Hubungan Jarak Jauh Menjadikan Pasangan Lebih Dewasa Satu Sama Lain

Endah Wijayanti30 Sep 2019, 08:15 WIB
hubungan jarak jauh berhasil

Fimela.com, Jakarta Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagian yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang. Seperti kisah Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Love Life Matters ini.

***

Oleh: A - Medan

Tujuh tahun. Tujuh tahun menjalin hubungan dengan pria yang berjarak ratusan kilometer jauhnya. Aku ingat bagaimana semesta baik sekali mempertemukan kami. Aku saat itu masih mahasiswi yang kebetulan sedang menjalani kegiatan Praktik Kerja Lapangan di tempat ia bekerja. Lucu rasanya kalau diingat. Saat itu kami bahkan tidak pernah saling sapa.

Sampai suatu pagi, di minggu terakhir masa praktikku, aku bertemu tanpa sengaja dengannya. Pagi hari ketika ia sarapan dan aku sedang iseng membantu ibu tetangga sebelah tempat aku sementara tinggal, menjaga anaknya yang sedang tidur. Aku masih ingat bagaimana dia menanyakan nomor handphone dan aku ogah-ogahan menyebutkan. Setelah itu tidak ada percakapan sama sekali.

Setahun setelah aku PKL, ada nomor asing yang aku tidak tahu tiba-tiba menghubungi. Gaya bicaranya yang super tengil dan aku yang judes kalau ngomong sama orang baru yang SKSD (sok kenal sok dekat). Obrolan singkat berubah menjadi obrolan panjang sekali setiap ia menelepon. Aku cukup tertarik dengan selera humornya yang receh tapi menghibur itu. Herannya lagi, ia malah menjodohkan aku ke temannya. Ternyata yang namanya “anugerah mak comblang” itu nyata, kalau yang dijodohkan justru jadian dengan mak comblangnya. Aku ingat itu tahun 2012. Kami belum pernah benar-benar “bertemu” satu sama lain. Pertemuan setahun lalu jelas aku sudah lupa. Aku juga masih ogah-ogahan kan.

Tahun kedua kami jadian, barulah ada kesempatan bertemu. Ia datang ke kotaku, khusus bertemu denganku. Aduh, itu rasanya nano-nano. Antara deg-degan, tapi senang. Pertemuan pertama kami benar-benar canggung. Setelah berjabat tangan, kami berdua tertawa bersamaan, sambil garuk-garuk kepala. Manis banget sih kamu kalau malu-malu gitu. Kalau kami ingat lagi rasanya aneh sekali cara kita dipertemukan. Dan kami benar-benar nekat menjalani hubungan hanya lewat telepon dan pesan singkat saja.

Tahun berlalu, kami semakin yakin satu sama lain. Pernah beberapa kali goyah karena jarak ternyata membuat segala sesuatunya lebih sulit berkali-kali lipat. Kadang obrolan lewat tulisan pun, bisa jadi salah paham. Ada waktu di mana kami berdua merasa hubungan ini tidak nyata. Tapi, sejauh apapun kami berdua coba pergi, selalu kembali di titik yang sama lagi. Di titik yang ada kami berduanya.

Jarak membuat tabungan rinduku semakin menggila. Kalau rindu bisa dirupiahkan, aku sudah jadi salah satu orang terkaya di negara ini. Jarak juga membuat kami belajar untuk percaya satu sama lain. Bahwa, aku menjaga hatiku di sini untuknya dan dia juga berlaku sama di sana. Terkadang ketika bertengkar, ingin sekali langsung berhadapan dengannya. Menyelesaikan masalah sambil saling tatap. Kalau pun aku nanti yang akan menangis, aku tahu dia akan buru-buru memeluk dan meminta maaf.

 

 

Menjadi Semakin Dewasa

pejuang LDR
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Makistock

Sampai kami akhirnya mempertanyakan mau kemana hubungan ini. Umur sudah semakin bertambah. Semuanya berjalan sangat cepat. Tidak mungkin aku hanya menunggu bertahun-tahun untuk sesuatu yang tidak jelas ujungnya. Dan ia pun memutuskan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Ia memintaku memperkenalkannya dengan keluargaku. Aku membawanya ke rumah untuk bertemu dengan kedua orangtuaku. Dia sempat gugup begitu sampai pagar rumah. Bolak-balik menarik napas. Aku tertawa melihat rasa cemasnya. Ia terkadang merasa rendah diri karena perbedaan jenjang pendidikan kami. Tapi, percayalah. Ia jauh lebih baik dari pria-pria bergelar di luar sana. Bahkan ia jauh lebih baik dari aku. Orangtuaku memang menerimanya dengan baik. Ia disambut ramah. Namun, bukan berarti orangtuaku langsung menyetujui semuanya.

Butuh bertahun-tahun meyakinkan ayah dan ibu, kalau ia memang pria yang pantas menjadi pendamping putri mereka ini. Ia mulai berani mengakrabkan diri dengan ibu dan ayahku, kedua adikku. Senang sekali akhirnya ada lampu hijau dari mereka. Jarak saja sudah cukup berat, masa harus ditambah masalah restu lagi. Aku pun dipertemukan dengan keluarga besarnya. Ia mengajakku berkunjung ke kotanya untuk bertemu keluarga besarnya. Benar-benar keluarga besarnya. Sampai ke sepupu dan keponakannya. Ia perkenalkan aku sebagai calon pendampingnya. Kali ini aku yang jantungan. Aku pikir hanya akan bertemu dengan keluarga inti saja.

Semuanya berjalan lancar sejauh ini. Sekali dua kali kami mungkin tidak sepaham, tapi kami belajar menurunkan ego dan mengalah. Kadang juga sepakat untuk tidak sepakat. Dalam jarak, kami juga belajar berkali-kali lipat tentang suatu hubungan. Jarak bukan jadi penentu suatu hubungan akan berhasil atau tidak. Jarak hanya angka dan suatu saat angka tersebut bisa kembali ke 0. Walaupun tidak mudah, tapi kami belajar untuk tetap saling menggenggam meski sedang lelah-lelahnya dihantam rindu. Kalau banyak yang bilang LDR hanya untuk mereka yang dewasa, tapi untuk kami LDR justru menjadikan kami pribadi yang lebih dewasa untuk satu sama lain.

 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓