Ujian Terberat Pejuang LDR: Menjaga Cinta dengan Kesepakatan Saling Menunggu

Endah Wijayanti18 Sep 2019, 11:15 WIB
pejuang LDR

Fimela.com, Jakarta Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagian yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang. Seperti kisah Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Love Life Matters ini.

***

Oleh: Dosni Arihta - Denpasar

Berpisah untuk akhirnya Kembali

Juli 2007.

Bertemu dengan dia untuk pertama kalinya di stasiun Tawang, Semarang. Waktu itu dia datang dari Jakarta, naik kereta api ke Semarang untuk berkuliah. Aku ikut menjemputnya karena diajak teman. Dia, adalah teman dari temanku. Kami berkenalan, akrab, bersahabat, lalu akhirnya menjadi begitu dekat.

Juli 2010.

Berpisah kembali di stasiun Tawang. Berjauhan jarak dengan dia bukan karena keinginan hati, namun karena ingin menggapai mimpi. Dia, kekasih yang lebih dahulu lulus dan ingin bekerja di Jakarta, dan aku yang masih berjuang dengan skripsi saat itu di Semarang.

Juli 2011

Jarak yang membentang semakin jauh. Aku yang sudah lulus dan rindu kembali ke kampung halaman di Bali. Dia datang mengunjungi dari Jakarta ke Semarang untuk mengantarku pulang. Kami berpisah sambil berjanji untuk bertemu kembali suatu saat nanti.

Juli 2011- hingga 2015

Perjalanan panjang selama lima tahun berjauhan jarak. Rasa rindu seperti sebuah kisah jemu antara dia dan aku. Sebuah tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik menjadi satu-satunya tumpuan harapan agar kami berdua dapat tetap menjaga hati dan hubungan. Hubungan jarak jauh sungguh ujian terberat bagiku. Saat aku ada di tempat baru, bekerja dan bertemu dengan orang-orang baru, dan dia tidak ada di situ. Hubungan jarak jauh menjadi cobaan yang terus menerus membuatku ragu. Tuntutan ego agar dapat bersama, namun realitanya tidaklah sama.

Berkali-kali menangis karena rindu tak tertahankan. Berkali-kali berselisih paham karena komunikasi tak selalu lancar. Berkali-kali berencana untuk bertemu namun seringkali gagal. Dia bercerita tentang teman-temannya yang tidak kukenal. Dan ceritaku tentang pekerjaan yang mungkin juga tidak dia pahami. Berkali-kali aku ingin menyerah, karena dia tak kunjung memberikan kepastian. “Tunggulah, aku akan datang ketika keadaanku sudah lebih baik,” katanya. Kata orang, sebuah tindakan cinta yang terbesar adalah ketika menunggu. Sebuah tindakan aktif untuk terus memelihara rasa cinta namun kita diminta untuk diam dan tidak melalukan apa-apa. Apakah sesuatu akan terjadi jika kita terus menanti? Pikiran itu terus berkecamuk dalam benakku.

Kami pernah bertemu beberapa kali selama berjauhan jarak tersebut. Pada tahun 2013 di Bandung selama beberapa hari. Di sana kami berdebat hebat. Aku yang menuntut kepastian, dan dia yang menuntut kesabaran. Setelah berbicara banyak hal, akhirnya kami bersepakat.

Berjuang dengan Jarak Terpisah Jauh

LDR
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Kami berdoa bersama dan menyampaikan keinginan kami kepadaNya. “Aku akan datang menyusulmu jika memang itu yang kamu mau," kataku waktu itu. Pasti tidak akan ada yang terjadi jika kami terus berjauhan jarak dan waktu. Dia membutuhkan waktu, demikian pula denganku. Kami kembali ke kota masing-masing. Berjuang untuk mengejar mimpi masing-masing. Komunikasi kami menjadi lebih baik setelah pertemuan tersebut.

Pertemuan berikutnya adalah pada penghujung tahun 2014, dan memasuki awal tahun 2015. Dia datang mengunjungiku yang tinggal di Bali. Aku memperkenalkan dia kepada keluarga dan kerabat secara resmi. Respons orangtua tidak terlalu baik saat itu. “Kenapa harus jauh-jauh sih? Memangnya di sini tidak ada?” “Kampungnya jauh sekali di Sumatra? Bagaimana nanti acara pestanya? Mau dibuat di mana?” Banyak pertanyaan terbesit karena memang jarak kami yang terlalu jauh.

Aku dan keluargaku tingga di Bali, sedangkan keluarganya tinggal di Sumatra. Aku pun memutuskan untuk bekerja di Jakarta karena menurut kami berdua, kelak ketika kami sudah berumah tangga, akan lebih baik jika kami hidup mandiri dan tidak bergantung pada keluarga. Aku setuju dengan pemikirannya. Akhirnya pada pertengahan tahun 2015, aku pindah dan bekerja di Jakarta.

Persiapan kami cukup alot untuk menuju ke kursi pelaminan. Pertemuan keluarga dibumbui dengan selisih pendapat mengenai tata cara dan kesepakatan sinamot (mahar). Setelah pertemuan keluarga di penghujung tahun 2015, akhirnya kami bersepakat untuk melangsungkan acara pernikahan pada pertengahan tahun 2016.

Tantangan saat ujian pernikahan pun terus datang silih berganti. Kami menabung sedikit demi sedikit untuk memenuhi segala keperluan. Semangat untuk bekerja menjadi berapi-api karena kami tak lagi sendiri-sendiri. Kencan sederhana terasa manis karena dapat bertatap muka satu dengan yang lainnya. Hubungan kami semakin kuat karena komunikasi yang dahulu sebatas haha-hihi, kini lebih membahas mengenai rencana pernikahan dan bagaimana kehidupan rumah tangga kami nanti.

Menjaga Kesetian dan Membangun Cinta

LDR
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Juli 2016.

Dan di sini ah kami. Di bandara Kualanamu, berangkat menuju Jakarta, sebagai sepasang suami istri. Perjalanan kisah cinta yang amat panjang. Mungkin tidak indah ataupun manis. Bukan pula hendak menyimpulkan bahwa setiap hubungan jarak jauh pasti akan berhasil. Namun dari setiap jarak yang membuat hubungan kami rapuh, tak luput doa kami sertakan agar hubungan kami tetap utuh.

Memang, ada yang berakhir bahagia, dan ada pula yang akhirnya harus berpisah. Adik saya contohnya, berpacaran selama enam tahun, tinggal di kota yang sama, namun akhirnya kandas juga. Sedangkan saya dan suami, sebelum menikah, kami berpacaran selama 8 tahun dan 5 tahun di antaranya adalah hubungan jarak jauh.

Ada pula kisah orangtua saya, yang tidak pernah berpacaran, karena dulu dijodohkan, dan sampai kini tetap akur-akur saja selama 35 tahun lebih usia pernikahan mereka. Setiap kisah, pasti akan menemukan jalannya masing-masing. Terkadang kita akan menjumpai perpisahan, mungkin karena dia bukan orang yang tepat, atau mungkin pula karena waktunya yang belum tepat. Siapa yang tahu?

Well, bagaimanapun perjalanan kisah cintamu, jangan lupa sertakan doa ya. Karena hanya hikmat dari Sang Pencipta lah yang dapat membuat kita mengerti, siapakah yang benar-benar tepat di hati.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓