Mencintai Dua Orang di Waktu yang Bersamaan Tidaklah Benar

Endah Wijayanti26 Sep 2019, 11:45 WIB
mencintai dua orang

Fimela.com, Jakarta Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagian yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang. Seperti kisah Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Love Life Matters ini.

***

Oleh: Starr - Jakarta

The Love You Give

Lamunanku melayang saat pertama bertemu dengannya, dia lelaki yang aku kenal via media sosial. Dan benar dia sesungguhnya bukan lelaki yang abal-abal menggunakan foto orang lain agar lebih menarik lawan jenis untuk berkenalan. Cukup rapi dan santun, dengan gentleman berpamitan kepada tanteku untuk mengajakku keluar makan di saat pertemuan pertama kami saat itu. Jarak rumah dan kost-an dia tidak cukup dekat, tapi dia berniat sekali menjemputku.

Malam itu habis dengan tak terasa karena kami bisa nge-blend satu sama lain, padahal dunia kami jelas berbeda. Dia yang anak seni dan aku anak pariwisata. Tapi kami layaknya teman yang sudah kenal bertahun-tahun yang lalu. Dari obrolan tentang film Box Office, harga rental VCD kala itu masih hip di antara anak kost sampai lagu-lagu hits band yang jarang orang tahu dan kami merasa sangat klik satu sama lain. Pertemuan itu berlanjut ke janjian nge-date dan aku ditembak di tengah jalan di saat traffic light. Sampai-sampai mobil di belakang kami mengklakson tak sabar karena kami tidak juga jalan setelan lampu menyala hijau. Saat dia bilang, “Mau nggak jadi pacarku?” aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Tangannya meremas lembut tanganku.

Bertahun-tahun kami menjalani hubungan ini tanpa ada halangan berarti. Paling parah juga ngambek dan saling diam beberapa waktu hanya karena dia bosan dengan kebiasaan aku bilang terserah diajak makan di mana tapi kalau diajak ke tempat yang dia mau, aku urung makan malam. Kadang perempuan memang tidak begitu konsisten dengan apa yang diucapkannya.

Dia begitu baik dan tulus menyayangiku. Rasanya cuma dia yang bisa mengerti dan melimpahi dengan kasih sayang yang aku harapkan. Dengan rela setiap aku pulang shift malam, dia menjemputku membelah malam yang seharusnya dihabiskannya di peraduan. Memastikan aku pulang dengan selamat dan bisa tidur nyenyak setelah menutup teleponnya. Dia yang membangunkan aku saat jam sahur dan kadang juga membelikan aku makanan untuk sahur saat aku tinggal di kost-an. Meskipun dia tidak melaksanakan puasa. Dia juga yang selalu ada di sisiku ketika aku menangis sedih karena drama keluargaku. Kadang aku merasa tidak cukup membalas cintanya. Tapi dengannya aku merasa cukup, aku tidak membutuhkan apa pun di dunia ini selain dirinya, selama dia masih ada bersamaku.

 

Menjalin LDR

Cara Meredakan Pertengkaran Khusus Buat Pasangan LDR
Ilustrasi./(Foto: pexels.com)

Hingga akhirnya kami terpisahkan karena dia mendapatkan penempatan dinas di luar pulau. Ini membuat kami harus menjalani long distance relationship walaupun masih ada di wilayah negara yang sama. Semua berjalan baik hampir dua tahun lamanya. Banyak yang kami lakukan untuk melepas kerinduan. Sudah pasti kami bertukar cerita setiap hari lewat telepon.

Waktu itu masih heboh BBM, jarang sekali yang pakai WA dan video call seperti sekarang ini. Yang lucu saat bulan purnama kami saling menelepon dan memandang ke arah langit yang sama. Keromantisan yang receh dan tidak jelas buat orang lain, tapi justru obrolan absurd kami selalu bisa memancing tawa satu sama lain. Kadang dia sempatkan pulang menemuiku dua kali dalam satu tahun setelah mengumpulkan cutinya dan pernah satu waktu aku menemuinya di sana. Terbang ke pulaunya perlu niat dan usaha karena delay-nya bukan main. Aku sangat rindu, apa pun akan aku lakukan untuk bisa memeluknya, mencium wangi parfumnya, mendengarkan musik dengan earphone yang sama dan menghabiskan waktu bersama.

Situasi ini sebenarnya kurang menguntungkan buat kami juga merupakan ujian yang sanggup atau tidak untuk kami selesaikan. Kejenuhan, jarak, keterbatasan waktu semakin lama tak bisa dielakkan sehingga kami kurang intense berkomunikasi. Di saat yang hampir bersamaan dia mendapatkan promosi jabatan dan aku memulai karier di dunia kerja yang baru. Kadang kami berpikir ini bisa kok survive meskipun kami tidak pernah punya target kapan ini akan berujung. Kami tahu perasaan ini akan selalu sama perkara dicintai-mencintai, tapi untuk saling mengalah di hal yang sangat prinsipil itu sulit. Karena ini masalah kami menghadapi dunia dan takdir.

Apakah aku yang terlalu menuntut? Apakah aku yang kurang bersyukur? Apakah aku lelah dengan rutinitas? Entah apa yang menyebabkanku dekat dengan seorang lelaki yang kembali hadir dalam kehidupanku. Dia teman lama yang hadir kembali. Mungkin iya aku merasa kesepian, setelah berkutat dengan kesendirianku pasca LDR. Aku merasa punya seseorang yang aku sayang tapi antara ada dan tiada. Ada hanya via suara dan tiada karena secara fisik tak lagi ada di sisiku.

Tak Bisa Terus Melukainya

LDR
Ilustrasi/copyright pexels.com/freestocks.org

Perlahan aku semakin terlena dengan perhatian yang lebih denganku saat ini. Dan lagi orang tua kami tak juga memberikan lampu hijau untuk ke jenjang yang lebih serius. Padahal kalau dipikir-pikir dengan jangka waktu segitu cicilan mobil sudah lunas. Kami saling bicara, introspeksi diri dan saling bicara jujur kemana arah yang kami inginkan. Coba menyelesaikan semua dengan kepala dingin dan dewasa. Dia masih dengan sangat baik dan memperlakukanku penuh kasih sayang.

I couldn’t agree more with Mr. Johnny Deeps’ quote: “If you love two people at the same time, choose the second. Because if you really love the first one, you wouldn’t have fallen for the second.”

Malam dia berucap, “Kamu pasti bisa mencintainya seperti aku mencintaimu tanpa tapi,” adalah malam yang terberat yang pernah aku lalui. Air mataku terus menetes dan tidak mau berhenti selama beberapa hari. Walaupun ada seseorang yang dekat menemaniku, rasanya tak lagi sama. Aku patah hati. Aku tahu aku melakukan kesalahan besar, tapi aku menyadari aku tak bisa menggenggamnya erat karena semakin erat semakin luka yang aku dapat. Logika dan perasaanku tidak sinkron kala itu. Aku mencintainya tapi aku juga melukainya. Dan ternyata aku pun terluka lebih dalam dari yang bisa aku duga.

Masing-masing dari kami menjalani kehidupan sesuai jalan yang sudah ada. Kami benar-benar putus hubungan menutup semua jalur komunikasi supaya bisa fokus dengan apa yang kami punya. Sesekali kami saling menengok laman media sosial yang tidak di-private tapi tak saling like atau berkomentar. Ada percik yang mungkin mudah terbakar jika kami mematiknya. Dan kami tahu diri, untuk tidak memulainya. Saling mendoakan untuk kebaikan satu sama lain akan lebih baik jika diucapkan dalam keheningan.

Cinta itu tulus, cinta tidak pernah serakah dan rakus, cinta tertinggi adalah pengorbanan melepaskan seseorang yang paling dicintai, disayangi, si jantung hati berbahagia dengan orang lain. Dan mencintai dua orang di waktu yang bersamaan tidaklah benar, tidak pernah adil untuk pihak manapun, karena itu membiarkan dia pergi menjadi satu-satu pilihan yang terbaik untuk semua pihak. Mungkin benar Tuhan mentakdirkan aku lahir untuk mencintaimu tapi tidak untuk memilikimu. Hai kamu di sana, berbahagialah!

Jakarta, 26 September 2019

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓