Serba Salah dalam Melawan Catcalling pada Perempuan, Mengapa Demikian?

Anisha Saktian Putri26 Agu 2019, 16:30 WIB
Perempuan

Fimela.com, Jakarta Kasus pelecehan verbal atau yang sering disebut catcalling, nyatanya masih saja dirasakan oleh perempuan. Baru-baru ini, pemilik akun Twitter @atheabella menceritakan jika dirinya mendapatkan kekerasan verbal yang berujung pada kekerasa fisik.

Di akun Twitternya, ia menuliskan jika dirinya dan temannya mendapatkan catcalling dari para pria yang sedang ‘nongkrong’. Tentu, Athea Bella bersama temannya ini tak suka diprilakukan seperti itu. Alhasil, sang teman pun mengeluarkan kata ‘miskin ya’ untuk membela diri.

Segerombolan pria tersebut tidak terima akan perkataannya. Lantas Athea bersama temannya pun justru mendapatkan kekerasan fisik. Menurut Anindya Restuviani Co-Director Hollaback! Jakarta, kasus tersebut merupakan contoh nyata mengapa korban catcalling hanya bisa diam saja.

“Menurut saya ini adalah contoh konkret buat mereka yang suka nanya ke korban catcalling 'kenapa kok diam aja' karena hal-hal seperti yang ditakutkan terjadi,” ujar Anindya saat dihubungi redaksi Fimela.com.

Belum lagi ada perkataan, 'salah sendiri melawan.' "Makanya sangat serba salah jadi perempuan, diam saja disuruh melawan. Sudah melawan malah disuruh diam," tuturnya

Lalu bagaimana menyikapi permasalahan ini?

Perempuan
Ilustrasi perempuan bekerja/copyright shutterstock

Anindya mengatakan dalam kasus ini, pelaku patut dipersalahkan dan saksi yang hanya bisa diam tidak mengintervensi.

Menyikapi catcalling, menurutnya seperti tidak ada yang benar dan salah. “Kita udah jadi korban, untuk melawan adalah tanggung jawab saksi bukan korban. Kasus ini parah sekali dimana banyak saksi yang menyaksikan malah diam saja tetapi malah bilang 'gapapa berantem tapi jangan ribut,'” paparnya.

Anindya menyarankan sebaik jika ingin melawan catcalling hal yang diutamakan adalah keselamatan diri kita. “Tapi who knows? Mau kita sudah was-was namanya orang jahat pasti akan ada. Jadi sebaiknya, stop mengajarkan bagaimana perempuan harus begini-begitu,” ucapnya

Menurut Anindya, bukan tanggung jawab korban buat melawan. Pasalnya, perempuan yang mendapat catcalling sudah menjadi korban. Justru, tanggung jawab ini milik saksi. 

“Semua terserah korban mau ngelawan atau tidak. Karena tidak ada benar, tidak ada salah. Kita sudah jadi korban, masa mau dibebani tanggung jawab harus ini harus itu? Itu ga ada bedanya dengan menyalahkan korban. Tanggung jawab ada di saksi buat intervensi. Dia bisa kok intervensi secara langsung atau setidaknya ngamanin korban, lah. Laporkan ke pak RT mungkin. Atau ke pihak berwajib lainnya,” paparnya.

Jadi sebaiknya, menurut Anindya jangan selalu menyalahkan perempuan atau korban, lebih baik mulailah mengajarkan orang untuk tidak melecehkan dan menghargai sesama manusia.

Simak video berikut

#Growfearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓