Tak Ada Hati yang Baik-Baik Saja setelah Dikhianati

Endah Wijayanti24 Sep 2019, 07:45 WIB
kepribadian

Fimela.com, Jakarta Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagian yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang. Seperti kisah Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Love Life Matters ini.

***

Oleh: Vero - Medan

Aku mengenal Dion di Unit Kegiatan Mahasiswa di kampusku. Dia seorang yang ramah, supel, gaul, dan punya banyak teman. Sedangkan aku adalah kebalikan dari sifatnya. Aku pemalu dan hanya punya sedikit teman.

Aku dan Dion aktif di UKM pecinta alam. Itu satu-satunya persamaan di antara kami. Sering naik gunung bersama membuat kami dekat dan memutuskan untuk pacaran. Walau beberapa teman menganggap dia seorang playboy dan mantannya di mana-mana, tapi aku tidak peduli. Dia baik, dia mencintaiku, dan aku mencintainya. Itu sudah cukup.

Di tahun kedua kami berpacaran kami berdua lulus dari kampus kami. Dion memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Jogja dan bekerja di salah satu bank swasta. Aku memutuskan bekerja di Jakarta.

Menjalin hubungan jarak jauh dibutuhkan kepercayaan yang penuh. Hanya itu saja. Sebulan sekali dia datang ke Jakarta. Aku dilarang datang ke Jogja menemuinya karena menurutnya itu tidak sopan wanita mengunjunginya. Aku mencoba menerima penjelasannya. Selama setahun LDR aku percaya padanya bahwa dia setia padaku. Tahun keempat pacaran aku mulai merasa ada yang tidak beres. Kunjungannya sebulan sekali berubah jadi kunjungan tiga bulan sekali lalu berubah jadi enam bulan sekali.

Merelakannya

perempuan putus cinta
ilustrasi./Photo by jing xiu on Unsplash

Suatu hari dia memintaku datang ke Jogja, dengan alasan dia terlalu sibuk dan tidak punya waktu datang ke Jakarta. Aku menyanggupi berangkat ke Jogja. Dalam hati aku berpikir mungkin Dion akan membicarakan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius. Berbekal alamatnya aku dengan mudah menemukan rumahnya dengan menumpang becak dari Stasiun Tugu. Ada ayah dan ibunya yang menyambutku di rumahnya dengan perasaan bingung seolah aku orang asing. Aku mengenalkan diri sebagai teman Dion selama di kampus. Dion tidak menceritakan tentangku kepada orangtuanya tidak sepertiku yang menceritakan segala hal tentang Dion ke orangtuaku.

Sembari menunggu Dion pulang kerja mereka menceritakan tentang pernikahan Dion dalam beberapa bulan lagi. Yati, salah satu putri dari teman ayahnya Dion. Aku mencoba tersenyum sambil menahan ada butiran kristal menetes dari mataku. Aku buru-buru pamit ingin mencari penginapan sebelum malam tiba.

Aku menyendiri di pedagang angkringan di Jalan Malioboro sambil menunggu kedatangan Dion. Keramaian dan alunan suara merdu pengamen tidak sanggup menghiburku. Aku rapuh tapi mencoba untuk kuat. Dion menemuiku menjelaskan segalanya. Dia minta maaf telah melukai hatiku dan menjalin kembali hubungan dengan seseorang dari masa lalunya. Aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata lagi. Aku pergi meninggalkan keramaian Jalan Malioboro dengan hati yang patah. Kembali ke penginapan dan menangis sambil menunggu kereta keesokan harinya. Malam, cepatlah berlalu.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓