Hadirnya Cinta Terkadang Mengabaikan Logika

Endah Wijayanti22 Sep 2019, 11:15 WIB
Galau

Fimela.com, Jakarta Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagian yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang. Seperti kisah Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Love Life Matters ini.

***

Oleh: Masriah - Bekasi

Seseorang mengundangku datang ke rumahnya. Aku menyinggahi rumahnya, berniat menikmati suguhan cokelat panas yang ia sudah sajikan. Nampaknya sengaja disajikan spesial untukku. Kata orang cinta itu menyenangkan. Sedangkan yang lainnya bilang kalau cinta itu menyedihkan. Kataku, cinta itu rumit.

Cinta menjelma zat yang tak aku sangka apa dan bagaimana rupanya, senyuman, air mata, cemburu, gelisah sampai rasa rindu. Cokelat panas itu jika diminum terburu-buru memang sulit dicerna kelezatannya. Nikmati saja dengan santai, hingga kamu menyadari cokelat panasmu adalah minuman kesukaanmu. Cinta itu istimewa sehingga sulit dimengerti bila kau tak mengistimewakan pengertiannya. Cinta memang sulit dimengerti sebabnya Tuhan memintamu menemukan seseorang yang dapat memberikan pengertian cinta yang sesungguhnya.

Lelaki yang menawan itu bernama Lupi. Januari tahun lalu adalah pertama kali kami bertemu. Mana bisa aku lupa dengan hari di mana ia memulai percakapan denganku, tanggal sepuluh bulan September pada tahun yang sama. Ketertarikanku dengannya kurasakan ketika aku berfoto dengannya. akung, sepertinya ia tak memiliki perasaan yang sama denganku. Aku mengartikannya, semudah ia tak membalas DM Instagram permintaan follow back-ku (tetapi dia mengikuti balik akunku). Lagi pula agaknya mustahil seorang lelaki hampir seperempat abad menginginkan remaja delapan belas tahun. Ya, saat itu usiaku 18 tahun dan dia 24. Selisih enam tahun itu cukup memberi jarak.

Baik aku maupun dia, tak menginginkan hubungan atas nama ‘pacaran’. Caranya mendekatkan diri kepadaku membuatku baper. Bagaimana tidak, ia terus mengusik soal lamaran seusai wisuda. Aku mahasiswa semester tiga dan belum memikirkan soal nikah muda. Nampaknya kami ingin hubungan yang lebih serius tetapi waktu saja yang belum tepat atau memang takkan pernah tepat. Kami tengah berpelukan. Hingga suatu hari ia melepaskan pelukannya dariku. Aku bahkan tak merasakan tubuhnya, apalagi jiwanya. Bagai kucing menjelang ajal, ia mendadak pergi. Aku terduduk di ruangku masih mendekap hangat aroma parfum yang tersisa darinya.

Sempat terpikir bila semua ini adalah sebuah kesalahan yang aku buat. Laki-laki dewasa memang takkan pernah berpikir akan bersama anak perempuan. Tanggal enam bulan Januari, aku menemuinya, meminta dan mengajaknya membicarakan apa yang sebenarnya terjadi pada diri aku dan dirinya. Obrolan dua jam itu berakhir dengan pertanyaan “Jadi, kamu maunya bagaimana?”

Mencoba Mengakhiri

Move On
Ilustrasi./copyright shutterstock

Aku kecewa pada bintang-bintang yang menghiasi malam itu dan cahaya bulan yang bukannya mengajak kami berdansa. “Ya sudah, sudahi saja,” kataku penuh emosi. “Jodoh itu enggak ke mana. Kita enggak pernah tahu masa depan akan seperti apa,” kata dia. Angin malam itu bahkan tak tega meniupkan udara dingin lebih banyak kepada perempuan yang menangis sepanjang perjalanan pulangnya. Perempuan itu tentu bukan aku, sebab aku tak ingin air mataku jatuh hanya karena perihal cinta kepada lawan jenis. Apalagi untuk seorang laki-laki yang meragukanku dan memilih perempuan lain.

Aku terbangun sembari mengulik kenangan semalam yang aku harap adalah mimpi. Ini nyata! Aku terpuruk! Merana, meratapi apa yang terjadi. Tidakkah kamu berpikir aku terlalu muda untuk kamu sakiti?

Hari-hari setelah ia tak menghiasi kehidupanku seakan terasa buruk. Padahal sebelum kehadirannya aku amat baik-baik saja. Berbulan-bulan lamanya aku berhasil menyibukkan diri. Mencoba melupakan seseorang yang pernah dicintai dan berhenti menuliskan segala tentangnya. Sesekali aku merindukannya. Rindu benar-benar tak bisa diatur dan tak tahu diri. Rinduku membuncah. Kukatakan pada diriku, “Perempuan harus bermartabat!” Perempuan yang mengungkapkan rasa rindu bukannya tidak bermartabat, hanya saja lebih baik aku memedamnya.

Dalam perjalanan menuju kebebasan diri dari rantai cinta yang mungkin mulai berkarat, aku menemukan seseorang yang baru. Tapi kau tahu tidak, meski aku bersamanya, tulisan-tulisanku tetap bercerita tentang Lupi. Senyum dan tawaku masih membayangkan wajah lelaki kelahiran Oktober itu. Seakan semesta mengusahakan rindu itu tak lenyap, setelah berbulan-bulan tidak berjumpa, aku kembali menatap mata yang membuat bulan kelahiranku menyedihkan. Tak ada sepatah kata yang keluar setelah aku ingat aku harus membencinya, agar menghapus perasaanku. Rasanya aku mau berlari tiap kali melihatnya, memeluknya sekejap lekas pergi meninggalkannya. Mengapa aku mau memeluknya? Sebab aku akan merasa menyesal jika tidak melakukannya.

Bulan Agustus kemarin, aku mendatanginya kembali. Sekadar ingin memberi kabar bahwa aku sudah baik-baik saja. Aku justru terperosok oleh jebakan yang semesta ciptakan. Saat itu, aku baru tahu dan menyadari bahwa ia memiliki perasaan yang sama dan tak ada orang ketiga di antara kami baik saat itu maupun saat ini. Menyesalnya, aku terlanjur memberitahukan soal orang ketiga dari pihakku yang hubungannya masih terjalin.

Lupi mengingatkanku untuk melepaskannya, melupakannya dan memfokuskan diri kepada pengisi hati yang baruku itu. Jujur saja, aku memutuskan kekasihku itu malam itu. Bukan karena Lupi. Benar kata temanku, aku hanya berusaha mencintai kekasihku itu. Aku tak pernah benar-benar mencintainya. Aku masih mencintai Lupi. Aku semakin menyadari bahwa aku tak bisa terus membohongi diriku dan berpura-pura baik-baik saja di depan semua orang.

Menikmati Kehadiran Cinta

Move on
Ilustrasi/copyright unsplash.com/@icons8

Hari-hari ceria yang sudah kurajut lagi, lagi-lagi runtuh karena rasa penyesalan yang datang dua kali lebih besar. Aku menyesal sebab aku belum menjelaskan tentang kekasihku itu. Aku menyesal sebab Lupi belum dapat mengetahui perasaanku saat itu. Perasaan menyesal itu terus dan selalu saja menghantui. Seseorang selain diriku sendiri menyarankanku untuk mengirimkan pesan kepadanya. Aku malu. Terlampau malu menggadaikan citra perempuan yang terkonstruksi.

Aku mendapatkan balasan pesan darinya, pada hari tepat setahun yang lalu aku membalas pesannya. Lupi memberi kesan dingin. Aku terus berusaha sebab aku tak ingin menyesal kembali. Malam pada hari itu, aku mendapatkan semua pernyataan yang aku inginkan darinya. “Jadi bagaimana dengan kekasihmu?” kalimat tanya itu rumit untuk dijawab tetapi membuatku sangat senang. Jujurlah padanya karena kamu jujur pada perasaanmu.

Soal jarak, jarak usia itu masih memberiku ‘pekerjaan rumah’. Logika perempuan 19 tahunku belum cukup menjangkau logika 25 tahunnya. Katanya aku sedikit egois tetapi dia tak mempermasalahkannya dan aku baru saja mencoba memahami egonya. Apa kamu pernah memiliki sebuah rasa yang tak dapat dimengerti manusia sehingga kau hanya menceritakannya kepada Tuhanmu? Kami bersujud di atas tanah yang berbeda tetapi kami berdoa kepada Tuhan yang sama.

Tuhan yang mendengar pengharapan akan bersamanya kami di masa depan. Tuhan, kami sedang mencintai. Jangan pernah ragu mulai bicara dan melakukan sesuatu lebih dulu hanya karena kamu seorang perempuan. Pahami perasaanmu, renungkan dan lakukan apa yang hatimu inginkan. Aku setuju, cinta kebanyakan tidak pakai logika. Kau mencintainya, jadi nikmati saja kehadiran cinta itu.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓