanggulan.

Tadaaaaaa... akhirnya saya mendapatkan dandanan yang tidak sesuai harapan saya saudara saudara. Ronce kembang melati panjang dengan bunga cepol putih yang saya request sudah terlihat layu begitu juga melati untuk menutup sanggulnya, entah itu barang baru atau seken, yang jelas sudah tidak fresh. Mau nagis rasanya. Dua kali acara resepsi penampilan saya kacau nggak sesuai harapan. Hiks.

 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓