Sebelum Menikah, Terkadang Ada Ujian Berat yang Harus Dilalui

Endah Wijayanti07 Agu 2019, 16:44 WIB
menikah akhir bahagia

Fimela.com, Jakarta Oleh: Nia Nio - Jakarta

Memiliki pasangan hidup menjadi hal yang tampak mungkin mustahil ketika saya menginjak usia 32 tahun. Pertanyaan "Kapan nikah?" menjadi bumbu yang selalu hadir setiap kali menghadiri acara keluarga. Pertanyaan yang dulu selalu saya hindari.

Saya gagal melanjutkan hubungan saya ke jenjang yang lebih serius setelah berpacaran kurang lebih 4 tahun. Bahkan kami sudah berencana untuk menikah dan kedua orangtua kami sudah saling diperkenalkan. Masalah di antara kami yang cukup pelik, membuat air mata saya tidak kunjung berhenti selama 4 tahun mengenal laki-laki yang saya harapkan menjadi suami saya kelak itu.

Di tahun pertama hubungan kami, ego dan sikap superior satu sama lain membuat hubungan layaknya seperti medan pertempuran dua kubu musuh. Di tahun kedua, kami sama-sama berusaha berubah untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Namun sikap superior yang ditunjukkan oleh pasangan saya saat itu masih mendominasi hubungan kami, yang akhirnya membuat saya hidup dalam depresi yang cukup berkepanjangan.

Saya berusaha mendekatkan diri dengan Sang Khalik, berdoa, bertanya dan selalu merintih untuk membuat diri saya kuat dan menjadi perempuan yang lebih baik lagi. Hingga tiba pada satu saat, ketika saya harus menerima dengan linangan air mata, kedua orangtua saya merasa hubungan kami tidak cukup sehat untuk dilanjutkan, dan meminta rencana pernikahan kami dibatalkan.

Terhitung hari itu, kami dipaksa mengakhiri hubungan kami.

 

 

Hadir Sosok Baru

pasangan cinta
ilustrasi pasangan/copyright Shutterstock

Bukan tanpa usaha untuk mengembalikan keadaan, saya dan pasangan tetap berusaha untuk mencoba memperbaiki hubungan kami yang jelas-jelas sudah tidak ada harapan itu. Sampai di satu titik, saya mendengar lirih permintaan ibu saya untuk mencari pasangan yang lain. Di situ saya merasa ini adalah hal yang tidak mungkin saya acuhkan begitu saja. Saya memutuskan untuk mengakhiri usaha yang saya pikir hanya akan sia-sia saja itu.

Mengenal laki-laki lain setelah membulatkan tekad dan keyakinan pada seorang laki-laki sangatlah tidak mudah. Namun, seorang laki-laki yang santun dan lemah lembut hadir di hidup saya tidak lama sejak saya memutuskan untuk membebaskan diri dari kesedihan.

Kesantunan dan kelembutan tutur kata dan perlakuannya mencuri hati saya, mungkin inilah jawaban dari doa-doa saya selama ini. Menariknya, kedua orangtua saya juga menerima dengan baik laki-laki ini hadir di hidup saya.

Tapi, ternyata hubungan kami tidak semulus yang diharapkan. Walau ia berniat untuk menikahi saya, tapi ia belum memiliki pekerjaan saat itu, sedangkan umurnya sudah berada di pertengahan 30. Usia yang sangat riskan untuk seorang pencari kerja kantoran. Kedua orang tua saya enggan melepas anak perempuan satu-satunya kepada laki-laki yang belum jelas masa depannya, dan saya memahami itu, karena tidak ada orangtua yang mau melihat anaknya hidup susah setelah menikah. Selama dua tahun saya tetap menjadi penyemangatnya untuk mencari pekerjaan.

Menikah

menikah batal
Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Hampir masuk ketiga hubungan kami, ia diterima bekerja di salah satu perusahaan dengan pendapatan yang terbilang cukup besar. Ia giat bekerja sampai 6 bulan kemudian, kontrak kerjanya tidak diperpanjang. Saat itu saya merasa seperti sedang jatuh seperti dulu. Dengan mengumpulkan keyakinan, ia kembali diterima bekerja di sebuah perusahaan. Perasaan bahagia campur aduk dengan sedih saat itu.

Dua bulan setelah bekerja, ia yakin untuk melamar saya secara personal kepada kedua orang tua saya. Kekhawatiran saya hanyalah penolakan kedua orang tua saya, karena ia baru mulai bekerja. Tapi ternyata kedua orang tua saya menerima dengan baik dan menjadwalkan untuk pertemuan keluarga untuk proses melamar yang lebih formal. Bahagia dan sedih menjadi pewarna khusus di malam ia melamar saya. Dan dengan uang seadanya, kami mengatur dan merencanakan pernikahan dibantu oleh saudara-saudara yang juga sangat mendukung pernikahan kami.

Di hari pernikahan, saya melihat mata dan wajah kedua orang tua saya yang bahagia bercampur sedih. Bahagia karena akhirnya anak perempuannya bisa menikah juga, dan sedih karena harus melepaskan tanggung jawab sebagai orang tua dan menyerahkan anak perempuannya kepada seorang laki-laki pilihan anaknya.

Saat ini, kami sudah hampir setahun menikah, dan sedang dalam rasa bahagia yang belum berakhir dan semoga tidak akan berakhir sampai sama-sama menutup usia.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓